“Kamu itu egois!”

“Kamu tu sok tau”

Advertisement

Pernahkah anda mendapatkan kata-kata itu terlontarkan atau keluar dari mulut orang lain dan objek yang dituju adalah diri anda? Mungkin ada yang menjawabnya dengan sering, kadang-kadang, pernah. Hal ini karena kita tidak akan pernah luput dari pandangan orang lain. Segala gerak-gerik yang kita lakukan akan terus dipantau oleh orang yang ada di sekeliling kita. Fenomena aneh yang mungkin bisa ditemui bersama adalah ketika mendapati kebaikan yang ada pada diri kita, orang akan bersikap cuek dan terkesan biasa serta tidak mudah terpublikasi.

Ini bukan berarti mengajari untuk selalu berharap disebut-sebut kebaikannya, bukan. Ini hanyalah penjelasan dari fenomena yang ada. Namun ketika didapati sebuah keburukan ada pada diri kita, secara cepat langsung mudah meluas.

Kalau coba dibawa pada kehidupan reformasi ini bisa dikaitkan dengan Presiden Indonesia. Ketika berbagai kebaikan yang dilakukan oleh Presiden, maka terkesan itu adalah perkara biasa. Seperti pada kasus kabut asap dimana pengerahan segenap sumber daya untuk meredakannya justru ada yang menanggapi secara negatif. Namun ketika Presiden berbuat kesalahan yang mungkin manusiawi justru dihujat dengan hujatan yang keji. Dan saking bencinya kepada Presiden, pada suatu instagram yang pernah saya lihat, ada yang mengedit gambar Presiden menjadi gambar yang tidak semestinya. Na’uudzubillah.

Advertisement

Lebih celaka lagi jika berita tentang keburukan itu adalah berita bohong yang tidak terbukti kebenarannya. Tentu akan menimbulkan fitnah yang berakibat buruk pada orang yang diberitakan. Nah, kembali kepada tema kita, yaitu masalah perkataan manusia. Manusia yang memiliki mulut satu buah dan telinga dua buah mengisyaratkan untuk banyak mendengar dan sedikit bicara. Mengapa begitu? Dengan banyak mendengar (tentu lebih utama mendengar kebaikan) maka akan banyak ilmu yang masuk kedalam dadanya. Sedangkan sedikit bicara karena lidah ibarat pedang yang lebih tajam dari pedang aslinya karena dengan banyak bicara dikhwatirkan akan banyak kebohongan dan perkara buruk yang keluar dari lisannya.

Masih ingat kisah Luqman Al-Hakim bersama dengan anaknya yang menunggangi tunggangan (dalam riwayat yang saya baca, tunggangan itu adalah keledai)? Ketika keduanya menaiki tunggangan tersebut orang mengomentari bahwa tunggangan itu keberatan dengan dua orang yang menaikinya. Kemudian anak Luqman yang menaiki tunggangan sedangkan Luqman berjalan. Orang pun mengomentari dengan mengatakan bahwa ia adalah anak yang durhaka pada orang tuanya dan tega membiarkan orang tuanya berjalan kaki. Kemudian Luqman menaiki tunggangan dan anaknya gantian berjalan kaki. Orang pun mengomentari bahwa Luqman tidak kasihan kepada anaknya dan tega membiarkan anaknya berjalan kaki sendiri. Kemudian keduanya berjalan kaki tanpa menaiki tunggangan. Seperti biasa, dikomentari bahwa keduanya aneh, ada kendaraan kok nggak dinaiki.

Seperti itulah fenomena kehidupan ini. Seorang ahli pernah mengatakan bahwa anda bergerak atau anda tidak bergerak, anda akan dikritik. Oleh karena itu lakukan saja sesuatu yang menurut anda benar. Ketika sudah menetapkan hati untuk melakukan sesuatu yang itu insyaAllah baik dan benar, maka apa kata orang yang bersifat negatif tidak usah dipedulikan, namun ketika ada kritik yang membangun maka tanggapilah secara positif.

Semasa SMA, saya pernah masuk berbagai organisasi yang menekankan disiplin setengah militer. Nah, pada saat test (kawan-kawan menyebutnya itu tes mental) saya disuruh untuk melakukan sesuatu. Saat itu saya bertanya terlebih dahulu “Apa tujuan dari ini?” namun alih-alih dijawab, saya justru dibentak sambil disiram air. Akhirnya dengan terpaksa saya penuhi semua keinginan dari instruktur saya itu. Diakhir tes itu saya dibilang sebagai orang yang “sok” dan sombong. Kemudian kira-kira seminggu kemudian saya tidak hadir saat latihan dan saat itu juga saya dibilang sebagai orang yang egois.

Dalam hati tentu saya bertanya, darimana sombong saya dan darimana egois saya? Sombong dari yang saya pelajari adalah menolak kebenaran dan membanggakan apa yang dimilikinya, seperti kisah Qarun, Fir’aun dan lain-lain. Egois itu adalah mementingkan kepentingan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Contohnya adalah orang yang merokok disamping ibu hamil atau anak-anak.

Saya terus instropeksi diri dan waktu itu memang segala yang disebut oleh instruktur tadi tidak bisa saya pahami dan saya cocokkan pada diri saya. Ternyata setelah saya konsultasikan pada dua orang yang saya anggap mentor menyatakan bahwa saya memang bukan seperti yang mereka lontarkan. Dari sana saya dapat pelajaran untuk tetap bertahan pada prinsip yang telah diyakini kebenarannya dan menganggap olokan itu sebagai bentuk perhatian seseorang karena telah memperhatikan kita. Kisah ini saya angkat bukan untuk membanggakan diri, bukan untuk menjelekkan orang lain, melainkan untuk berbagi pelajaran kepada kita semua.

Semoga bermanfaat

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya