Jumat, 1 Juni 2018 kemarin, kita telah memperingati hari lahirnya Pancasila. Namun apa yang kita peroleh dan kita maknai dari peringatan hari tersebut? Akankah hari tersebut tak memiliki makna sama sekali di hidup kita? Atau hanya menjadi Hari Libur Nasional saja?

Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang telah dirumuskan dan ditempa selama perjalanannya menuju Indonesia yang merdeka dari penjajahan. Hari Lahir Pancasila pun diperingati di setiap tahunnya pada tanggal 1 Juni. Pancasila adalah pedoman untuk menjalankan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di bumi Indonesia demi mewujudkan Indonesia yang sejahtera. Namun jika kita melihat keadaan Indonesia saat ini, sungguh miris dan sama sekali bukan harapan luaran dari sistem Pancasila itu sendiri.

Advertisement

Jika kita menengok negara lain dengan ideologi liberalis, negara mereka terlihat maju sekali dengan teknologi mereka yang canggih. Namun dibalik itu mereka meninggalkan bekas-bekas sakit dan pedihnya hidup pada golongan yang tak mampu seperti kaum buruh.

Jika kita menengok negara lain dengan ideologi sosialis, kita akan mendapati tidak adanya kesenjangan antara masyarakat itu sendiri. Namun hak-hak kepemilikan dan berkreasi mereka telah dibatasi oleh negara.

Kalau begitu bagaimana dengan negara kita? Negara dengan ideologi gabungan dan kesimpulan dari seluruh ideologi yang ada di dunia. Seharusnya kita lebih dulu maju karena Pancasila memberikan kebebasan bagi individunya dan melindungi individunya dari eksploitasi.

Advertisement

Kita sebagai warga Indonesia dan penerus bangsa, sudah sepatutnya mengoreksi apa yang salah dari Indonesia. Tidak usah jauh-jauh, mari kita koreksi diri kita terlebih dahulu sembari bercermin pada sila-sila Pancasila.

Marilah kita bercermin kepada sila-sila Pancasila dengan diri kita sendiri.

Dimulai dari sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini menekankan bahwa seluruh warga negara Indonesia adalah kaum beragama. Bukan sekedar status, tapi juga implementasinya. Apakah kita semua sudah begitu? Jawabannya ada pada diri kita sendiri.

Jika kita memang umat beragama mengapa harus merendahkan agama lainnya? Mengapa harus mengganggu peribadatan umat beragama lainnya? Mengapa hidup berdampingan dengan umat beragama lainnya seakan begitu sulit di Indonesia ini? Maka dari itu marilah kita menjalankan perintah agama masing-masing tanpa harus mengganggu umat beragama lain dan saling bertoleransi kepada sesama.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Pada sila ini menekankan kita sebagai warga negara haruslah saling menghormati dan memanusiakan manusia lainnya.

Jika Dalam kehidupan berkeluarga, sudahkah kita menghormati dan menyayangi anggota keluarga kita? Dalam kehidupan pekerjaan, sudahkah kita menghargai rekan kerja kita? Dalam kehidupan bermasyarakat, sudahkah kita memanusiakan tetangga-tetangga kita? Mari bersama-sama kita lebih memperhatikan orang-orang di sekitar kita, sehingga orang-orang di dekat kita mampu hidup sesuai sila kedua ini.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Bercermin dari kejadian bom di Surabaya, setelah peristiwa tersebut kita saling menuduh dan menuding pelakunya dari umat beragama tertentu. Seharusnya dari kejadian itu kita bisa mengambil hikmahnya yaitu bersatu untuk melawan teroris yang berusaha memecah-belah Indonesia.

Sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Kita sebagai warga negara Indonesia telah menitipkan amanah kepada pemimpin dan perwakilan kita. Namun apakah mereka telah memberikan contoh bagaimana gotong royong dan bermusyawarah yang benar?

Jika kita merasa belum puas dengan kinerja mereka, marilah kita memulainya dari diri sendiri dengan cara melatih diri untuk memecahkan masalah secara bersama-sama melalui berbagai cara seperti ikut berorganisasi, membantu rekan yang kesulitan, dan berusaha memecahkan masalah di lingkungan sekitar.

Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kata-kata keadilan bukan berarti persamaan melainkan penyesuaian sesuai kondisi dan tempatnya. Jika para hakim kita menyamakan hukuman korupsi dan pencurian hewan ternak, itu adalah persamaan dan bukan merupakan keadilan.

Namun sebelum menyalahkan orang lain, sudahkah kita berlaku adil kepada orang lain? Membuang sampah pada tempatnya merupakan bentuk keadilan kecil karena kita telah berusaha tidak mengganggu hak-hak orang lain. Tidak mengambil memakan gaji buta juga merupakan bentuk keadilan dimana kita tidak mengambil yang bukan merupakan hak kita. Sudahkah kita melakukannya?

Maka dari itu, sebelum kita mengubah perkara yang besar mari kita ubah diri kita sendiri terlebih dahulu, dengan cara membiasakan adab-adab yang baik seperti membuang sampah pada tempatnya, mengikuti rambu lalu lintas, dan mengikuti aturan-aturan bernegara yang ada.

Dengan langkah kecil kita yang dimulai dari diri sendiri akan menjadi langkah besar jika kita melangkah bersama. Mari kita bersama-sama bergerak menuju Indonesia yang lebih Pancasila.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya