Sejak segalanya patah, hatiku dipenuhi sembilu. Dadaku penuh dengan luka-luka menganga sebab cinta. Entah, mengapa dia melukai lalu pergi dengan sengaja. Sejak saat itu pula, aku harus membunuh setiap rinduku dengan tega. Melupakan? Adalah langkah berat yang harus ku mulai. Menghapus setiap kenangan dan berpura-pura terlihat baik-baik saja.

Tak terhitung berapa kali aku bermain-main dengan perasaanku sendiri. Berpura-pura menjatuhkan hati, dan akhirnya aku menjadi pihak yang menyakiti. Sejak patah hati, rasanya tiada selera untuk mencinta. Aku mulai melupa caranya untuk percaya pada seorang pria. Hari, bulan, hingga tahun adalah lamanya aku mendamba. Berharap suatu saat dia akan menengok ke belakang, melihat sisi yang sama dan jatuh cinta pada wanita yang sama. Pengharapan yang terlalu besar namun menyakitkan itu membuatku sadar. Mau tidak mau aku harus terus berjalan.

Advertisement

Hai kamu. Apakah kau ingat bagaimana cara kita bertemu? Aku ingat, karena kita bertemu tanpa sengaja dan aku hanya sekadar merasa biasa. Saat itu, aku masih sendiri dengan luka-luka hati yang masih berusaha ku obati. Cukup bagiku tahu namamu dan mengira-ira berapa banyak terbilang umurmu. Menurutku, kau tidak memperhatikanku kala itu. Untuk pertemuan yang kesekian, dengan ketidaksengajaan kita dan merupakan kesengajaan Tuhan, aku masih merasa biasa. Sangat biasa. Aku bertaruh saat itu kau bahkan tidak tahu siapa namaku. Dirimu masih sama, terlihat tidak peduli dengan hadirku. Tak mengapa. Tiada sapa antara kita, meski aku tahu tentang dirimu meski hanya sekadar nama.


Hingga suatu ketika, rencana Tuhan begitu indah untuk dua insan manusia. Lagi, aku bertemu denganmu. Tiada gelagat aneh dalam hatiku. Terlampau biasa. Sangat biasa. Dua hari bersamamu kala itu berhasil mengubah cara pandangku. Aku menyadari bahwa dirimu tak seperti apa yang ada dalam pikiranku pertama kali saat kita bertemu. Kau tak seburuk apa yang terlintas dalam benakku.


Waktu mulai berjalan. Tak butuh waktu lama, kau ungkap kata cinta. Kau bilang, kau jatuh cinta padaku saat pertama kali bertemu. Aku terheran-heran dengan perasaanku, mengapa aku begitu mudah menaruh percaya padamu. Hati yang masih terbalut luka-luka, menyambut sosok baru. Ya, itu dirimu.

Advertisement

Aku menyadari, ada banyak kesamaan sudut pandang antara kita. Meskipun segalanya tak menutup banyak perbedaan yang ada. Kita selalu menyeimbangkan langkah kaki lalu saling melengkapi. Kau bahkan selalu mencoba untuk memahami dan mengerti, tentang sosok aku yang mencoba membuka hati seusai tersakiti. Banyak hal yang kita bicarakan. Tentang impian-impian, tentang masa depan.

Kamu, kamu yang apa adanya. Kau selalu mengkhawatirkan tentang sifatmu yang tidak romantis. Kamu yang selalu mengkhawatirkan tentang perbedaan usia kita, dan kamu yang selalu takut kehilangan diriku. Adalah dirimu, sosok yang meyakinkanku untuk selalu percaya semua akan baik-baik saja. Adalah kamu, sosok yang selalu ku rindu dan nama yang selalu ku panjatkan dalam doa.


Untukmu, lelaki yang bahunya kelak akan kugunakan untuk bersandar. Aku ingin berjuang bersamamu. Menata masa depan. Menikmati segala proses yang ada. Terjatuh dan bangkit bersama. Menghadapi segala rasa yang ada. Menemukan teman untuk tumbuh, menghalau jenuh. Untukmu, lelaki yang akan mendampingiku, tetaplah di sampingku karena aku ingin melalui banyak hal denganmu.


Kau bilang, kau tak mampu dalam berkata-kata maupun merangkai kata. Sama halnya denganku. Jika dirimu membaca tulisanku ini, aku ingin mengakui aku menulisnya dengan sepenuh hati. Terima kasih untuk selalu ada, menganggap hadirku ada, dan dia membuatku merasa dibutuhkan. Terima kasih untuk selalu memahamiku, memperlakukanku sebagai perempuan dengan baik, yang tak ragu mengungkap rindu dan tak membuatku banyak menunggu. Terima kasih untuk selalu membuatku merasa beruntung menjatuhkan hatiku padamu dan kini memilikimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya