Untukmu yang ditinggal pergi, kesalahan terbesarmu adalah mengharapkan dia kembali. "Pergi untuk kembali, basi!"


Pernahkah kamu merasa bahwa dia adalah orang yang tepat? Pernahkah kamu sebegitu yakin tengah menjalin hubungan bukan dengan orang yang salah? Pernahkah kamu menaruh harap terlalu tinggi pada seseorang yang ternyata membuatmu patah? Jika pernah, maka kamu tidak sendiri.

Advertisement

Untukmu yang memutuskan untuk pergi, masih ingatkah tentang semua janji? Di sini aku masih harus menampar diri agar tidak lagi merasa hidup dalam mimpi. Kamu tahu? Sejak kepergianmu tidak ada yang baik-baik saja dalam hidupku.

Sejuta harap yang telah aku untai, kini hancur oleh perasaan yang kamu bantai. Entah apa yang membuat kita berpisah, aku yang salah atau kita yang memang sudah tidak searah. Sudah jelas jika berpisah bukanlah sesuatu yang ingin kita lakukan dulu. Tetapi, aku yakin ini adalah keputusan terbaik untuk kita, kamu dan aku hanya tidak ingin ada lagi yang terluka.

Kita pernah sepakat bahwa setiap perpisahan selalu tersimpan orang baru di dalamnya. Aku tidak menuduhmu tapi aku hanya ingat kata-kata itu. Jika memang kamu mencintainya sedari masih bersamaku, aku tidak bisa menyalahkan cinta kalian. Sebab demikianlah hati, mungkin aku yang sedang penuh kurang lalu dia datang.

Advertisement

Mencoba ikhlas bukanlah perihal yang mudah setelah melepas, banyak yang ingin aku ungkapkan tentang rasa kecewa. Namun saat melihatmu telah bahagia bersamanya yang ada di kepalaku hanyalah segudang pertanyaan pilu. Saat aku masih berusaha bangun dari mimpi buruk dan menerima kepergianmu, saat itu pula kamu telah jauh melangkah bersamanya. Sakit, sangat sakit, ketahuilah.

Kamu tidak pernah mau peduli tentang seberapa hancurnya aku, kamu hanya peduli tentang perasaanmu. Tapi jangan remehkan aku, tanpamu aku bisa kembali bahagia. Logikanya, jika yang membuat luka saja diberi kebahagiaan bagaimana dengan aku yang tulus mencintai namun disia-siakan? Aku pasti bahagia, meski tidak segera.

Sebab bagiku butuh waktu untuk sembuh dan kembali utuh. Aku bukanlah kamu yang mudah berpaling dan membagi rasa. Jika luka karenamu saja belum sembuh untuk apa aku kembali menaruh harap yang tentu saja aku tahu akan berakhir luka juga? Ah ya, kamu tidak pernah sadar bahwa menyakiti hati seseorang mampu menghancurkan hidupnya dan menghadirkan trauma.

Sudahlah, tak mengapa. Silakan bahagia bersamanya, yang mudah berpaling memang cocok bersanding dengan maaf. Bolehku sebut seorang "pencuri" karena dia telah merebut hatimu dariku. Tidak ada lagi janji, tidak ada lagi kenangan yang harus aku tangisi. Hal yang harus aku lakukan adalah ikhlas menerima keadaan. Namun satu pesanku padamu, jangan pernah kembali saat aku sudah tidak lagi peduli, karena saat itu rasaku padamu telah benar-benar mati.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya