Hai, sayang

Aku sudah tidak ingin membebanimu dengan segala keluh kesah ku. Perihal siklus datang pergimu yang tak menentu dan membuatku begitu jengkel, melihat parasmu yang tampak kelelahan tak tega aku mengatakannya, tak sanggup juga melihat kerutan di kedua alismu kian jelas hanya karena mendengar omelanku, aku pun tak ingin membuatmu bertambah fikiran hanya karena keluh kesahku yang mungkin bisa saja terdengar kekanak-kanakan.

Untuk itu, aku hanya ingin mengatakan semuanya di sini saja, barangkali di sela waktumu kau berminat membacanya.


Lewat tulisan ini aku ingin mengatakan bahwa aku menyayangimu dan merindukanmu.


Bagaimana aktivitasmu hari ini? Apakah bebannya makin membuatmu berfikir lebih keras? Dan apakah kamu masih merasa semua berat dan melelahkan? Ah, rasanya akhir-akhir ini kita telah kehilangan momen jejak satu sama lainnya. Kabar yang kita tukar hanya sebatas selamat pagi, selamat makan dan selamat istirahat. Lucu juga rasanya jalinan yang sebelumnya bisa di bilang sering ini menjadi sebuah percakapan yang sangat singkat bahkan bisa dikategorikan jarang, dan jujur aku merasa kehilangan. Kita bagai remaja polos yang kehabisan kata untuk sekedar mengatakan sesuatu.

Advertisement

Aku lupa kapan tepatnya kita mulai sedikit menciptakan jarak, yang aku tau kita sedang babak belur dihantam kesibukan, waktu yang kita punya makin miris, karena pekerjaan yang kita tekuni makin lama makin egois. Seperti tak memeperbolehkan kita untuk saling berbagi cerita dan beban yang kita miliki, dia hanya mengizinkan kita pulang saat energi tersedot habis. Tak ada lagi daya yang tersisa untuk menghabiskan malam berdua. Jangankan untuk bertemu sebentar, berkirim pesan pun jarang. Apakah ini normal? Kurasa tidak sepenuhnya, apa yang ada di fikiranmu aku pun tak tahu, please aku bukan Tuhan yang bisa baca fikiran setiap orang. Jadi, jangan diam saja dan mengira aku selalu tau jawaban atas diammu.

Dan tiba tiba fikiran yang sok dewasa pun muncul, aku tau setiap orang membutuhkan waktu sendiri untuk hidupnya dan biar kusimpulkan sendiri, kamu sedang membutuhkan waktu sendiri. Atau bahkan lebih dari itu, kamu sedang mati-matian menyiapkan masa depan untuk kehidupan kita. Ah, membayangkannya saja membuatku senyum-senyum sendiri, semoga apa yang aku fikirkan menjadi sebuah kenyataan.

Dan aku percaya, setelah waktu yang cukup melelahkan ini kita akan bertemu dan menuntaskan rindu, dan bercerita betapa rindunya ketika kita tidak dapat saling menyapa seperti biasanya. Betapa sebenarnya kita merasa terkekang atas rutinitas yang memang membuat kita babak belur. Tapi, kita tetap akan membuatnya nyaman, karena kita tau, di usia kita memang seharusnya bermetamorfosis dan keluar dari zona nyaman.

Dan tenang saja aku akan selalu memaklumi itu, bukankah kita telah berjanji untuk tetap saling menguatkan dalam keadaan apapun, dan juga aku masih ingat kau pernah mengatakan ini padaku:


"Mungkin suatu saat komunikasi kita semakin kacau dan tidak intens lagi, namun aku harap hal itu bukan di karenakan lunturnya kasih sayang di antara kita, melainkan aku dengan kesibukanku dan kamu dengan kesibukanmu. Dan suatu saat kemungkinan besar hal ini terjadi, biarlah kerinduan yang mendalam menambah rasa cinta, kasih sayang dan peduli di antara kita. Dan jika suatu saat datang godaan yang akan mencoba meruntuhkan ikatan hati yang kita jalani saat ini, biarlah komitmen dan idealisme yang memagari perasaan dan emosi liar kita, yang jelas kamu tetap berdiam dan bersemi di sana.”


Dan di saat aku mulai merasa jengkel akan siklus datang pergimu yang tak pernah tau waktu itu, berulang kali aku akan membaca ini lagi. Tapi, aku mohon usahakan tidak sesering itu pergi tanpa permisi, karena aku pun juga tidak selalu bisa menghadapi rasa rindu sendirian yang kadang kala juga tidak bisa tertahankan. Jadi, ingin kukatakan suatu hal yang akhir-akhir ini begitu sulit untuk menemukan momen untuk mengakuinya,


Bahwa aku menyayangimu dan begitu merindukanmu.