Apakah nomor dua selalu di dua kan? Aku takut.. Sewaktu-waktu ini bakal terjadi di hidupku.. Aku ingin mereka memberikan perhatian seperti mereka memperhatikan si nomor satu. Aku sadar aku tak lebih baik dari si nomor satu yang selalu bisa di banggakan menjadi pusat perhatian. Ku cari berbagai cara supaya mereka bisa memperhatikanku. Ku belajar mati-matian supaya aku memiliki sesuatu yang bisa di banggakan. Tapi apa yang kudapatkan, usaha ku untuk menarik perhatian itu sia-sia. Aku berhasil mendapat prestasi tetapi hanya sesekali di ladeni. Cuma sehari, aku ingat. Mereka tersenyum dan mengatakan aku anak yang paling pintar. Setelah itu hilang seakan yang kulakukan adalah sesuatu yang tidak berharga. Aku melihat mereka sibuk memberikan perhatian lebih pada si nomor satu agar si nomor satu bisa pintar seperti ku. Aku iri melihat si nomor satu yang begitu hebat bisa merebut perhatian yang ku inginkan. Aku hanya belajar sendiri di belakang kursi dan sesekali melihat mereka tertawa bahagia. Kebodohanku, kenapa aku menjadi pintar kalau nyatanya aku di perhatikan. Suatu hari disekolah aku masih ingat. Hari penerimaan prestasiku. Aku berharap mereka datang melihat kebahagiaanku. Tapi apa yang terjadi, harapan itu datang dengan sebuah kesialan. Mereka menghubungiku dan bilang mereka tidak bisa datang karena mau melihat si nomor satu lomba. Hatiku seakan sakit mendengarnya. Kulirik teman-temanku yang bahagia bersama orang tuanya mendapat prestasi yang jauh di bawahku. Buat apa semua ini, jika kepintaran tidak bisa menarik perhatian mereka. Hari demi hari, aku akan membuat diriku seperti nomor satu. Ku tak belajar lagi yang mengakibatkan prestasi ku turun dan saat itu pula ku berharap semua berubah kali ini. Ku katakan bahwa prestasi ku turun. Apa yang kudapat, mereka memarahiku dan menjelekanku tak seperti yang mereka katakan pada nomor satu. Kebodohan yang kulakukan hari itu dan aku menemukan jawaban sebenarnya bahwa aku takkan pernah menjadi perhatian mereka. 10 years ago. Aku benci, selalu saja. Kekosongan selalu datang menghampiri ku. Kesialan kali ini datang lagi. Apa aku tak pantas bahagia kah? Hari dimana aku ingin meraih kesuksesan ku. Engkau datangkan musibah yang membuatku sulit melanjutkan studi ku. Semua menuntut ku untuk tidak melanjutkan studi ku. aku tak mau. Mereka selalu mengatakan yang menyakiti perasaanku seolah-olah aku adalah beban buat mereka. Aku memang terlahir sial tapi aku gak mau hidup dengan penuh kesialan. Si nomor satu memang hebat. Dia cantik, menarik, dan penuh kasih sayang. Aku hanya si nomor dua yang penuh dengan kata biasa. Apa yang ku lakukan selalu salah dan si nomor satu lah yang benar. Kadang aku berpikir, apa aku benar anak kandung mereka? Pernyataan itu adalah omong kosong. Tak mungkin aku bukan anak kandung karena wajahku mirip dengan mereka. :'( :'( Mungkin aku terlahir sendiri. Diam itu pasti, jika bicara hanya akan melukai hati. Kesakitan yang ku rasa tak sesakit yang di rasa nomor satu.mungkin. Aku tak mau merepotkan karna aku sudah terlihat seperti beban. Sia-sia ku beritahu karna itu tak akan menarik perhatian mereka. Mungkin waktu yang akan mengatakan pada mereka. Beberapa hal yang ingin ku katakan tapi tak pernah ku ucapkan.

Aku mencintai mereka. Aku ingin mereka memperhatikan ku. Aku ingin bahagia bersama mereka. Aku ingin cita-citaku tercapai. Aku ingin dicintai dan mencintai. Aku mencintai mereka. Aku ingin mereka memperhatikan ku. Aku ingin bahagia bersama mereka. Aku ingin cita-citaku tercapai. Aku ingin dicintai dan mencintai. Aku sakit!

Rasanya sangat sakit. Aku sakit. Arrghh.. Biarlah, Hidup ini benar-benar memuakkan! –tuturku malam ini. 😣😭