Aku memang bodoh, sekarang aku berdiri di sudut dalam kesunyian manyaksikan kamu memeluknya, dunia terasa gelap seakan aku tak mampu tuk berdiri, hatiku roboh. Kamu tertawa tanpa mengingatku. Terasa penyesalan dalam diriku secepat itu kamu mendapatkan penggantiku.

Salahku..iya memang keputusan bodoh dua bulan lalu yang pernah aku lakukan kepadamu, Begitu saja terucap kata putus dari mulutku, yang biasanya merangkai kata-kata manis untukmu, agar kamu selalu tersanjung dan tersenyum. “gombal” kata itu yang sering kamu lontarkan kepadaku saat ucapan-ucapan manis yang aku sisipkan di sela-sela sunyinya malam saat kita bertemu. Aku teringat kalimat yang kamu ucapan dari bibir manis mu “aku hanya mencintaimu sekali saja sayang…tapi untuk selamanya, jadi ku mohon jangan campakan aku, saat itu terjadi aku tidak memiliki alasan untuk kembali” janji mu itu seharusnya aku jaga dengan baik tapi aku malah menghancurkannya, hanya karena ego dan tanpa kendali telah ku mencabut separuh jiwaku dan tak akan pernah kembali lagi.

Advertisement

Kini dadaku sesak, ragaku rapuh, sungguh aku cemburu melihatmu bahagia tanpa aku. Apakah mungkin Tuhan mau kembali mengetuk pintu hatimu untuk kembali padaku, aku sadar aku terlalu egois dan aku bukan satu-satunya pria yang ingin memilikimu, begitu banyak yang menantimu, hanya akulah satu-satunya yang tega menghancurkan janji sucimu itu.

Angin malam kini teman yang paling setia mendampingiku mencoba menyebarkan kedinginan dalam hatiku yang sedang luka, cemburu menyaksikan jemari-jemarimu menggengam tangan laki-laki yang tak ingin aku kenal. Senyummu yang biasanya untukku kini hanya ku tatap diam-diam. Sebenarnya aku ingin bahagia melihatmu mendapatkan penggantiku, tapi sayang hatiku begitu berat melihat laki-laki lain disisimu, Aku sangat cemburu.

Mungkinkah ini hanya mimpi buruk, dan saat aku terbangun dadaku tidak terasa sesak lagi, aku bisa menatap wajahmu yang dengan senyum manis sedang jemarimu menyentuh wajahku, tapi sayang ini tidak nyata, wajah mu, senyummu genggamanmu, dan kasih sayangmu kini hanya bisa aku rasakan dalam mimpi, ku berharap mimpi yang panjang dan aku tidak mau terbangun dari mimpi indah ini yang dulunya adalah nyata.

Advertisement

Penyesalan memang selalu datang terlambat, apalah daya kini hanya tinggal kenangan kau dan aku. Ingin ku pinta hujan yang biasa mengguyurku menyampaikan kepadamu bahwa aku sedang menangis menderita tanpamu. Ingin ku rayu angin untuk meniupkan bisikan ketelingamu bahwa aku rindu setengah mati. Namun sayang…angin juga tidak mau lagi memberikan kesegaran kepadaku, hujan juga selalu menghadang jalanku. Aku terpuruk…benar-benar terpuruk, haruskah aku menangis kencang ditengah keramaian agar kau mendengarku? Tapi aku tak berani, rasa malu dari kesalahanku sendiri yang membuatmu pergi ,telah mengekang semua hasratku.

“Ikhlas” munkin hanya kata itu yang harus aku coba torehkan disetiap dinding-dinding lunak hatiku, meski itu berat karena cemburu ini tak pernah mau hengkang dalam benak hati yang rapuh ini, namun aku tak mau rakus untuk merangkul mu kembali, inilah tumbal dari kesalahan yang aku perbuat dan Aku tak yakin, waktu dapat menghiburku melewati rasa ini. biarlah cemburuku menjadi milikku seutuhnya dan akan ku jaga agar kau tidak mengetahuinya dan bahagiamu tetap untukmu dan aku tak akan mengganggunya, biar perih rasa hati ini, aku akan berusaha menghibur nya dengan melihat senyummu dari sudut yang tak pernah tampak olehmu. Untuk kamu yang pernah ku sakiti, aku akan selalu cemburu melihatmu bahagia namun takkan kubiarkan kau tahu rasa itu karena cemburu itu hanya layak untukku bukan untukmu padaku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya