Semuanya berawal saat kami masuk bangku kuliah


Awalnya sangat biasa saja, seperti kebanyakan orang yang bertemu pasti dengan atau tanpa basa-basi akan bilang halo dan begitulah sampe ke fase di mana dia tahu aku siapa dan aku tau dia siapa. Ya, semacam itulah awal perkenalan yang kemudian jeda dengan tahun sampai akhirnya dia menjadi penting di hidupku. Sekedar kenal, yah itulah yang aku tau tentang dia.

Semua orang tau bahwa saat itu dia menjalin hubungan LDR dengan sahabat SMA-nya dan begitupun dengan aku yang dekat dengan banyak laki-laki. Ya, begitulah masa kuliah yang penuh dengan bnyak warna hingga pada akhirnya awal kedekatan kami pun dimulai pada akhir semester. Aku bukan perebut/pelakor tapi saat itu dia sudah tidak menjalin hubungan dengan perempuan lain, itulah yang aku tahu.


Sampai akhirnya kami pun mulai dekat, tapi kedekatan yang sangat biasa saja hingga pada akhirnya satu persatu perhatian pun mulai dia tunjukan untukku, begitupun dengan aku untuk dia.


Semuanya berubah saat dia bilang "Mau nggak jadi pacarku?" aku yang tidak pernah menjalin suatu ikatan dengan lelaki manapun tidak bisa berkata-kata dan dengan nada sedikit ragu, ku katakan "Iya" untuk apa? "Iya" apa? Dia tidak bertanya itu begitu pun dengan aku yang jawab "Iya" untuk apa. Apakah "Iya" saat ini aku sudah menjadi pacar orang apakah "Iya" sekarang dia pacar aku itulah yang aku pikirkan saat itu. Hingga pada akhirnya yang kamu dan aku pun menjadi kita

Hampir 5 bulan kami menjalin suatu ikatan (pacaran) dan banyak sekali yang berubah pada diriku, yang tadinya tidak pernah peduli dengan laki-laki jadi sensi kalau urusan dia belum makan, sakit, dan lain-lain hingga sampai kepada perasaan tidak ingin kehilangan dan begitulah sampai sekarang.


Semua orang mungkin tau, tidak ada hubungan yang adem-adem saja, begitupun dengan hubungan kami dengan waktu yang masih sangat singkat.


Kami sudah hampir 2 kali putus tapi mungkin perasaan sayang kami masih sangat kuat dan itulah alasan kenapa aku masih bertahan menjadi orang yang akan bawel saat dia lupa makan, atau saat dia capek karena kerjaan. Walaupun di sana ada perempuan lain yang mungkin lebih dari aku tapi yang aku tau saat ini aku menyanyanginya, tidak peduli dengan perasaannya karena itu urusan dia.


Untukmu yang kunamai lelakiku, terima kasih. Kamu mungkin terlalu sabar menghadapi diriku yang sangat egois, manja, sombong, dan begitulah sifat kebanyakan perempuan, maunya dimengerti terus.


Dan aku mungkin tidak akan bertemu dengan pria terbaik seperti dirimu, jika pun iya mungkin yang ku temui hanya sekedar baik bukan terbaik karena bagiku yang terbaik itu hanya kamu. Salam dari aku perempuan yang selalu berharap jodohmu adalah yang terbaik.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya