Jika hidup diibaratkan sebagai buku tulis, maka halaman depan terjadi saat kita berada di rumah. Rumah menjadi tempat pertama dan ternyaman sejagat raya. Dari sini langkah awal untuk coreti lembaran demi lembaran kehidupan yang kelak akan dilewati, sedangkan untuk mengisi lembaran selanjutnya maka berangkatlah dari rumah.  Pergilah sejauh mungkin dari rumahmu, dan lekaslah menemukan makna dari kepulangan. Segeralah engkau merantau.

Ragam latar belakang mendorong orang memilih untuk angkat kaki dari rumah. Ada harapan yang membuncah dalam pikiran yang kelak akan membentuk arah dan langkah yang diambil. Berangkat ke tanah rantau dengan perhitungan akan menemukan kehidupan yang lebih baik. Situasi dengan tantangan yang lebih baru dapat menuntun dan menuntut arah langkah menuju pendewasaan diri.

Advertisement

Kemapanan serta kesahajaan yang ada di  dalam rumah sejatinya telah memberikan kebahagiaan tersendiri. Setiap waktu kita dapat lalui bersama dengan orang yang kita cintai sekaligus melihat lebih dekat hiruk-pikuk perkembangan tanah kelahiran.

Pada pagi hari yang baru tiba, orang rumah langsung menyambut kita dengan rasa cinta yang tak pernah pudar. Saat ayunan langkah di pagi hari tampak di tepi meja sudah tersaji santapan pagi yang istimewa, ditambah dengan kopi pagi yang bersanding bersama pisang goreng buatan ibunda. Sembari seruputi kopi akan ada cinta yang mengalir begitu saja dalam alunan waktu. 

Kembali lagi ke pembicaraan awal, pergi tinggalkan rumah untuk merantau. Kita beranjak untuk menemukan sebongkah harapan. Pengalaman pahit dan manis selama berproses di tanah rantau dinikmati sebagai pelajaran hidup yang berharga. 

Advertisement

Perantau akan merasakan sesaknya jauh dari rumah. Rasa sakit kian membengkak saat rindu menghujani setiap derap langkah, terutama pada orang rumah yang selalu menanti kapan kita pulang.  Suka tidak suka harus dijalani sebagai sebuah guru kehidupan.   

Impian akan hidup yang lebih baik di tanah rantau seringkali tak sesuai ekspektasi. Gab antara harapan dan kenyataan bergulir setua perjalanan di tempat kita merantau. Hanya perantau tangguh yang mampu bertahan saat gejala demikian terjadi. Tanggal tua menjadi suatu momok yang tidak dapat terelakkan lagi.

Jangan heran saat keadaan demikian tiba, makan pun ala kadarnya, tunggakan di kedai dekat kontrakan menumpuk, bahkan untuk mandi saja dapat disiasati dengan memanfaatkan kepingan-kepingan sabun mandi yang masih tersisa. Ah, hidup memang kadang dinikmati meski hal konyol sekalipun.

Lalu untuk menghadapi berbagai dinamika di tanah rantau tetaplah berkibar dengan hati yang tetap tegar. Tak ada pilihan lain selain melangkah dengan kepala tetap tegak. Anggap saja pengalaman baik dan buruk sebagai nutrisi kehidupan yang harus kamu nikmati.

Sementara untuk semua harapan yang sudah dirintis tetap digapai dengan perjuangan yang gigih. Lorong-lorong pada tempat engkau berkarya membawa tapak kakimu agar kamu mampu berkarya dengan baik. 

Engkau tidak perlu lekas mengangkat tangan. Apalagi ingin pulang dan segera merebahkan badan pada kasur tua di rumahmu. Engkau hanya perlu menepi sejenak untuk merebahkan badan, dan secangkir  kopi pun dapat engkau jadikan sebagai pelampiasan akan rasa lelah yang selalu menghujani langkah yang sedang engkau rintis.

Akhirnya, waktu mengajak kita agar tetap melaju untuk maju. Tapak demi tapak. Asa demi asa. Langkah demi langkah. Percayalah, di ujung sana ada cinta yang tak pernah henti mendampingimu dalam ayunan langkah yang lebih baik setiap harinya. Tetap tegar dalam melangkah wahai kalian para perantau!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya