Orang tua, sudah tahu belum?

Kecerdasan akademik tidak lagi menjadi salah satu tolak ukur kesuksesan seorang anak. Siapa yang belum familiar dengan pernyataan ini? Sangat familiar. Sayangnya, kita jarang benar-benar paham akan maksud pernyataan tersebut. Ketika beradu argumen, mendiskusikan orang-orang sukses, membaca biografi para tokoh terkemuka sekalipun. Sejatinya, obrolan kita memang terkesan elegannya warna-warni balon ulang tahun, tapi lebih berisi angin, hambar.

“Mengapa anak saya tidak pintar?”

“Jangankan 10 besar, ranking 20 besar saja ia tak bisa, saya harus apa?”

“Matematikanya jelek, bu.”

Advertisement

“Heran, si adik kerjanya menulis terus, disuruh ikut les malah bolos.”

“Nilainya merah lagi, merah lagi. Kamu ikut les sempoa!”

“Belajar, belajar! Harus ranking 1 di kelas!”

“Masuk IPA, titik!”

Oh, ayolah. Memangnya ada apa dengan matematika? Ranking 1 itu keren, begitu? Anak IPA itu derajatnya berkelas, begitu? Siapa yang lebih dulu membangun lelucon paradigma lawakan begini? Sangat tidak etis. Maaf jika sebelumnya ada yang tersinggung dengan kalimat saya. Dulunya saya memang mengambil jurusan IPA di SMA, pernah ranking 1, dan termasuk yang berprestasi di bidang matematika dan ilmu sains lainnya, lalu kenapa? Bukan tidak setuju, hanya saja logikanya begini, apa dunia ini akan terus maju dengan hanya sekedar “matematika, anak IPA, dan siswa ranking 1”?

Para orang tua dan guru kadang memang lebih suka memaksa anak didiknya. Bersyukurlah jika Anda tidak mendapat perlakuan begini. Menjadi salah satu yang terbaik dalam semua peristiwa memang baik, patut diacungi jempol. Tapi terkadang, seringkali kita tutup mata dan kurang peka terhadap apa yang sebenarnya dirasakan oleh anak. Lalu muncullah ungkapan “Tapi, kan…” setelah membaca pargaraf ini. Biasakanlah membaca suatu tulisan sampai habis, ya, ini hanya sekedar pengantar untuk kembali mengetuk pola pikir yang menjamur di masyarakat sekarang ini. Saya memang hobi bertele-tele, tapi percayalah, ini bukan sekedar bertele-tele. Ini penting.

Berbekal pengalaman kelas konseling saat SMA, salah seorang guru konseling saya, Ibu Hijriyati Meutia, menyampaikan satu hal yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya. Mungkin ada yang sudah tahu dari SMP bahkan SD, termasuk saya, namun hal ini tak pernah benar-benar saya cermati. Sebagai alarm yang baik, kita tahu bahwa setiap individu memiliki karakter dan intelijensi yang berbeda-beda. Misal, apa kita harus memaksa ikan untuk terbang di udara? Tidak mustahil, Tuhan bisa lakukan apa saja. Tapi, pemaksaan itu tidak baik terhadap pembentukan mental seorang anak.

Menurut KBBI,

Cer-das a 1 sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dsb); 2 sempurna pertumbuhan tubuhnya (sehat, kuat);

Ke-cer-das-an n 1 perihal cerdas; 2 perbuatan mencerdaskan; kesempurnaan perkembangan akal budi (spt kepandaian, ketajaman pikiran)

Dalam hal ini, “kesempurnaan” dan “akal budi”-lah yang menjadi poin utama dalam kecerdasan. Artinya, tidak hanya IQ, tapi EQ tak luput dari perhitungan dan kategori seseorang dinyatakan cerdas, bukan sekedar “pintar”. Sebelum membahas hal ini lebih jauh, saya ingin membagi apa yang guru konseling saya sampaikan pada masa itu.

Seorang ahli riset Amerika, Prof. Howard Gardener, sekitar dua puluh tahun lalu mengembangkan model kecerdasan “multiple intelligence”. Manusia lebih rumit daripada apa yang dijelaskan dari tes IQ atau tes apapun itu, ungkapnya. Tahun 1983, dalam bukunya The Theory of Multiple Inteligence, Howard Gardner mengusulkan 8 macam kecerdasan dalam pribadi manusia, yaitu:

Kecerdasan Linguistik-Verbal

Kecerdasan ini berupa kemampuan untuk menyusun pikirannya dengan jelas juga mampu mengungkapkan pikiran dalam bentuk kata-kata seperti berbicara, menulis, dan membaca. Orang dengan kecerdasan verbal ini sangat cakap dalam berbahasa, menceriterakan kisah, berdebat, berdiskusi, melakukan penafsiran, menyampaikan laporan dan berbagai aktivitas lain yang terkait dengan berbicara dan menulis

Kecerdasan Logis-Matematik

Cerdas dalam menyelesaikan masalah secara sistematis. Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan angka-angka dan bilangan, berpikir logis dan ilmiah, adanya konsistensi dalam pemikiran. Mereka belajar dengan cepat operasi bilangan dan cepat memahami konsep waktu, menjelaskan konsep secara logis, atau menyimpulkan informasi secara matematik.

Kecerdasan Spasial-Visual

Ditunjukkan oleh kemampuan seseorang untuk melihat secara cermat gambaran visual yang terdapat di sekitarnya. Seniman dapat melihat adanya perbedaan yang tampak di antara goresan-goresan kuas, meskipun orang lain tidak mampu melihatnya. Pun fotografer, dapat menaganalisa gambaran yang ditangkap dengan baik, saat orang lain tak tahu-menahu secara rinci. Tak terkecuali arsitek dan profesi lainnya. Mereka dituntut untuk melihat secara tepat gambaran visual dan spasial dan kemudian memberi arti terhadap gambaran tersebut.

Kecerdasan Ritmik-Musik

Merupakan kemampuan untuk menikmati, mengamati, membedakan, mengarang, membentuk dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik serta mengekspresikan jiwanya dalam musik. Tidak semua orang dapat melakukan hal ini. Ia akan peka terhadap ritme, timbre atau semacamnya.

Kecerdasan Interpersonal

Lebih kepada bagaimana seseorang berempati kepada orang lain. Tidak semua individu memiliki empati yang tinggi. Kecerdasan interpersonal ialah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain.

Kecerdasan Intrapersonal

Mengenal diri sendiri? Orang-orang yang berada pada level tinggi dalam kecerdasan ini akan dapat memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri, mampu memotivasi diri sendiri, serat disiplin diri.

Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan kinestetik ialah kemampuan dalam menggunakan tubuh kita secara terampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran dan perasaan.

Kecerdasan Naturalis

Merupakan kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan dan membuat kategori terhadap apa yang di jumpai di alam maupun lingkungan.

Untuk lebih jelasnya, mungkin pembaca dapat mencari info lebih lanjut lagi tentang 8 kecerdasan tersebut. Pada hakikatnya, kita memiliki semua kecerdasan tersebut. Namun ada yang dominan, ada yang hanya sebagai selingan. Ibaratnya wanita yang juga memiliki hormon testosteron padahal ia bukan laki-laki. Lalu apa seorang wanita harus dianggap sebagai laki-laki? Begitu juga sebaliknya.

Berhentilah mengotak-kotakkan anak. Tak semua anak akan membagi cerita bahwa ia bermimpi menjadi seorang atlet, penulis, atau seniman sekalipun. Berhubung orang tua dan guru sibuk berlomba-lomba anak didiknya mahir di semua mata pelajaran. Saat hal ini terjadi, percayalah satu hal, ketika sang anak hendak mengambil sebuah jurusan di perguruan tinggi, di akan merasa “bingung” luar biasa. Walaupun saat memilih jurusan, orang tua membebaskan si anak, ia benar-benar bingung. Rata-rata anak tak akan mengungkapkan keraguannya atau ia bahkan tak sadar bahwa ia ragu. Namun, yang ada di pikirannya ialah tentang bagaimana ia lulus di tempat A, atau coba menghitung beberapa kemungkinan untuk lulus. Atau karena merasa pintar di semua pelajaran, ia akan memilih jurusan yang paling fenomenal di masanya. Tanya, apa ia bisa membedakan keinginan dan tujuan utama?

Oleh sebab itu, biarkan anak memilih apa yang ia sukai saat di sekolah dasar ataupun menengah. Bedakan apa yang harus dilakukan di kantor dan di rumah agar anak bebas bukan dalam arti pergaulan yang marak terjadi. Bebaskan ia memilih bidang, pahami, dan cari cara untuk mengembangkan bidang si anak.

Ibu saya, misalnya. Beberapa kali memang sering melempar pertanyaan yang serupa. “Kak, IQ seorang anak, kan, turunnya dari ibu. Furqan nggak pintar apa karena mama yang nggak pintar, ya?” Wah, mendapat pertanyaan seperti ini itu antara senang, susah, sedih juga. Tapi saya hanya tersenyum dan menepuk kecil bahu Ibu.

Memang, Furqan, adik saya yang satu itu bukan siapa-siapa semasa sekolah. Rankingnya pun tak terdeteksi. Nakalnya bukan main, hobinya main PS. Kalau kata orang, bodohnya nggak nanggung, deh! Nilai matematika? Ah, jangan tanya. Dapat nilai lima atau enam pun rasanya sudah syukur. Prestasi akademik yang lain? Hmm, miris. Kedua orang tua tentu sangat menyayangkan hal tersebut. Dibilang autis? Bukan. Dia normal.

Sebagai seorang kakak, saya tak masalah. Seringkali menghadap kedua orang tua, menyampaikan aspirasi yang sulit dipendam. Adik saya yang satu itu, punya kecerdasannya sendiri. Jujur, orang tua saya sibuk. Dari sunrise ketemu sunrise lagi pun, syukur banget kalau malamnya sempat ngobrol dan duduk bareng di meja makan atau di depan televisi. Bahkan, rapor saya sejak SMP sampai SMA mungkin bisa dihitung pakai jari berapa kali orang tua yang ambil. Atau bahkan mungkin sampai sekarang orang tua tak tahu-menahu hasil rapor saya semasa SMA hihi. Nggak ada yang tanya, sih. Si Furqan memang nggak ada mahir-mahirnya di semua pelajaran kecuali Bahasa Inggris, Seni, dan Olahraga. Apa itu bukan prestasi? Tentu prestasi yang seharusnya orang tua saya peka akan hal ini.Bahwa otak kanannya lebih dominan. Ia bisa melakukan apapun lebih baik daripada orang lain. Adik saya jadi agak pemarah suatu kali, maklum, banyak orang tua memang hobi membandingkan ankanya dengan anak orang lain. Namun selama SMA ini, ia masuk Pondok Pesantren Gontor. Alhamdulillah, bakatnya tak disia-siakan oleh pihak Gontor sendiri. Layaknya orang penting, ia hampir ada di semua acara-acara yang diselenggarakan. Semoga setiap orang tua paham, apa yang seharusnya terjadi.

Seperti halnya saat dulu saat masih SMA. Naik ke kelas 11 artinya pemilihan jurusan. Saya ambil IPS dan saat matahari belum sampai ke langit, si Papa menelpon. Perihal jurusan IPS, saya dimarahi habis-habisan. Diminta harus masuk IPA dengan alasan kalau ambil jurusan IPS mau jadi apa? Padahal Ayah saya sudah ambil Master Hukum. Benar-benar menyebalkan saat itu. Bagaimana tidak? Saya sudah buat “plans till 2060”. Menangis sejadi-jadinya, dan klik. Telpon harus ditutup sebelum Papa dengar saya menangis pagi-pagi buta di depan asrama. Apalagi ikut ekskul teater yang berhasil membawa saya dan tim peringkat 3 seprovinsi, sempat dilarang juga oleh orang tua bahkan medalinya entah disimpan di gudang mana hahaha. Tapi sampai sekarang, dengan motivasi selalu ingin memberikan yang terbaik, saya harus menikmati apa saya sekarang, kan?

Orang tua, pahami anak masing-masing, ya 🙂

Salam Hangat,

Raihan Uliya