Untukmu Nomor Punggung 17, Kamu Sudah Tahu Perasaanku Padamu Tidak Pernah Berubah

Suaraku, yang tak pernah bisa ku suarakan.

Ketika itu, siang hari sangat terik seakan semuanya terlihat terlalu terang hingga tak mudah lagi aku untuk berdiam diri di tengah keramaian. Aku terus berjalan tak tentu arah, berbelok ke kanan namun tidak kutemui tempat untuk beristirahat. Berbelok ke arah kiri, tak ku sadari aku tersandung sampai aku menyadari bahwa sedari tadi aku melamuni diriku sendiri. 

Advertisement

Setelah aku tersadar, sedari tadi aku hanya melamun akhirnya aku putuskan untuk segera pulang. Namun, ku urungkan niat kembali, dan tetap berdiam diri namun kini ditemani segelas kopi. Sambil melihat mereka yang memesan aku terus berpikir dengan apa yang terjadi pada diriku. Apakah selama ini aku salah membuat keputusan untuk kembali membuka hati?

Akhirnya, aku tersadar karena tak terasa kopiku sudah tinggal 1 cm saja isinya. Aku berfikir untuk segera kembali ke rumah kos, namun aku urungkan kembali. Saat itu sudah pukul 20.00 WIB, aku putuskan untuk mencari makan di tempat yang memiliki waktu lebih lama menuju waktu tutupnya. Aku segera memesan makanan, salah satunya kentang goreng. Lalu apa yang aku lakukan? Aku hanya memakan kentang sambil melamun.

Kebingungan melandaku selama beberapa hari, bahkan berminggu-minggu, dengan banyak pertanyaan bermunculan apakah aku ini pantas untuk dicintai kembali?. Aku merasa bahwa aku ini adalah seseorang yang rusak, dari segala hal sehingga tak pantas dimiliki siapapun atau bahkan disayangi. Sampai akhirnya, aku menyadari ketulusan seseorang kepadaku. 

Advertisement

Kini kami menjadi sepasang kekasih, yang tentunya saling mencintai bahkan terkadang saling tak mengerti tentang diri kami. Baik itu masa lalu masing-masing atau kehidupan nyata yang sedang dijalani. Mungkin, saat ini keadaan yang berbeda sedang aku dan dia jalani, hal bernama Quarter Life Crisis datang secara mendadak ke kehidupanku tentunya dia juga.

Hari demi hari, terasa hampa tanpa dirinya tetapi aku sungguh berlebihan dalam hal ini. Padahal aku seharusnya mengerti bahwa dia butuh waktu untuk dirinya, menyembuhkan dirinya. Aku disini hanya bisa memberi support meskipun terkadang hal yang aku lakukan dibalas dengan hal yang menyakiti hatiku. 

Aku berdo'a, agar hal ini mampu aku dan dia lewati secepatnya. Tau kenapa? Agar aku mampu melihat senyumnya lagi yang mampu menenangkan diriku. Ini untukmu, pemain futsal dengan nomer punggung favoritnya yaitu 17. Semoga kamu, bisa melewati ini dan kamu sudah tahu bahwa perasaanku kepadamu tidak pernah berubah. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Salah satu sihir yang aku hafalkan saat di Hogwarts adalah "Winggardium Leviosa" tapi aku adalah seorang Slytherin. Sejak saat itu, mereka memanggilku si setengah darah slytherin "Half Slytherin"

CLOSE