Kehidupan yang kita jalani sangat tergantung dari sudut pandang atau cara pandang pribadi terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan kita.

Terjadinya peningkatan aktivitas Gunung Agung pada pertengahan tahun 2017 menimbulkan dampak yang sangat signifikan terhadap kehidupan masyarakat di Bali, terutama masyarakat Karangasem, yang paling merasakan dampaknya. Bagaimana tidak, Gunung Agung yang sebelumnya istirahat begitu lama, ternyata kembali aktif, bahkan sangat aktif.

Advertisement

Gunung Agung yang terlihat begitu agung seperti namanya, sebelumnya begitu tenang, tak pernah ada tanda-tanda akan aktif, dalam waktu singkat berubah dengan adanya peningkatan tajam kegempaan yang tercatat oleh pos pantau, hingga mencapai ratusan kali dalam setiap enam jamnya.

Masyarakat yang semula sudah begitu nyaman, bahkan nyaris melupakan bahwa Gunung Agung masih mungkin untuk meletus, karena larut dalam kesibukan masing-masing untuk mengejar mimpi-mimpi, atau sekedar mencari rejeki untuk sesuap nasi demi menyambung hidup, seketika terhenyak, tersentak kaget ketika tanggal 22 September 2017 malam, tiba-tiba ada instruksi untuk mengosongkan beberapa daerah malam itu juga.

Kontan saja semua warga yang berada di area yang di maksud berusaha menyelamatkan keluarga dan hartanya, serentak berlarian kalang kabut berusaha membawa barang sebisanya lalu menuju tempat yang menurut mereka aman atau yang ditunjuk oleh petugas untuk menyelamatkan dirinya. Ada banyak cerita yang terjadi dibalik pengungsian yang mendadak itu, mulai dari yang haru, sedih, lucu dan lainnya, yang nanti akan saya tulis pada kesempatan berbeda.

Advertisement

Setelah beberapa hari di pengungsian ternyata aktivitas Gunung Agung mengalami sedikit penurunan, bahkan semakin lama semakin menurun, meskipun pihak berwenang tetap menyatakan bahwa kondisi gunung masih kritis. Sementara sebagian kecil dari pengungsi mulai memulangkan dirinya masing-masing meski ada juga yang bertahan hingga bulanan di pengungsian. dan singkat cerita aktivitas Gunung Agung pun akhirnya diturunkan dari level awas menjadi siaga.

Namun apa yang terjadi, pada tanggal 26 Nopember 2017 ternyata Gunung Agung kembali meningkat aktivitasnya, bukan pada kegempaan, tetapi saat itu justru yang terjadi adalah keluarnya kepulan asap berwarna abu-abu yang lumayan tebal pada petang harinya. Dan keesokan pagi harinya sudah semakin tebal, dan hujan abu pun sudah benar-benar dirasakan di beberapa tempat bahkan ada daerah yang terdampak abu cukup tebal.

Lalu disusul dengan hujan lebat beberapa hari, tentu saja membuat tumpukan abu yang ada disekitar kaki gunung terbawa air hujan menuju lembah menjadi banjir lumpur abu, yang dianggap sebagai banjir lahar dingin oleh media, namun menurut saya pribadi itu bukanlah lahar.

Pergerakan banjir yang mengandung lumpur, material batu dan batang pohon, mengikis dan merusak jalur yang dilaluinya, sungai mengalami perubahan kontur karena tergerus. Bahkan ada juga jalan yang putus karena terkikis banjir. Di satu sisi ada kerusakan yang terjadi, tapi di bagian lain ada juga yang mendapat kiriman material akibat erosi itu berupa batu dan pasir, yang akhirnya bisa jadi bahan pencaharian baru bagi warga sekitar, dengan jadi penambang batu atau pasir untuk dijual, yang mana sebelumnya sudah sempat menipis di beberapa tempat, justru kali ini terisi lagi.

Pada suatu hari saya berkesempatan lewat ke salah satu sungai yang paling besar mendapatkan dampak dari banjir abu tersebut, yaitu sungai Esah yang berada di antara Rendang dan Muncan. Dari jembatan say bisa melihat dampak kerusakan yang timbul akibat banjir yang mengandung material tersebut. Terjadi erosi yang lumayan dalam terhadap dasar sungai, dan juga pelebaran ke samping, namun dibalik kerusakan itu ada hal lain yang justru timbul, yaitu adanya material seperti batu, koral dan pasir yang juga meningkat di sungai tersebut. Keberadaan batu dan pasir ini tentu menjadi berkah tersendiri bagi para penambang disekitarnya, Mereka tidak perlu menggunakan alat berat untuk mengumpulkan batu, hanya dengan peralatan sederhana dan tenaganya saja sudah bisa mendapatkan batu untuk dijual.

Di sisi lain ada pengusaha yang terdampak tidak bisa beroperasi karena adanya erosi terhadap sungai tersebut, yaitu usaha rafting, selain ada bangunannya yang rusak, rute yang biasa dipakai juga mengalami kerusakan sehingga tidak bisa dijalankan sementara belum adanya kepastian bahwa erupsi Gunung Agung itu berakhir, sehingga bisa dilakukan pengerukan jalur lagi supaya aman untuk dipakai lagi seperti sebelumnya. Karena itu mereka mencari rute alternatif yang tidak terdampak oleh aliran dari gunung, sehingga tetap bisa menjalankan usahanya.


Kehidupan akan menjadi cerminan dari setiap pikiran yang di yakini dengan sepenuh hati.


Selalu ada dua sisi dalam kehidupan dalam segala hal, banyak yang menganggap bahwa erupsi itu adalah bencana yang menakutkan dan bikin resah, juga menyusahkan. Namun bagi sebagian orang lainnya, justru bisa mendapatkan manfaat, rejeki, atau perubahan menjadi lebih baik, lebih berani karena terdesak dan dipaksa oleh keadaan.

Jadi apakah erupsi Gunung Agung itu musibah atau berkah? Jawaban anda akan sangat tergantung dari sikap kita menghadapi keadaan hidup di alam ini, apakah akan memilih menjadi orang yang kena musibah, atau mendapatkn mommentun untuk mendapat perubahan atau peningkatan kualitas hidup dari adanya erupsi tersebut.

Ketika pikiran kita selalu terbuka terhadap perubahan akan selalu didapatkan manfaat dari setiap peristiwa, entah itu berupa pekerjaan baru, peluang atau yang lainnya. Penting untuk selalu bisa membuka pikiran bahwa selalu ada hikmah dari setiap peristiwa, selama kita mau tetap yakin dan berusaha.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya