Agaknya mulai sekarang, yang kita perlukan dalam menghadapi kabut asap bukan lagi masker. Tapi cukup pemakluman dan pembiasaan. Kabut asap sepertinya mulai menjadi tradisi, setiap tahun terus terjadi. Karena gejala tersebut, maka kita cukup memaklumi dan membiasakan diri. Tahun depan juga bakal ada kabut asap lagi.

Saya tak akan membahas tentang akibat kabut asap di tulisan ini. Karena anda semua pasti sudah tahu, dan sebagian dari anda – termasuk saya juga – telah merasakan sesak nafas karena kabut asap tersebut. Selain akibat kesehatan seperti itu, masih sangat banyak dampak lain dari kabut asap, yang semuanya punya satu kesamaan yaitu merugikan kita (manusia) dan alam.

Advertisement

Namun begitulah ironinya, meski membuat begitu banyak kerugian namun kabut asap ini terus saja terjadi setiap tahunnya. Bahkan jumlah titik api yang terdeteksi pun semakin lama semakin banyak. Apakah anda setuju untuk memberikan apresiasi terhadap fakta ini?

Namun menurut saya, ironi yang lebih menusuk adalah ; sekian tahun kita terus menerus dirundung masalah kabut asap ini, tapi masih terus terulang dan tampaknya masih akan berlanjut tahun depan. PERTANYAAN BESARNYA adalah ; sebagai bangsa yang besar apakah kita tidak malu sekian lama masih tidak beres-beresnya menyelesaikan masalah kabut asap tersebut?

Kita punya sekian juta penduduk yang lulus sekolah menengah dan sekian juta lagi yang lulus dari perguruan tinggi. Kita punya sekian stok orang berilmu dan berpendidikan. Tapi, kenapa menghadapi masalah kabut asap ini kita terus menerus gagal?

Advertisement

Sepertinya kritikan di atas memang agak kasar. Tapi begitulah realitanya.

Tahun depan, kalau penanganan masalah kabut asap masih dengan metode “mengobati, bukan mencegah” seperti sekarang ini. Maka siap-siap sajalah saudara, siapkan ribuan masker lagi. Atau seperti saran saya yang pertama tadi, siap-siap saja untuk maklum dan belajarlah menyesuaikan diri dikepung kabut asap tersebut.

Saya sebut “mengobati, bukan mencegah”, karena pada kenyataannya memang demikian. Pemerintah dan aparat terlihat baru bergerak setelah kabut asap mulai membubung. Setelah api mulai memerahkan hutan baru kita kocar-kacir menangkap pelaku pembakaran. Setelah langit kelabu oleh asap tersebut baru ribuan masker dibagikan. Kemudian sejumlah institusi hukum mengeluarkan ancaman beratnya hukuman kepada para pembakar lahan. Lalu kabut asap mulai menipis, perlahan hilang. Kemudian kita mulai lupa lagi.Berlanjut ke tahun depan ada lagi kabut asap. Begitulah siklus tahunan kabut asap di negeri kita tercinta ini.

Kalau kita sepakat ingin agar di 2016 nanti tanpa kabut asap, maka metode dalam menghadapi kabut asap perlu diubah. Dari “mengobati” sekarang harus putar haluan menjadi “mencegah”. Karena bagaimanapun “mencegah lebih baik daripada mengobati”, betul bukan?

Untuk langkah-langkah mencegah tersebut. Memang tak akan selesai oleh pemerintah atau aparat saja. Juga tak bisa rampung oleh masyarakat saja. Sinergitas segala lini menjadi harga mati dalam pencegahan terulangnya kabut asap tersebut.

Sebagai saran, mungkin kita bisa mulai dari merumuskan standar dalam membuka lahan tanpa membakar hutan. Karena tak bisa dibohongi lagi, akar dari kabut asap ini adalah pembakaran hutan. Alasan paling banyak dibalik pembakaran hutan tentu saja untuk memperluas lahan industri.

Selain para ilmuwan tanah air, mungkin kita bisa mengundang para pakar dari luar negeri terkait solusi standar membuka lahan tanpa pembakaran ini. Daripada mengundang artis yang notabene hanya untuk entertainment saja, bukankah akan lebih bermanfaat kita undang pakar kehutanan yang profesional?

Yang jelas setelah standar tersebut dibuat, maka pihak yang paling menentukan selanjutnya adalah para pengusaha yang bergerak di sektor kehutanan tersebut. Kita masih harus mencari cara agar para pengusaha tersebut mau “bekerjasama” menggarap lahan tanpa membakar. Kita masih harus memutar akal agar para pengusaha tersebut terbuka pintu hatinya bahwa membakar hutan, sungguh adalah perbuatan sia-sia.

Kalau perlu, diteriakkan betul ke telinga mereka, bahwa kita manusia ini cuma berstatus menumpang di alam ini. Apakah kalau ada penumpang yang membakar bus-nya penumpang itu masih waras?

Atau kalau perlu lebih kreatif, kita adakan sayembara lomba mengelola lahan tanpa membakar hutan. Saya yakin banyak orang cerdas Indonesia yang punya ide-ide cemerlang akan hal tersebut. Penemu teknologi 4G saja orang Indonesia kok, masak memikirkan cara membuka lahan tanpa pembakaran saja tidak bisa?

Namun yang paling perlu dipikirkan adalah bagaimana standar prosedur tersebut dapat diaplikasikan secara nyata di lapangan. Bagaimana setelah standar tersebut ada, benar-benar tidak ada lagi pembakaran hutan secara sengaja untuk membuka lahan.

Karena, bukankah kita sudah bosan sekian tahun terus – menerus masih mengurus masker untuk kabut asap ini? Karena bukankah entah sudah berapa juta hektar lahan yang rusak, berapa tumbuhan dan hewan di hutan yang terkorban sia-sia hanya demi kepentingan sekelompok orang (perusahaan)?

Bukankah sudah sepantasnya kita akhiri polemik kabut asap ini?

Karena itu, kalau ingin 2016 tanpa kabut asap mari kita bersama menyadari bahwa kita ini cuma penumpang di bumi. Dan tindakan membakar hutan, apalagi hanya untuk membuka lahan demi kepentingan bisnis dan keuntungan sesaat adalah tindakan yang – mohon maaf – dilakukan tanpa berpikir matang?

Untuk para pengusaha bukankah sudah waktunya berusaha mencari keuntungan tidak dengan jalan merugikan pihak lain? Bahagiakah anda mendapat sekian keuntungan sementara hutan habis membara dan ribuan orang sesak napas sementara langit kelabu diselimuti asap? Berartikah bagi anda sekian miliar profit perusahaan sementara jutaan tumbuhan dan hewan yang tidak berdosa apa-apa di hutan sana harus tewas terpanggang?

Sedikit pesan untuk pak Jokowi, sebelum banyak rencana nasional semacam pembangunan tol laut bapak wujudkan, maka lebih penting untuk mewujudkan 2016 bebas kabut asap pembakaran lahan pak, sungguh! Masak bapak tidak malu memimpin negara yang sekian tahun tidak kunjung beres-beresnya menyelesaikan kasus kabut asap?

Yang jelas pesan untuk kita bersama adalah mari mulai ikut menyumbangkan ide untuk membuka lahan tanpa pembakaran hutan. Setelah itu mari kita berkomitmen menjalankan dan mengawasi standar pembukaan lahan tersebut.

2016 adalah waktu kita untuk menghilangkan pembakaran-pembakaran hutan. Ya, kalau anda sudah bosan dan malu terus-menerus dikungkung kabut asap ini. Tapi kalau tidak, ya siapkan sajalah masker. Oh ya, mungkin kalau kabut asap ini dijadikan tradisi, anda bisa mengambil peluang bisnis menjadi pengusaha atau pedagang masker. Semoga beruntung.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya