Berbulan-bulan aku menjalaninya. Terjebak dalam takdir gila yang aku ciptakan sendiri. Menjalani cinta yang aku sebut sebagai kebodohan luar biasa yang pernah aku lakukan.

Advertisement

Awalnya aku kira ini tak akan lama. Jejaknya akan terhapus seiring berjalannya waktu. Angkuhku mengatakan bahwa aku cukup rasional dan cerdas untuk tak terjebak dalam kebodohan ini sampai terlalu jauh. Pengalaman ku soal cinta mungkin saja membuat ku tak mungkin jatuh cinta lagi.

Ya, aku naif. Belakangan aku merasakan hal tidak biasa dalam relung hatiku. Merasa bahwa aku membutuhkannya setiap waktu, dan melihatnya menjadi semacam kokain yang menenangkan dan menimbulkan efek candu. Seakan tidak ada waktu untuk tidak memikirkannya.

Aku menjadi sangat-sangat buta, melakukan hal-hal yang sangat bodoh, hanya untuk melihatnya bahagia meski itu merusak diriku sendiri. Aku gila, aku tahu betul dia bukan pria baik-baik. Aku tahu betul dia sudah milik orang lain, bahkan dalam sebuah ikatan yang menurut kepercayaan ku hanya bisa dipisahkan oleh Tuhan.

Advertisement

Aku tahu betul dia seseorang yang tidak pernah puas dengan satu wanita dan tidak pernah jujur dalam sebuah hubungan. Aku tahu betul bahwa jangankan rasa ingin memilikinya, untuk sekedar menyayanginya saja itu sudah sebuah kesalahan besar. Namun aku melakukannya.

Aku tidak dapat berbohong, ada pedih yang ku rasa kala aku harus melihatnya memperlakukan wanita lain dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya dulu kepadaku. Ada perasaan sesak ketika aku tidak dapat melakukan apapun saat aku melihatnya bermesraan dengan yang lain.

Dan ada perasaan miris, bahwa sejauh apapun yang sudah kami lakukan, dia tetap milik orang lain.

Aku pikir ini sebuah hukuman bagiku, ketika aku menginginkan apa yang sudah menjadi milik orang lain. Aku pikir ini dosa yang harus aku tanggung, ketika aku berani mengambil resiko mencintai orang sepertinya. Jujur, dalam relung hatiku tak ada niat untuk merebutnya dari siapapun. Aku menyayangi mereka sebagaimana aku pun menyayanginya.

Dan cinta gila ini berawal dari rasa ingin mengubahnya. Ku kira, dia akan berhenti. Aku salah, tidak ada yang bisa mengubah tabiat seseorang kecuali dirinya dan hukuman dari Tuhan.

Hingga tulisan ini aku rangkai, cinta itu masih sangat menggebu dalam hatiku. Bahkan air mata terus saja menetes sepanjang aku menuliskannya. Masih ada rasa takut melihat tingkahnya yang kian hari kian menyakitkan. Tapi aku berjanji, aku akan keluar dari semua ini, akan ku lawan kebodohanku. Sakit ini tak lagi harus aku rasa.

Untukmu, yang detik ini sangat aku cintai, aku menyerah terhadap mu.

Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, sakiti saja sebagaimana yang ingin kau perbuat padaku. Aku berharap aku terbiasa, aku berharap aku bangkit. Tenang saja, tak ada hal apapun yang aku tuntut darimu, aku melakukannya karena aku mencintaimu. Aku hanya berdoa semoga Tuhan melindungi mu dan keluarga mu agar dijauhkan dari orang-orang yang jahat.

Semoga Bahagia

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya