Kamu, orang yang kini selalu menghantui pikiranku, tak pernah mengenal tempat dan waktu. Dulu aku berpikir bahwa aku bisa menjaga perasaanku agar tak jatuh cinta padamu. Terlalu naif memang, melihat persahabatan kita yang seolah-olah tanpa jarak lagi. Akupun pernah menganggapmu sebagai saudara, toh mungkin juga kaupun begitu.

Namun semua itu hanya masalah waktu. Hatiku tak lagi kuat menahan rasa itu. Seperti pepatah jawa “Witing tresno jalaran soko kulino”, Begitu pun aku padamu. Kini aku mulai berangan-angan liar, ingin sekali meminangmu untuk jadi ibu dari anak-anakku.

Advertisement

Terkadang harapan tak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Aku yang begitu menginkanmu tak bisa berbuat banyak karna terbentuk tembok bernama perbedaan. Banyak yang membedakan kita, aku tak tahu, apakah anganku untuk bersama denganmu bisa saling melengkapi, atau sebuah kemustahilan yang tak terdefinisi. Ah, mungkin terlalu banyak kekuranganku dibanding kelebihanmu. Walau kata orang cinta itu buta, cinta tak memandang kasta, tapi aku yakin cinta tahu mana yang layak dan mana yang tidak.

Hingga akhirnya, aku hanya bisa merenung dalam kebisuanku. Aku terlalu takut, jika kuungkapkan padamu, itu hanya menjauhkan, ah bahkan mengakhiri persahabatan kita. Kini izinkanlah aku, untuk senantiasa menyelipkan namamu dalam setiap untaian doaku. Masih terus berharap kau menjadi pendampingku kelak, di sini di dunia fana sampai nanti di surga yang abadi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya