“Maka aku pun juga harus berkata jujur kepadamu. Bahwa realita mengatakan aku memang belum siap menjadi pasangan hidup sematimu. Oleh karena itu, jika kamu memang sudah tak mampu bertahan lagi untuk menanti, maka akhirilah cinta kita. Pergilah mencari yang lebih baik agar kamu bisa bahagia selama-lamanya. Akan aku hargai dengan hati lapang keputusanmu”

Untuk seseorang yang sedang menanti kedatanganku di ujung jalan sana, maaf seribu maaf harus aku sampaikan kepadamu melalui rangkaian kata panjang ini, agar kamu mampu membaca isi hatiku, bahwa aku belum siap menjadi bagian dari hidupmu. Aku belum matang menjadi pangeran sempurna untuk masa depan hidupmu.

Advertisement

Ini bukan masalah rasa dan cintaku yang sudah hilang, atau bahkan masalah orang ketiga yang aku sayangi. Demi Tuhan, nama orang tercinta masih ada satu di relung hati ini, yaitu dirimu seorang. Namun ini semua masalah kesiapan batin dan material yang belum mampu ku siapkan untukmu, agar kau bisa bahagia menjalin mahligai cinta kita berdua. Aku belum siap. From the deepest of my heart, honey, I am not ready.

I do believe that, mengatakan ini kepadamu hanya akan membuatku tampak seperti seorang pengecut yang tak punya keberanian untuk membawamu menuju jenjang yang lebih tinggi. Namun fakta hidup yang sedang aku geluti saat ini, mengatakan bahwa mimpi-mimpi dalam hidupku belum ada sama sekali yang tercapai. Aku belum siap untuk menemui orangtuamu dengan mimpi-mimpiku yang terasa masih kosong. Seperti kata orang, kita tak mungkin bahagia hanya sekadar bermodalkan mimpi dan cinta.

Terkadang aku juga merasa malu terhadap diriku sendiri, ketika teman-teman sebaya sedang berlomba-lomba untuk membangun bahtera rumah tangga dalam usia yang masih muda. Namun ini bukan masalah aku tak berjuang untuk cinta kita berdua, but it’s about myself that still not ready to face the real world in the front of my eyes. Aku belum siap dan sempurna untuk mencari kayu bakar agar tungku perapian dapur tetap mengepul. Aku belum siap untuk itu semua.

Advertisement

Setiap pria di dunia pasti menginginkan untuk segera membawa kekasih hatinya untuk segera bergerak menuju jenjang pernikahan. Begitu juga dengan diriku sendiri. Namun sayangnya, tidak semua pria pula siap secara mental dan material untuk membangun istana bersama dengan ratunya masing-masing. Jenjang pernikahan terkadang terlalu rumit bagi seorang pria, yang termasuk juga diriku saat ini.

Pernikahan memang harus didasari dengan cinta, namun cinta bukanlah pondasi utama dalam suatu pernikahan. Ada banyak elemen yang harus kita penuhi agar kelak anak cucu kita hidup dengan bahagia. To make them happy, I need something to give to them. But if I have nothing, I can’t give anything for them.

Aku memang akan menjadi pria yang sangat bahagia apabila saat ini berhasil membawamu menuju gerbang pernikahan. Namun sayangnya, now I am standing in the lowest position of my life. Benar-benar belum mampu untuk membawamu menuju gerbang yang kamu inginkan. Pernikahan belum sama sekali menjadi prioritas utama hidupku. Maafkan jika kata-kata ini justru membuatku terlihat egois di matamu. But this is a final decision that I make for my own life. Aku egois, karena lebih mementingkan mengejar cita-cita dan seluruh mimpiku dibandingkan dengan mengejar nasib cinta kita berdua.

Oleh karenanya, aku ikhlaskan saja jika kamu memang ingin pergi dari relung hatiku. Akan aku ikhlaskan kepergianmu dengan orang yang lebih baik dariku, yang jauh lebih siap dari diriku yang lemah ini. Aku belum siap untuk membuat kamu tersenyum lahir dan batin. Maka aku memilih menyerah, demi kehidupanmu yang lebih baik di masa depan.

Sayang, jangan tunggu aku lagi. Carilah yang lebih baik dariku, karena aku bukanlah pria yang pantas untuk kau tunggu. Selain tak pantas kamu tunggu, aku juga sedang tak tahu kapan akan kembali. Karena mimpi-mimpi hidupku masih berkeliaran bebas di langit biru. Aku tak tahu kapan bisa meraihnya, seperti tak tahu kapan bisa pulang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya