Selama ini tentu kita sering dicekcoki dengan kalimat yang menyatakan bahwa, salah satu syarat untuk berhasil adalah meninggalkan zona nyaman. Ada anggapan bahwa berkutat dalam zona nyaman dapat menciptakan karir yang mandek dan begitu-begitu saja (stagnant).

Saya sendiri bukanlah seorang coach atau seorang profesional yang melatih orang-orang dalam dunia kerja. Masih jauhlah. Saya juga masih kuli biasa kok. Oleh karena itu tulisan ini hanya bersifat observasi dan pengamatan sehari-hari saja.

Advertisement

Tak jarang seseorang yang saya jumpai bertanya,”Rencana mau kerja disini terus?” Kadang saya jawab iya, tidak atau lihat nanti ajalah, gimana nanti aja. Kadang kalau saya jawab,”Enggaklah masa kerja di sini terus, harus ada kemajuan dong.”

Maka si penanya akan mengangguk-angguk dan menambahi dengan semangatnya, bahwa memang harus begitu kalau ingin maju. Tapi kalau sudah nyaman bagaimana? Saya bilang sih jangan buru-buru tinggalin kenyamanan itu, takutnya nanti menyesal.

Saya jadi ingat kisah Albert Einstein yang bekerja di kantor paten sebelum dia terkenal. Einstein sangat menikmati pekerjaannya dikarenakan pekerjaannya itu bisa membuatnya banyak membaca dan berpikir.

Advertisement

Nah dalam dunia kerja juga begitu, pasti ada saja orang yang berpikir,”Si anu kok gitu-gitu aja dari dulu ya, sementara si anu udah langsung jadi bos, tiap hari keluar kota.” Harus dipahami yang segala-galanya buat kamu belum tentu berharga buat orang lain. Mungkin benar, kayak Einstein, si orang tersebut sudah menikmati pekerjaannya dan sudah nyaman dengan posisinya saat ini.

Saya juga sering kok ketemu orang yang nolak di promosiin karena berbagai alasan pribadi.Ada yang merasa belum siap, sudah betah, dan berbagai macam alasan lainya. Jadi ya karir juga bukan segala-galanya, tiap orang punya pertimbangan sendiri-sendiri.

Oleh sebab itu hati-hati dengan pandangan umum yang bisa menyesatkan, seolah-olah meninggalkan zona nyaman adalah langkah pasti untuk berhasil, seolah-olah meninggalkan zona nyaman itu keharusan kalau ingin maju, ah nggak gitu juga lah ya.

Sebab pertimbangan seseorang saat menolak untuk pindah ke lain hati, maksudnya menolak penawaran karir, jabatan, sekalipun di iming-imingi tunjangan ini itu, lebih dari sekedar takut untuk ninggalin zona nyaman.

Ada beberapa pertimbangan yang sering saya temui di lapangan, nah apa aja sih yang bikin seseorang itu tidak mau meninggalkan zona nyamanya untuk suatu pencapaian yang lebih besar. Mau tahu? Teruslah membaca, asekk..

1. Gaji Tak Beda Jauh Tapi Tanggung Jawab Besar Banget

Dalam dunia kerja hal yang begini sering terjadi. Misal ada penawaran buat posisi kepala pada suatu divisi. Ada perusahaan yang biasanya tak cari dari luar, selain tak ingin beli kucing dalam karung, tentu jika orang dalam yang memegang posisi itu dia sudah lebih mengerti jobdesk nya, dan perusahaan tak perlu repot mengajari lagi.

Tapi apakah hal begini jadi peluang emas di mata karyawan? Tidak juga. Bagi mereka yang sudah tahu rahasia umum di balik jabatan itu pasti nolak.

Gaji tak beda jauh tapi harus pulang malam terus siapa yang mau? Tak salah sih, sebab orang kerja kan cari uang bukan cari jabatan. Itu sebab sekali pun mampu, ada saja orang yang menolak saat ditawari sebuah posisi, jadi ini bukan sekadar takut ninggalin zona nyaman. Tapi lebih pada sikap tegas, bahwa dari pada nanti menyesal, mending jangan di ambil sekalian.

Jadi kalau kamu anak baru dalam sebuah perusahaan, terus ngelihat dan dapat informasi kalau ada orang-orang yang sudah lama bekerja tapi ‘begitu-gitu dan di posisi itu saja’ jangan langsung anggap sepele atau mikir kinerjanya jelek.

Kayak yang sudah saya bilang, banyak kok orang-orang dengan kinerja bagus di sebuah perusahaan tapi nolak pas di promosiin. Alasannya ya itu, tanggung jawab nya besar, lebih diporsir tapi gaji tak beda jauh.

Artinya segala sesuatu yang dia dapat jika nerima sebuah posisi baru tak sebanding dengan kenyamanan yang sudah dia jalani saat ini. Betulah itu bah, hepeng do mangatur Negara on, uangnya yang mengatur Negara ini, tapi bukan uang yang mengatur kita, uang kan bukan segala-galanya.

2. Jobdesk yang Tak Sesuai dengan Kegiatan Pribadi Lain

Kayak Einstein yang betah dapat kerjaan nyantai biar bisa mikir dan nulis rumus relativitasnya. Sebelum mutusin pindah ke lain hati dengan maksud yang sama seperti di atas, cari tahu dulu dengan detail jobdesk yang bakal kamu jalanin kalau kamu terima sebuah tawaran.

Ingat loh, perusahaan kan bukan wanita yang bisa kamu gonta-ganti seenaknya (ceilaahhh) kalau kita sudah nerima sebuah tawaran, berjabat tangan, lalu SK-nya keluar jangan harap kalau nanti tidak betah bisa balik ke divisi sebelumnya kayak ngajak mantan balikan.

Kalau dibolehin sih nggak apa-apa, okelah. Tapi kalau ditendang gimana? Apalagi alasannya karena nggak betah, dan kangen suasana divisi sebelumnya. Itu sebabnya zona nyaman itu sangat berharga.Jangan sampai kita meninggalkan dan menukarnya untuk sesuatu yang tau tak mungkin bisa kita jalani.

Kebanyakan karyawan hidup dalam posisi yang begini-begini aja deh tapi sudah nyaman. Biar gaji pas-pasan tapi jadi berkat, hati tenang, bisa liatin gebetan, bisa kirim-kirim pesan dengan mantan, dan yang pasti bekerja dalam kebahagiaan. Menurut saya itu tidak salah, dan bukan pecundang seperti yang sering dikatakan motivator-motivator pada umumnya.

Semua orang punya kegiatan lain yang lebih penting, misalnya keluarga, main futsal dll. Pekerjaan paling indah ya pekerjaan yang bikin kita tidak keganggu untuk melakukan pekerjaan lain.

3. Jangan Mudah Terbuai dan Cari Referensi Sebanyak-banyaknya

Biasanya ada pekerja yang memang sudah bekerja tapi sambil nyari kerja. Jadi perusahaan yang dia huni sekarang bukan jadi batu loncatan tapi sekedar persinggahan tok.

Kalau baru kerja beberapa kali ijin bisa jadi dia lagi intervew tuh di tempat lain hehe. Tapi pada intinya banyaklah, tulisan ini bukan saya tujuin buat nulis daftar alasan kenapa jangan buru-buru dan alasan orang tidak mau ninggalin zona nyaman.

Tapi ya pada intinya itu, tidak sedikit yang menyesal setelah ninggalin pekerjaan atau pacar lamanya dengan sesuatu yang di pikir lebih.Tapi saat mau balik, hal itu sudah tidak mungkin. Satu lagi saya kasih tips, jangan terlalu mudah untuk percaya dengan tawaran yang dikasih kekita, cari dulu referensi sebanyak-banyaknya dari orang yang sudah menjalaninya, siapa tahu bisa jadi pertimbangan.

Sebab akhir-akhir ini nyari kerja agak susah, kalau sudah dapat kerja yang nyaman tapi gaji nge-pas ada baiknya cari tambahan di luar. Nggak ada yang gampang sih, ya namanya juga usaha.

Sebab seorang Andrea Hirata juga cuma pegawai pos, dia bisa jadi Andrea Hirata kayak sekarang ini karena menulis buku yang bagus. Jadi kesimpulannya ninggalin zona nyaman tidak mesti di area kerja.

Kalau kamu sudah dapat kerja yang nyantai dan bisa bikin kamu banyak membaca dan menulis, terus cita-cita kamu memang jadi penulis, itu namanya peluang emas.Jadi kamu kerja saja di zona nyaman itu, tapi diam-diam keluar dari zona nyaman lewat jalur alternatif, yaitu memberanikan diri untuk menulis buku. Sekian.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya