Kamu punya teman? Seberapa dekat? Hanya dekat? Sangat dekat? Atau terlalu dekat? Sebagai makhluk sosial sudah barang tentu mempunyai teman adalah suatu kebutuhan. Mungkin tidak banyak yang tahu, tetapi memiliki teman merupakan salah satu ciri kebutuhan pengakuan terhadap diri sendiri, bahwa kita layak untuk ditemani; didekati; didengarkan; disayangi; diakui; dll.

Namun, memiliki teman bisa jadi merupakan pisau bermata dua. Banyak yang memiliki pengalaman sering berbagi cerita dengan teman terdekatnya, hingga suatu saat mereka membeberkan aib/rahasia kita kepada publik. Miris bukan?

Berdasarkan beberapa cerita dan saringan dari berbagai narasumber yang telah author wawancara, ada ciri-ciri yang dapat kita amati apakah teman kita adalah teman ataukah musuh dalam selimut. Nih, simak baik-baik deh biar nggak terlalu panjang mukhodimahnya hehehe.


  1. Dekat hanya ketika membutuhkan bantuan

Teman yang hanya datang ketika ia dalam kesulitan dan membutuhkan bantuan tangan kita bukanlah teman yang dapat dipercaya sepenuhnya. Terkadang banyak dari kita yang memilik rasa iba dan sering mengulurkan tangannya untuk membantu teman sejawat di saat mereka dalam kesulitan. Namun, tak jarang dari kita menginginkan imbalan dari bantuan yang kita berikan.

Yakni, kita sering ingin didengarkan oleh seseorang untuk menceritakan keluh kesahnya. Ini merupakan sikap yang kurang bijaksana ketika sesama teman kita menggunakan kesempatan dan memperoleh keuntungan masing-masing. Kenapa? Mengakulah, tidak disemua kondisi kita bisa berbagi cerita tentang kondisi kita yang terpuruk yang bersifat non-material, dan sering dari kita ingin meluapkannya tetapi tidak tau ingin cerita kepada siapa.

Inilah kesalahan yang banyak dilakukan oleh para remaja jaman sekarang yang akan memanfaatkan satu sama lainnya, di mana teman yang ingin pertolongan akan melakukan apapun agar memperoleh bantuan, termasuk mendengarkan cerita membosankan dan sama sekali tidak mempunyai rasa ketertarikan ataupun simpatik maupun empati, yang ada hanyalah perhatian palsu belaka.

Maka dari itu jangan memanfaatkan kondisi dimana kita tengah membantu teman untuk bisa mendengarkan keluh kesah kita, bisa jadi dia tidak prihatin sama sekali, dan yang paling parah dia bisa saja mebeberkan kepada khalayak ramai.

2. Rasa keingintahuan masalah pribadi yang sangat besar

Huft!! teman yang baik tidak ingin mengorek-orek aib temannya sendiri jauh lebih dalam. Keingintahuan yang berlebihan bisa saja menjadi "duri dalam daging". Suatu tipu muslihat yang dibalut dengan rasa keprihatinan.

Teman yang baik akan mencoba menghibur temannya ketika ia tahu bahwa temannya sendiri tengah bersedih tanpa harus tahu lebih jauh. Karena rasa iba tidak seperti apa yang akan tambah besar jika disulut dengan minyak. Rasa prihatin yang tulus merupakan saraf neuron yang akan langsung merespon apa yang tengah disentuh tanpa mencari tahu lebih jauh.

Oleh karena itu berhati-hatilah disaat teman mu mencoba untuk memancing penderitaan mu untuk diceritakan lebih dalam.

3. Menceritakan aib orang lain didepan mu

Hayo??? Siapa yang suka ikut-ikutan ngegosip disaat ada gosip terbaru? Semua orang pasti akan tergoda untuk mengetahui aib orang lain dan saling bercerita satu sama lainnya tanpa harus meminta klarifikasi dari orang yang berkaitan.

Teman yang selalu menggosipkan teman yang lain sudah barang tentu bukanlah teman yang bisa diandalkan untuk berbagi cerita. Maka dari itu jangan menceritakan aib mu ataupun rahasia mu pada orang yang suka bergosip dengan mu sendiri.

4. Tidak pernah mengalah kepada sesama

Teman yang memiliki sifat tidak mau mengalah ataupun mau kalah memliki kecenderungan untuk rasa balas dendam yang tinggi. Apabila kamu mempunyai masalah kepada teman yang memiliki teman yang memiliki sifat seperti ini dan ia menyimpan beberapa rahasia mu, was-was lah apabila rahasia atau aibmu akan terbongkar dan tersebar di depan publik.

Maka dari itu, timbulkanlah rasa was-was dan selektif jika ingin bercerita. Apabila merasa kan kesedihan tentunya kita ingin meluapkan nya dengan bercerita dengan seseorang, cobalah untuk mulai selektif dalam mebagikan kisah terburukmu dan saat-saat terpurukmu. Tumbuhkanlah kebijaksanaan dalam diri sendiri, dan cobalah untuk bersikap dewasa dalam menghadapi masalah, jangan sampai disaat kamu terpuruk akan tambah terpuruk lagi lebih jauh karena hal-hal seperti di atas :)

NB: jangan karena artikel ini kamu malah menimbulkan sifat curiga terhadap temanmu sendiri /(=3=)/

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya