Kamu, terima kasih telah menjadi alasan aku merindu sedalam ini. Aku masih tidak percaya kamu yang amat sangat menyebalkan mampu menghadiahi aku perasaan semacam ini. Kamu yang selalu bersikap biasa saja saat kita menyambung jarak lewat telfon, kamu yang tidak pernah memperlihatkan kesenduan suasana hatimu. Ya, kamu memang seperti itu, meski pun demikian aku rindu. Aku, merindukan hangatnya cahaya terang yang selalu bisa aku dapatkan dari senyummu. Aku tahu jarak kita jauh, tak ada yang mampu kita lakukan selain saling menjaga lewat doa. Denga-Nya, aku mampu meminta segala hal yang aku harapkan untukmu dan untuk kita. Sungguh, tak ada yang lebih indah dari semua pengharapan kepada-Nya.

Rindu itu bertemu bukan berat, untuk bertemu juga tidak berat. Kita dekat, bahkan sangat dekatnya kita hanya berjarak satu jengkal saat kita saling mendoakan. Aku juga bisa merasakan sejuknya sepertiga malam bersama sang Illahi Rabbi. Di sana aku biasa menceritakan semua tentang kita, tentang rindu ini. Di sana pun aku mampu yakin bahwa kamu akan selalu baik-baik saja dalam penjagaan-Nya. Kita tidak jauh, terlebih saat aku terhanyut dalam tidurku dan kamu bertamu di dalamnya. Tuhan sangat baik, Dia menciptakan segala rasa rindu ini dengan banyak cara untuk mengobatinya.

Aku juga berterimakasih, karena kamu aku mengerti bagaimana caranya menahan emosi untuk bertemu. Karena kamu aku juga mengerti rasanya berkelahi dengan hati kecilku yang begitu egois.


Sekali lagi kita tidak jauh, kamu hanya perlu mendoakanku.


Terakhir aku hanya ingin berucap, terima kasih telah menjadi melodi di hambarnya redup laguku, telah menjadi suara di heningnya ronggaku, telah mewarnai cerita senduku dengan keberadaanmu. Terima kasih telah hadir dengan ribuan cahayamu untukku. Maaf bila aku bising, rindu ini buatmu penat, maafkan aku dan cerita kecilku ini karena kami hanya sama-sama merindukanmu.