Halo kamu, yang dulu sangatlah berarti untukku.

Apa kabar?
Dimana kamu sekarang?
Bagaimana keadaanmu?
Semoga akan ada masa indah ketika bersamamu ya.

Advertisement

Di tengah hujan dan petir, langitpun sangat gelap, hitam pekat tak bercelah.
Seketika kamu datang menutup mata dari belakang dan membawa secangkir cokelat hangat beserta cemilan crispy seperti saat itu.
Tersentak kaget, di balik bayang mengintip kaku dan memastikan siapa itu?
Benarkah dirimu?
Tetiba hadir melukis pelangi di wajahku, meski hujan belum tau kapan berhenti,

Kembali kamu me-released senyuman dan menitipkan umpatan di sela-sela udara dingin,
kembali kamu mengusap air mata yang sedang menyaingi derasnya hujan diluar sana,
dan kembali kamu mengacak-acak rambut ku sampai kusut memutar arah,
aku bahagia.

Merebahkan sempurna di pundak bidang kebanggaan,
menata jemari saling beradu,
memandang ciri senyummu yang khas, yang sesekali berteriak gemas dari lelucon hangatmu.

Advertisement

Memukul manja dan berbalas lemparan kertas kecil yang sengaja dibentuk seperti bola.
Menempel di setiap kening dan pipi dengan origami warna-warni, berlomba membuat bintang kecil sambil berkeluh kesah, seperti bintanglah tempat paling aman mengobati masalah.

Aku bahagia dan tertawa sampai mencari pelepas dahaga.
Aku bahagia dan tertawa sampai lupa usia.
Aku sangat bahagia dan menangis karena tawa.
Dengan congak aku menantang masalah agar datang berkunjung. Memastikan aku mampu menghadapi dan melangkah.

Tetiba petir mengacaukan semuanya dan ternyata kamu hanyalah bayang semata.
Bayang dirimu yang seakan nyata dan datang menyapa.
Bayang dirimu yang ternyata hanya ilusi belaka.

Binaran bintang ternyata masih bersembunyi,
kilauan matahari masih nyaman pada peraduannya dan aku memang masih berdiri sendiri.
Di sela-sela kepedihanku, dulu ada kamu.
Di rongga tawa bahagiaku, dulu ada kamu, namun kini semua sudah menjadi bayang semu.

Pernah kala itu kamu meraih tangan dan menitipkan pesan andalan pada ku,
"Tetap senyum untuk semuanya ya!"
dilanjutkan dengan kata perpisahan ,
"Jaga dirimu baik-baik, kelak aku pergi. Kamu sudah menjadi wanita besi."

Meronta laksana petir kembali pada peraduan.
Bintang – bintang kecil origami berserak berhamburan.

Kini, aku harus menerima kenyataan.
Bayangmulah yang mengajarkan bahwa bintang kecil bukanlah obat masalah, dia hanya perantara menghibur hati yang resah, kembalikan segala gundah pada Yang Kuasa.

Kamu telah pergi dan kini aku lah yang harus menghadapinya sendiri,
di kedua kaki untuk yakini menepaki masalah yang terjadi.

Jadi?
Bolehkan aku meminjam bayangmu lagi, ketika masalah datang menghampiri?
Bolehkan aku meminjam bayangmu lagi?

Untuk mengetuk jemari, sebagai energi lirih hati?
Dan sekali lagi, bolehkan aku meminjam bayangmu untuk kembali aku rindukan?

Maaf, aku terlalu sering meminta bayangmu hadir kembali.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya