Aku Hanya Bisa Menggambarkan Namamu di Kedalaman Mata, Sambil Menunggu Hatimu Terbuka

Menunggu

Pulang tidak mampir ke rumahmu. Mataku menutup ribuan cahaya yang menyilaukan, padahal kali ini tidak ada matamu di depanku. Serabut keresahan masuk ke celah mataku yang akan menutup. Ia berhasil untuk tinggal, tak bisa ku usir walau sudah dengan cara yang baik dan cantik.

Advertisement

Karena yang mengalami, merasakan, dan menjalani adalah kita. Ikutilah kata hati. Jika dekat dengan kebaikan teruskanlah, jika buruk jauhilah. Jika ragu? Jauhilah dulu, lalu temukanlah apa yang sebenarnya membuatmu ragu itu. Carilah setiap informasi dari pernyataan apakah itu sebenarnya baik untuk dilanjutkan atau tidak. Jika sudah mempunyai jawaban yang baru barulah kamu tentukan jalan mana yang akan kamu tempuh nanti. Semoga jawaban itu adalah jawaban yang kamu yakini kebenarannya.

Gerak bola mataku menulis namamu, ada kerinduan di setiap gerakannya. Telah penuh namamu dan rasaku, tergambar wajahmu yang masih malu. Tak mengenal aku yang dari dulu menyukaimu. Dinding yang kita bangun tidak mampu ditembus oleh satu sebutan hubungan baru.

Sahabat, aku mengenalmu dengan sebutan itu. Kita lima serangkai yang tak pernah terpisah, tapi aku tahu hal itu tak akan mampu membuat kita bersatu. Dalam hati aku berkata, mengapa sampai saat ini aku tetap bertahan dengan semua ini, dan lagi-lagi ini adalah karena persahabatan. Persahabatan menjadi sebuah dinding yang tak mampu untuk mengungkapkan sebuah rasa. Namun aku tetap beruntung. Karenamu, langit cerah benar-benar cerah, terlukis senyummu yang memuai oleh cahaya. Menebar aroma wangi ke selujruh penjuru

Advertisement

Perubahan pada sikapku muncul dengan sendirinya. Bukan kamu yang membuatku berubah, tapi aku sendiri yang membuat diriku berubah seperti ini. Pertama aku canggung untuk dekat, kedua semakin bimbang untuk berkata, dan ketiga mulutku diam hanya mengandalkan mataku yang berbicara.

 Ah… tidak akan bisa aku utarakan, mengapa hal ini malah muncul kepadanya. Tidak ada yang salah, yang ada hanyalah ruang penerimaan dan keinginan telah sedikit terbuka. Sudah siap untuk diisi dan mengisi. Haruskah aku memulainya dari sekarang?

Advertisement

Menunggu kamu menyelesaikan gelar sarjanamu pun aku siap. Kamu bilang akan membuka hati ketika semua cita-cita di pendidikanmu telah selesai. Sampai hari itu tiba nampaknya aku harus lebih bersabar lagi.S ekitar satu tahun setengah lagi, tentu bagiku itu bukan waktu yang lama. Tapi bagi hati dan pikiranku itu sangatlah lama. Menderita di tengah kesepian yang bergejolak. Padahal kamu hampir setiap minggu ada di depanku. Bertemu, bertegur sapa, dan saling menyilahkan kedatangan. Aku berharap kamu kelak akan mempersilahkan aku untuk datang ke rumahmu. Bukan lagi hanya bertemu adikmu, namun lengkap dengan kedua orang tuamu. Aku menunggu hari itu.

Dua bulan aku bergelut dengan keresahan sebab mencintai kamu. Kini biarlah waktu membawaku padamu dengan sebuah kealamian. Tidak akan terlalu memaksa dan tidak akan meremehkan prinsip kesendirianmu. Aku akan belajar darimu, darimu yang sudah lebih dulu belajar.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE