Zaman Milenial Zaman Serba Konten

Zaman serba konten, mungkin itu kata yang tepat untuk mendeskripsikan zaman saat ini. Orang-orang berlomba mencari perhatian orang lain lewat konten. Bahkan mereka kadang tidak berpikir panjang apakah dengan berkonten setiap saat dapat membuat orang lain merasa nyaman.

Advertisement

Konten menjadi bahan yang dicari-cari orang saat ini. Ya, apalagi kalau bukan untuk diposting di media sosial. Semua orang sibuk memikirkan konten, apalagi kalau kita terkenal di media sosial. Kita pasti ingin memberikan konten yang terbaik untuk followers kita.

Konten seringkali menjadi alasan orang dapat berlaku nekat. Ada yang rela mati demi membuat konten. Sungguh miskin perilaku orang-orang zaman sekarang.

Jika hanya sekali take konten tidak apa-apa. Bahkan ada yang men-take konten hingga berkali-kali agar kontennya terlihat maksimal. Mereka ingin kontennya viral supaya mereka terkenal dan menghasilkan uang dari konten yang viral tersebut.

Advertisement

Jika konten yang disajikan mendidik sebetulnya tidak apa-apa, karena konten tersebut bisa mengedukasi banyak orang. Tetapi jika konten hanya untuk mencari sensasi, untuk apa?

Konten zaman sekarang bukan seperti konten-konten di zaman sebelumnya. Bertemu orang lain dibuat konten, ada orang meninggal dibuat konten, ada orang sakit dibuat konten, dsb. Sebenarnya tidak ada larangan untuk hal itu. Tetapi kita juga harus memberi batasan atas apa yang kita lakukan demi konten.

Advertisement

Tren konten yang tidak bermanfaat justru marak di media sosial. Seringkali saya melihat disalah satu media sosial contohnya Tik Tok jika ada konten viral orang lain berlomba-lomba untuk me-remake konten tersebut. Seolah hal itu nantinya akan membuat mereka terlihat keren dan ikut menjadi viral.

Banyak juga konten bertengkar di media sosial. Sungguh tontonan yang tidak bagus untuk dikonsumsi oleh masyarakat terutama anak-anak. Tidak adanya pembatasan umur untuk melihat segala jenis konten yang kadang mengkhawatirkan.

Apalagi di zaman sekarang sudah banyak anak-anak yang menggunakan media sosial. Takutnya tontonan konten yang buruk  tersebut akan ditiru oleh anak-anak. Sikap anak-anak juga bisa dibentuk dari tontonan apa yang mereka tonton.

Jika anak-anak zaman sekarang meniru hal yang tidak baik di sosial media. Lantas akan jadi apa generasi kita selanjutnya?

Sudah banyak sekali berita yang menanyangkan aksi orang-orang zaman sekarang demi membuat konten. Ada aksi berjoget di tengah jalan hingga ingin tertabrak demi konten Tik Tok. Ada yang melecehkan orang lain demi konten. Ada yang menghina orang tua demi konten. Bahkan ada juga yang rela mencuri demi konten.

Sungguh seperti tidak adanya pengaplikasian pendidikan karakter di zaman sekarang. Apabila dinasehati dibilang sok suci. Jika dihujat tidak terima. Bingung kadang harus menyikapi seperti apa.

Banyak juga orang tua yang menjadikan anak mereka sebagai konten. Sebetulnya itu adalah hak mereka tetapi jika dilihat dari sisi yang lain, anak juga perlu privasi. Seharusnya orang tua tidak sembarang memposting anak demi konten.

Anak pastinya juga akan merasa kesal jika terus disorot kamera karena yang sebenarnya anak butuhkan adalah  teman bermain dan perhatian dari sekitar. Perlu adanya kesadaran diri dari diri kita sendiri untuk lebih bisa legowo dalam mengontenkan sesuatu.

Jangan beralasan berkonten demi uang saja. Semua orang memang membutuhkan uang. Tetapi bisa dengan cara lain bukan hanya lewat konten saja.

Jika ada pekerjaan yang mengharuskan kita untuk berkonten pun silakan. Tetapi jangan sampai membuat lingkungan sekitar merasa terganggu atau kurang nyaman ketika melihat kita berkonten.

Kita bisa memanfaatkan media sosial untuk membuat hal inspiratif dan tentunya bisa dijadikan konten. Berikut adalah contoh konten yang bermanfaat:

Membuat konten tutorial

Kita bisa membuat konten tutorial seperti tutorial style hijab, tutorial memasak, tutorial membuat kerajinan, dsb. Hal tersebut mungkin akan banyak dibutuhkan oleh para pengguna media sosial.

Membuat konten mengajar

Kita bisa membuat konten mengajar di media sosial, contohnya mengajar matematika, fisika, biologi, kimia, bahasa inggris, dsb. Dengan adanya konten mengajar kita dapat membantu orang lain dalam belajar. Dari konten mengajar pun kita bisa menghasilkan uang salah satunya dengan membuka kursus online.

Membuat konten ajakan inspiratif

Konten ajakan inspiratif bisa berupa banyak hal. Contohnya konten ajakan vaksin, konten ajakan beramal, dll. Dengan adanya konten ini kita juga bisa menjadi masyarakat yang saling peduli satu sama lain.

Konten tata cara menjawab pertanyaan

Konten ini biasanya dibuat untuk membantu orang-orang yang sulit menjawab pertanyaan. Contohnya pertanyaan tentang interview masuk organisasi, masuk kerja, dll. Dengan adanya orang-orang yang mau berbagi tip tentang cara menjawab pertanyaan interview akan sangat membantu banyak orang untuk menuntaskan interview mereka nanti. Konten seperti ini yang harusnya diperbanyak.

Sebenarnya banyak sekali ragam konten inspiratif yang dapat kita buat. Walaupun nantinya tidak memiliki viewers yang banyak. Setidaknya kita sudah berkontribusi untuk memberikan manfaat kepada sekitar. Konten itu seperlunya bukan semaunya.

Jadikan media sosial sebagai wadah penyaluran bakat bukan wadah penyaluran sensasi. Walaupun konten sensasi kadang lebih menarik untuk ditonton tetapi alangkah lebih baiknya sebelum membuat konten sensasi kita pikirkan dampak positif dan negatifnya terlebih dahulu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang mahasiswa yang punya banyak cita-cita dan berkeinginan lanjut studi di luar negeri.

CLOSE