Di tengah terik mentari yang belum tepat di atas kepala, Dhina dikejutkan dengan sekumpulan murid SMA, yang duduk di atas motor mereka. Dalam benaknya ia berpikir bahwa semakin lama generasi anak sekarang semakin parah saja pergaulannya. Apalagi saat itu, masih jam sekolah. Dhina terus melajukan motornya sampai di depan mereka.

Salah satu dari mereka tiba-tiba menyeletuk, “Hei Nona manis, mau ke mana?”

Advertisement

Dibalik helm mungil warna putih yang menutupi wajahnya, Dhina pun terheran-heran sendiri, kenapa mereka bisa tahu kalau dibalik helm itu seorang wanita. Dhina hanya menggelengkan kepala dan tak memedulikan tawa riuh anak-anak tersebut.

Dhina adalah salah satu pengajar dalam sanggar melukis milik temannya. Setiap pukul 9 pagi, Dhina selalu melewati jalan yang sama. Dan hampir setiap hari pula bertambah saja anak sekolah yang duduk dan tak menghiraukan jam masuk sekolah. Betapa sedihnya ia mengingat perjuangannya sekolah dulu; ketika keringat dan usahanya harus dipertaruhkan setiap harinya. Namun ia tak menyangka semudah itu mereka tak memikirkan masa depan apalagi orangtua mereka.

Suatu hari, Dhina mulai membuka memorinya—mengingat siapa yang sepertinya ia pernah lihat itu. Perlahan Dhina pun menepikan sepeda motornya.

Advertisement

“Hei Arya? Kamu bolos sekolah, kan?”

“Eala.. Mbak-nya lagi PMS, yah? Kok marah-marah?” potong Arya, “ loh… kok bisa tahu namaku?”

Dhina hanya mengangkat kepalanya seraya memberi kode nama di seragam sekolahnya. Dengan perundingan dan pembicaraan yang entah kemana arah jluntrungannya; banyak perdebatannya, akhirnya Dhina pun terpaksa membawanya. Melihat jalan yang tak sama menuju sekolahnya, Arya pun sepanjang jalan protes dengan Dhina.

Dengan tampang menyepelekan Dhina, sontak wajah Arya pun berubah ekspresinya ketika melihat sekumpulan anak-anak yang sedang duduk bersila dan beberapa lagi berlarian saling meminjam pensil warna. Dhina melihat Arya yang perlahan berjalan melihat secara detail aktivitas yang dikerjakan anak-anak sanggar kala itu.

“Ibu Dhina sudah datang,” teriak salah satu anak yang berkaca-mata.

Ibu? tanya Arya dalam hati.

“Kamu pasti mikirnya aku udah punya anak, kan?”

Arya hanya tersenyum meringis dan pura-pura tak memeduliakan Dhina dan sibuk dengan ponselnya. Perlahan Dhina mengambil seperangkat alat gambar: pensil, penghapus, stamp papper, kertas dan alat lainnya. Terlihat anka-anak fokus dengan apa yang diajarkan Dhina saat itu.

Dari tempat duduk paling belakang, Arya melihat betapa lihainya Dhina menggoreskan pensil dalam media kertas. Arya melihat itu salah satu tokoh dunia. Arya pun seketika terpesona dengan hasil gambar Dhina, meskipun masih berupa sketsa sementara.

“Motornya biar aku yang bawa. Masak cowok keren kayak aku diboncengin sama ibu-ibu. Entar waktu lampu sen ke kiri malah nganan lagi. Hahha…”

“Eh.. enak, aja. Enggak sopan, ya.”

Setelah hari itu, Dhina pun tak lagi melihat Arya. Dalam hatinya ia merasa bersalah jika membuatnya merasa dihakimi. Namun Dhina mencoba untuk bertanya pada teman-teman Arya. Dhina menungggu jam pulang sekolah tiba. Dan benar Arya Memang tak berangkat sekolah karena sakit.

Dhina pun merasa tak percaya, anak bandel seperti Arya bisa sakit. Dhina pun membayangkan paras dan postur Arya—anak laki-laki yang masih duduk dibangku sekolah itu. Gigi gingsul dan tahi lalat di bawah bibir sebelah kirinya menambah manis saja saat ia tersenyum.

Setelah patah hatinya karena menunggu seseorang yang sudah bahagia dengan temannya sendiri, setelah pertemuannya dengan Arya kala itu membuatnya bisa tersenyum lagi.

TTT

“Sayangnya,dia masih berondong. Hahhaha,” seru Dhina.

“Emangnya, loe, suka sama dia, Dhin? Enggak cocok ah.. terlalu jauh umur kalian.”

“Apa, sih, Jon?”

Dhina tak bisa menyembunyikan pipi merah meronanya dari Joni, yang kala itu mengintrogasinya. Joni penasaran dengan seorang anak SMA yang akhir-akhir ini sering berkunjung ke sanggar miliknya.

TTT

Dalam perjalanan menuju sanggar, Dhina tak tahu Arya akan membuntutinya seperti ini. Diamnya Dhina pastinya sangat beralasan. Di mana ia lagi-lagi harus berusaha melupakan apa yang sudah membuatnya bahagia akhir-akhir ini. Arya pun tak henti-hentinya meminta Dhina untuk menghentikan kendaraannya. Hanya saja Dhina tak menggubris permintaanya. Akhirnya sampailah mereka di sanggar lukis milik Joni.

“Ok.. sekarang maumu apa?” Dhina turun dari motor dan melepas helmnya.

“Bolehkah untuk saat ini aku tak memanggilmu Mbak?” tanya Arya menatap wajah Dhina yang jutek. Dhin pun tak menjawab. Hanya terdiam dan membiarkan Arya berbicara apa yang ingin dikatakannya.

“Tolong, bagaimanapun caranya, jangan biarkan aku melupakanmu, Dhin. Tolong tunggu aku kuliah dan kerja dulu. Tunggu aku sampai usia 25 tahun. Itu berati 8 tahun lagi.”

“Arya.. kamu itu anak manis, tapi bandel. Banyak sekali wanita cantik yang akan kamu temui. Apalagi mereka semua berpendidikan. Orangtuamu pasti takkan mengijinkan kita bersama.”

Joni tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan Arya dan Dhina. Ia pun terkejut dengan statement dari Dhina. Apa yang menjadi pertanyaannya selama ini terjawab sudah. Ada suatu hubungan tak biasa antara Dhina dan juga anak SMA itu. Joni sebelumnya memang sudah memperingatkan Dhina bahwa hubungan mereka sangatlah mustahil untuk dilanjutkan.

Apalagi rentang jarak usia juga kasta keluarga. Arya adalah anak pengusaha terkenal di desanya. Sedangkan Dhina hanyalah guru pengajar tanpa gelar, yang rela memberikan separuh hidupnya untuk sanggar lukis milik temannya. 

Arya tak tahu harus menjelaskan apa lagi pada Dhina. Ia pun undur diri dari Dhina yang sepertinya tak menganggapnya ada di tempat itu. Dhina terkejut melihat beberapa gambar sketsa wajah yang belum jadi—Masih berupa coretan yang berserakan—tak beraturan bentuknya. Salah seorang anak didiknya mengatakan padanya, jika itu buatan Arya. Dan di salah satu gambar, ada kalimat singkat yang mengatakan,” Aku akan terus belajar melukis wajahmu.”

Air mata Dhina pun terjatuh—tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia tak tahu bagaimana memperlakukan sikap Arya yang begitu perhatian padanya. Sedangkan, lagi-lagi jarak yang membuatnya semakin jadi wanita plin-plan. Ditambah lagi tuntutan keluarga tentang menikah masih terus saja datang. Dalam benak terdalamnya, ia pun ingin Arya tahu bahwa rasa itu tak bisa dielakannya. Hanya saja kenyataan dunia tetap tak bisa dilawannya.

Dhina pun sangat ingin menuggunya. Hanya saja itu semua tergantung apa yang diucapkan Arya. Ia sudah kebal terhadap hati yang sebentar datang lalu meniggalkannya. Apakah ini berlaku juga untuk Arya? Dhina pun memutuskan mengambil setiap sketsa yang gagal dibuat oleh Arya dan menggantungnya di setiap sisi sanggar. Sembari terus berharap sketsa itu akan jadi kenyataan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya