Catatan bangsa, apa yang ada dipikiran kamu saat membaca kalimat ini? Pasti kamu langsung menduga isinya adalah tentang bangsa ini lengkap dengan segala uraian atau cuplikan yang menggambarkannya baik itu carut-marut atau suka cita. Coba dikenang atau diingat apa saja yang kamu thu tenatng bangsa ini.

Saya memahami pepatah bahwa dari proses perjalanan membaca dapat membawa kita berkeliling dunia atau kita bisa mengubah dunia, jika pepatah ini merupakan kutipan dari seseorang saya benar lupa siapa pencetusnya, jika tidak ada berarti saya menemukannya dari perjalanan.

Advertisement

Catatan bangsa merupakan salah satu dari sekian banyak buah karya yang lahir dari para pengamat dan penikmat negeri kita yang sungguh tercinta ini. Kumpulan artikel yang ada di dalamnya diberi judul yang menyayat hingga naluriah kita terpancing untuk membaca penjabarannya. Rasa haru meledak pada bagian ke tujuh dengan judul bingkisan air mata untuk 1928. Bagian ini menjadi sebuah titik terbesar dari catatan bangsa. Beliau menjabarkan dengan bahasa yang lugas. Tak perlu berpikir berat untuk dapat memahami apa yang disampaikannya, jadi bacaan ini bisa dibaca mulai dari tingkat SMP hingga kamu pada hari ini.

Kita telah mulai melupakan perjuangan yang pernah hidup dalam negeri ini, atau kita hanya melakukan menyesuaian diri agar sejalan dengan globalisasi. Tanggal 10 November lalu kita masih melakukan upacara dalam memperingati Hari Pahlawan terdahulu dan di tanggal 25 November kita juga akan melakukan upacara Hari Guru. Sudahkah kamu paham apa itu upacara? Upacara adalah perbuatan atau perayaan yang dilakukan atau diadakan sehubungan dengan peristiwa penting. Tapi tahukah bahwa kamu yang melakukan upacara pada hari ini bukan karena memahami apa yang terjadi pada peristiwa yang diperingati melainkan hanya menjalankan sebuah intruksi dari atasan, atau pihak yang memberikan intruksi. Upacara hanya menjadi sebuah formalitas, bahkan mirisnya bukan upaya mengenang sebuah kejadian tapi hanya mengejar sebuah dokumentasi yang akan dilampirkan pada bagian belakang sebuah laporan.

Rutinitas lain dalam memperingati hari penting tentunya dipenuhi dengan aksi para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang mengatasnamakan nasionalisme. Seolah mereka juga memahami betapa beratnya perjuangan yang pernah ada. Atau itu juga sekedar formalitas belaka. Mereka yang bersorak-sorak di depan gedung tinggi dan di jalanan yang ramai itu juga masuk dalam orang-orang yang mencintai segala yag instan. Silahkan tanya dan buktikan sendiri, tentu 90% nya merupakan bagian dari mereka yang memakai SKSM (Sistem Kebut Satu Malam), istilah yang tentu tidak lagi asing di telinga kamu bahkan sangat dibanggakan sampai ikut diupdate pada media sosial tercinta.

Advertisement

Bangsa yang tercinta, tahukah kamu sesuatu yang rasanya amat kita banggakan hari ini ternyata telah mengikis sebuah tumpah darah yang pernah terjadi. Apa kamu memikirkannya? Bahasa ! Sadarkah hari ini kita telah kembali dijajah tanpa sengaja atas nama globalisasi. Coba buka kembali buku PKN atau KWN yang pernah kamu pelajari saat memakai seragam putih merah.

“Kami putra-putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

Hari ini buku-buku pelajaran telah mulai banyak diisi dengan bahasa ibu dari negeri sebelah, selebaran yang tersebar disana-sini juga telah banyak didominasi oleh bahasa ibu dari negeri sebelah, bahkan saat mencari pekerjaan sudah banyak yang menjadikan harus memiliki sertifikat bahasa ibu mereka. Bahkan hal yang kecil saja, pemuda-pemudi saat ini lebih banyak yang mengetahui bahkan menghapal lagu negeri luar sana ketimbang dari lagu lokal kita. Kemana perginya bahasa yang tertulis dalam sumpah pemuda? Apa itu juga akan ikut menjadi sejarah?

Sekali lagi, kek, kami sungguh tidak paham dengan kalian. Mengapa kalian membuat sumpah semacam itu 81 tahun yang lalu? Tidak tahukah kakek bahwa Sumpah dan Janji itu sangat sakral dan harus ditepati? Tapi untunglah, kek, bukan kami yang bersumpah melainkan kalian.

Diatas merupakan salah satu cuplikan yang saya ambil, yang mengigit batin. Sungguh rasanya tertampar keras membacanya. Seperti apa Indonesia hari ini? Silahkan rangkum dalam benak kamu sendiri.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya