Wahdatul Wujud Untuk Membangun Toleransi Beragama

Tasawuf

Pemahaman wahdatul wujud sendiri sudah dikenal di kalangan para Sufi, pemahaman memang banyak ditentang oleh Ulama Fiqh bahkan sebagian para Sufi juga ada yang menentang pemahaman ini. Kalau kita berbicara tentang wahdatul wujud pastilah kita merujuk kepada seorang tokoh sufi besar yang bernama Ibnu Arabi, Nama Ibnu Arabi sendiri dimiliki tidak hanya oleh satu orang.

Advertisement

Dalam sejarah pemikiran Islam ada dua tokoh yang terkemuka yang mempunyai nama yang sama. Kedua tokoh ini sama-sama dari Andalusia. Yang pertama adalah Abu Bakr Muhammad Ibn 'Abd Allah Ibn al-Arabi al-Ma'rifi (466-543/1076-1148), seorang ahli hadits di Sevilla. Yang kedua adalah Muhammad Ibn 'Ali Ibn Muhammad Ibn al-Arabi al-Taial al-Hatimi seorang sufi termasyhur dari Andalusia. dilahirkan pada 17 Ramadhan 560 H.

Wujud biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan kata " Being " atau " Existence ". Di samping dua terjemahan itu, ada pula yang menterjemahkan yaitu " Finding ". Menurut W.C. Chittick kata wujud tidak bisa diterjemahkan secara memuaskan ke dalam kata apapun dalam bahasa Inggris.

Kata wujud bentuk masdar dari wujada atau wujida. Wahdatul wujud kalau kita artikan secara simple berarti tiada wujud, maksud nya adalah tiada wujud selain wujud Tuhan. Segala wujud yang ada di alam semesta ini adalah hakikatnya adalah wujud Tuhan yang dipinjamkan kepadanya. Maka hakikatnya seluruh apa yang ada dialam semesta ini adalah penampakan-penampakan dari wujud Tuhan atau disebut tajalli (self-disclosure, irradiation, theophanie, theophancy). Segala benda yang ada di alam semesta adalah tajjali Tuhan dari nama-nama Tuhan, misalnya nama Tuhan dari kata an-Nur (Cahaya) tajalli Tuhan kepada matahari, nama Tuhan al-Hayah (Hidup) tajalli kepada seluruh makhluk hidup.

Advertisement

Maka pada hakikatnya siapapun yang menyembah ciptaan Tuhan hakikatnya dia menyembah Tuhan juga dari nama nama Tuhan, hanya saja mereka menyembahkan dari jauh seangkan orang Islam menyembah Tuhan secara langsung tanpa perantara benda maupun makhluk manapun, maka dapat disimpulkan setiap manusia yang kita lihat dikehidupan kesehari-harian kita adalah tajalli dari Tuhan itu sendiri.

Akan tetapi bukan berarti setiap manusia adalah Tuhan, mereka hanya pancaran Tuhan, maka dari pemahaman ini lagi kita bisa saling menghargai perbedaan yang ada dalam lingkungan kita baik dalam urusan agama maupun urusan-urusan yang lain. Sehingga kita tidak saling menyakiti atau saling menghina satu sama lain, karna menghina orang lain baik secara ras, suku dan agama sama hal nya menghinakan ciptaan Tuhan maka Tuhan akan marah karna ciptaan nya dihina. Semisal seorang pelukis dihina lukisannya mungkin lukisannya tidak bisa marah tapi pelukis pastilah marah, begitu pula lah Tuhan perumpamaan diatas hanya untuk memudahkan dalam memahami tulisan sebelumnya bukan bermaksud untuk menyamakan Tuhan dengan pelukis, lalu timbul lah pertanyaan apakah saat seseorang berbuat jahat itu adalah Tuhan?

Dalam prespektif Suhrawardi dalam Filsafat Iluminasi dia menyatakan bahwa Manusia diberikan kebebasan dalam berbuat apapun oleh Tuhan. Oleh karnanya seorang makhluk tetaplah makhluk bukan Tuhan, jadi apabila seorang makhluk melakukan perbuatan yang menyimpang itu adalah perbuatan si makhluk tersebut bukan perbuatan Tuhan, akan tetapi dalam dirinya terdapat unsur keTuhanan yang mana kita wajib untuk mengayominya dan mendakwakkan dengan cara paling baik bukan memusuhinya.

Sumber :


  • Kautsar Azhari Noer : Ibnu Arabi Wahdatul Wujud dalam perdebatan¬†

  • Mulyadhi Kartanegara : Lentera Kehidupan, Panduan Memahami Tuhan, Alam, dan Manusia

  • Hossein Ziai : Suhrawardi dan Filsafat Iuminasi

  • Abdul karim Ibn Ibrahim al-Jilli : Insanul Kamil

 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE