Ikut Organisasi atau menjadi aktivis adalah salah satu sisi lain cerita dari kehidupan di kampus, sebenarnya nggak cuma kehidupan kampus saja sih, di kehidupan putih abu-abu dan putih biru tua kita juga sudah dikenalkan dengan yang namanya organisasi. Emang dasarnya aja penulis baru sekali ikut berorganisasi ketika hidup di kampu. Dan perbedaannya hanyalah pada atmosfer dan lingkungan serta cakupannya saja. Eh jangan salah meskipun hanya cakupannya saja efeknya besar loh… Dalam organisasi umumnya kita bakal kenalan dengan yang namanya proposal, jabatan yang telah dibagi berdasarkan karakteristik pekerjaannya, relasi, softskill dan masih banyak lagi. Inilah kenapa banyak sekali cerita dimana orang yang pernah merasakan hidup di organisasi baik itu sekolah ataupun kampus akan lebih bernyali ketika mereka mulai bekerja. Ternyata ketika aktif dalam organisasi kita akan melewati 3 level yang nantinya akan terlihat mencolok ketika kita bekerja. Di antaranya adalah

  1. Level Newbie

    Ini adalah tahap dimana orang baru pertama kali menginjakan kaki di organisasi yang ia ikuti. Mereka hanya berpegang pada sedikit motivasi saja ketika ikut berorganisasi seperti ingin punya banyak teman mungkin, dihipnotis bisa jadi, diajak teman ikut-ikut saja, ada modus perkenalan dengan si doi bisa jadi, atau pengen mendalami bidang organisasinya misalnya gabung di komputer club hanya karena ingin tahu apa itu disket. Begitu tanpa tahu apa yang akan terjadi nanti ketika dia sudah ada di dalamnya. Ini persis ketika orang pertama kali masuk kerja tanpa ada sedikit pengalaman di organisasi. bingung mau ngapain, bingung mau kemana, bingung aku siapa. plolah ploloh lah pokoknya. Level ini tentu saja membutuhkan bimbingan dari senior yang sudah berpengalaman. Tentu saja ini akan mengetes apakah si newbie mau dan punya inisiatif untuk dibimbing atau hanya berdiam diri saja. Jika newbie punya inisiatif maka dia akan lanjut ke level berikutnya. Sedangkan jika newbie hanya diam saja maka berharap saja takdir yang menentukan apakah senior mau kenal kamu duluan ? Kalo iya maka kamu orang yang bejo. Pada level ini saja kita sudah belajar softskill ya. Ayo jangan malu-malu berinisiatif kalo niat ikut organisasi. Malu membuatmu hanya sampai pada gerbang Selamat Datang Dufan saja tanpa tahu apa itu halilintar, Go Kart, Karaoke Club, loh…

  2. Level Profesional

    Level profesional adalah level dimana orang sudah setahun dua tahun lah dan selalu aktif dalam kegiatan organisasi yang ditekuni. Dia sudah tahu apa itu proposal, pembagian jabatan, bagaimana berelasi, memecahkan masalah, baris berbaris, milih playlist lagu, loh…. Mereka berpegang teguh pada rule atau aturan dan kebiasaan yang mengakar pada organisasi tersebut, maka mereka sudah pantas untuk membimbing para newbie dalam berorganisasi. Mereka sudah terbiasa dengan atmosfer organisasi sehingga paham dan bisa melakukan pemecahan masalah ketika proses mengalami kendala karena tujuan sudah sangat jelas. Menemukan cara ketiga dan keempat dalam memecahkan masalah adalah keahlian mereka karena mereka pernah mengalami kegagalan pada cara pertama dan kedua. Mereka yang masuk level ini tidak akan bingung ketika pertama kali terjun ke dunia kerja, karena sebenarnya prinsipnya sama. Baik itu alur administrasi, konsep manajemen, bahkan softskill yang kita dapatkan dalam organisasi sangat membantu ketika terjun ke dunia kerja, seperti pemecahan masalah, keberanian mengemukakan pendapat, Tahu harus mulai dari mana dan mau kemana bahkan tidak lupa dirinya siapa hanya mungkin bedanya birokrasinya lebih panjang. Nah inilah suka yang akan didapatkan di dunia kerja dari duka berorganisasi di kampus. Mereka sudah tahu harus ngapain atau setidaknya harus mulai dari mana ketika semua rule sudah dipahami.

  3. Level Creator

    Jangan menduga dulu kalo level kedua sudah cukup, karena sebenarnya masih ada level ketiga. Ini adalah level dimana orang tidak hanya sudah sangat berpengalaman seperti level kedua tetapi juga paham dan memikirkan kenapa organisasi yang dia ikuti ada. Yes yes ketika level kedua sudah cukup dan puas saat mereka sudah memahami, mengikuti dan memenuhi checklist standar rule dari organisasi, maka level ketiga ini sadar bahwa sebuah rule pasti ada yang menciptakan. Mereka adalah level creator. Mereka sangat antusias untuk menciptakan kegiatan-kegiatan dan inovasi. Belum puas dengan rule yang sudah ada. Tentu saja ini beresiko dan sering kali menuai banyak kontra bisa jadi dari alumni maupun senior. Dan jangan salah landasan ketika berinovasi, antara mau lebih menaikan rating dan ketenaran nama atau mengedepankan kenapa dia menciptakan konsep kegiatan baru. Tidak mudah untuk sampai ke level tiga ini.

    Bedanya adalah level dua hidup dari sebuah rule yang memiliki tujuan. Tetapi ketika tujuan yang ingin dicapai tidak lagi valid maka dia akan mati karena dia tidak terbiasa menciptakan rule baru. Sedangkan level ketiga sudah siap karena mereka adalah sang pembuat rule, pemilik tujuan / visi dan tahu mengapa mereka melakukan hal itu. Dalam dunia pekerjaan mereka adalah calon pemimpin atau creator perusahaan bahkan tidak sedikit mereka yang memulai usaha sendiri karena mereka sadar mereka tidak puas hanya mengikuti rule saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya