Setelah lama tidak meninggalkan jejak di bumi, pada akhirnya saya mengetikkan kembali kata-kata ini. Sebenarnya ini adalah sebuah resume permintaan sahabat-sahabat terbaik saya perihal kajian yang saya hadiri di Mesjid UI dan disampaikan oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahan. Karena mereka yang meminta, bagaimana saya bisa menolak? Lagi pula sepertinya ini baik untuk dibagikan khususnya bagi para calon orangtua atau para orangtua.

Langsung saja, pembicaraan pertama yang ada di kepala pembaca ketika ditanya surah apa dalam Al-Qur’an yang dianjurkan untuk dibaca oleh ibu yang sedang mengandung? Yup! Betul, Q.S Yusuf dan Maryam. Kesalahpahaman akan makna dari tujuan pembacaan surah ini adalah apa? Ketika yang dijadikan tujuan adalah "paras". There’re so many people, include me beranggapan seperti ini "Sedang mengandung, banyak baca Q.S Yusuf biar anaknya jadi ganteng. Baca Q.S Maryam biar anaknya cantik." Actually, that’s not the big value.

Well, okay paras yang tampan memang hal yang jelas [dimiliki oleh nabi Yusuf a.s yang mana setengah ketampanan dari penduduk bumi menjadi haknya. Bisa bayangkan setampan apa? Artis-artis Korea dan Barat itu dijamin kalah jauuuuh sekali. Tapi yang terpenting dari tujuan pembacaan QS Yusuf itu sebenarnya agar anak menjadi sosok yang TANGGUH seperti Nabi Yusuf a.s. Yaa! Jika dibaca artinya, dalam surat tersebut jelas menceritakan kisah hidup seorang Yusuf a.s yang bertahun-tahun mulai usia 7 hingga belasan tahun kemudian mengalami begitu banyak ujian. Begitu harapannya, agar anak menjadi sosok yang tangguh dalam mengarungi kehidupan yang tak selalu manis.

Kira-kira apa yang membuat Yusuf begitu tangguh? Usia 0-7tahun sebelumnya, beliau memperoleh hak-haknya sebagai seorang anak dari orangtuanya, Nabi Yakub a.s. begitu cintanya kepada anak-anaknya terlebih pada Yusuf. (Kisah ini bisa dibaca lebih jelas pada sumber lain ya hehe)

Apa saja hak-hak yang harus dimiliki anak-anak? Hak akal, hak jasad, hak ruh.

Pertama, akal bisa berupa hal-hal berisi tantangan yang membuat anak berpikir serta bertanggungjawab. Misalnya dengan diskusi dalam memutuskan masalah, membaca buku, mengerjakan tugas rumah sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat dan disepakati bersama dalam keluarga, hal ini juga dilakukan oleh Nabi Yakub kepada Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya. Ada banyak hal lagi yang saya yakin pembaca saya jauh lebih pandai (jika ada yang membaca ini).

Kedua, jasad. Orangtua pada zaman sekarang ini jelas sekali memerhatikan bagian ini. Alhamdulillah. Semakin literate terhadap kebutuhan ini. So i think i dont have to tell much about this. Makanan, asupan gizi, olahraga, everything about health.

Ketiga, ini bagian paling penting yang tidak boleh dilewatkan para orangtua. Ruh. Lebih tepatnya hati, pernah membaca hadits ini? Sepertinya pernah "Ada segumpal daging yang jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Jika ia buruk, maka seluruh tubuh akan buruk." Hati. Dalam hatinya, anak-anak…. the first thing yang harus kita tanamkan adalah Tauhid. Allah itu satu. Satu-satunya. Tempat bergantung segala sesuatu. Ketika mereka merengek misal karena bertengkar dengan saudaranya atau karena ia tidak bisa melakukan sesuatu yang ia inginkan, you’ve to tell them "tell it to Allah" Kenapa? Karena kita sebagai orangtua tidak akan selamanya bisa berada di sisi mereka, tidak selalu bisa membantu mereka, tidak selalu bisa memberikan apa yang ia minta, tapi Allah "bisa". Setelah itu, harapannya adalah ketika nanti besar mereka mengahadapi ujian mereka akan sadar dengan sendirinya bahwa mereka sudah berusaha dan Allaah ada, mereka tidak perlu takut karena di hatinya Allah ada. Dan yang membuat diri seseorang kuat bukan dirinya sendiri, melainkan sebab pemilik nyawa memberi kekuatan. They will know that. Aamiin.

Itu dia hak-haknya, dalam pengiringannya tentu anak juga harus diberi pemahaman sedini mungkin perihal apa yang disebut dengan "need and want". Kita harus tegas soal itu. Misalnya, bagi bayi hingga usia 2 tahun ASI adalah sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh sang Ibu. Sedangkan ketika lebih dari usia itu, ASI hanya sebuah kebiasaan yang diinginkan oleh anak. Ibu harus bisa mengkondisikan itu tentunya bekerja sama dengan Ayah bahwa menyayang tak selalu berarti memanjakan dan memberi apa saja yang anak inginkan. Hal itu dilakukan agar anak paham bahwa tidak selalu yang diinginkannya akan ia dapatkan, tapi ia tahu bahwa ia akan memeroleh apa yang ia butuhkan. Allaah pun begitu. Ia akan paham itu, jadi ketika sudah besar pun misal ia menerima penolakan-penolakan yang menyakitkan ia akan tangguh karena sebelumnya ia pernah ditolah oleh Ibu dan Ayahnya yang adalah dunianya.

And in the end. Rihlah itu perlu bagi seorang anak. Biar ia mengenali betapa besar dunia ini, betapa MahaKuasanya Pencipta Bumi ini. Ah.. ini idaman sekali.. one day.. one day jika memang suamiku kelak memenuhi inginku, ingin sekali berjalan mengelingi Indonesia ini bersama menghabiskan waktu lebih dekat dengan Pencipta semesta.

Baiklah, dari pada makin baper sendiri. Lebih baik saya sudahi. Semoga memberi manfaat bagi saya. Bagi sahabat-sahabat saya. Bagi pembaca. Jika ada kesalahan, namanya juga manusia yang belajar.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya