Entah mengapa aku kini mulai bepikir ini bukan salahmu, dan tak sepenuhnya ini menjadi salahku. Mungkin benar sebagai perempuan, aku yang terlalu tinggi menggantungkan harapan tentangmu. Aku yang terlalu berperasaan bahwa kamu tak 'kan menyakitiku. Sampai akhirnya kenyataan yang memaksaku sadar, bahwa apa yang aku jalani dengannya hanya sebuah ikatan tanpa kepastian.

Ikatan tentang janji sepasang kekasih, yang kapan saja bisa kamu lupakan. Aku yang salah, aku yang terlalu bermain dengan hati. Aku yang tak bisa menyeimbangkan antara logika dan perasaanku. Aku yang terlalu percaya dengan bualanmu tentang aku. Sampai aku yang akhirnya tahu, itu bukan hanya milikku. Kamu bukan saja milikku, kamu juga milik dia, dia, dia, dia, dia, dia, dan dia yang lain. Entah sudah berapa dia yang aku sebutkan.

Advertisement

Sejak awal mengenalmu, aku tak pernah ada niat untuk menjadikanmu bagian dari cerita hidupku. Sampai kamu yang menyeretku masuk ke dalam duniamu; yang katanya "indah". Aku tahu, sejak pertama kali aku menatap sepasang bola mata itu ada kepura-puraan di dalamnya. Entah kepura-puraan apa, aku selalu saja berusaha untuk tak menghiraukannya, menepisnya setiap kali keraguan itu muncul. Yang aku percaya, kamu adalah seseorang yang baik, yang selalu saja bersedia hadir saat aku mulai merengek.

Aku tak tahu siapa kamu untuk ku sekarang. Tapi rasanya, kamu masih saja menjadi pemilik rinduku. Kamu masih menjadi alasan bahagiaku, kamu juga masih menjadi alasan atas diamku. Dan semua tentangmu masih menjadi penyebab bulir-bulir bening ini menetes. Aku membencimu? Iya, aku membencimu. Tapi lagi rasa benciku belum mampu menandingi rasa sayangku atas kamu.

Semakin aku berusaha untuk melupakanmu, ternyata rinduku semakin jahat. Menghapus segala hal tentang dirimu, makin membuat aku selalu ingin bertemu kamu.

Jika boleh aku egois, aku ingin sekali memilikimu. Memiliki hatimu, jiwamu, waktumu, bahkan aku ingin sekali memiliki hidupmu. Tapi tenanglah, tak perlu risau! Aku menyadari bahwa kamu bukan lagi milikku. Kamu sudah terlebih dahulu menjadi miliknya. Aku yang harus mengalah dalam permainan; yang aku sendiri tak tahu siapa pemainnya.

Advertisement

Tak perlu hiraukan aku. Rasa ini pasti akan memudar dengan sendirinya; habis dimakan waktu dan jarak. Apalagi sebentar lagi, aku mungkin akan jarang sekali berjumpa atau sekedar berpapasan denganmu. Atau mungkin kita tak 'kan pernah lagi bertemu? Mungkin saat itu rasa ku atasmu sudah mulai menghilang.

Tenanglah ini hanya perkara waktu, dan aku hanya perempuan yang mencoba untuk menikmatinya. Terima kasih pernah mengajariku banyak hal.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya