Seringkali kita lupa kapan waktu untuk bahagia dan kapan untuk berduka. Tapi, pribadi saya sendiri waktu untuk berbahagia selalu terbuka saat kapanpun dan di manapun.

"Karena bahagia sangatlah sederhana. Cukup dengan bekerja lalu bersyukur"

Tepat dua tahun lalu kita menjalin kisah, kisah cinta yang bisa di kategorikan mirip kisah-kisah yang ada pada film-film di TV. Pada waktu itu kita berjuang dari nol membangun hubungan bagaimana caranya untuk selalu bersama. Namun, seiring berjalannya waktu, kau yang dulu awalnya begitu menyayangiku berubah mendiamkanku. Hatiku langsung bertany, "Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah kau butuh waktu tuk menyendiri atau kau ingin pergi?". T

anpa banyak perbincangan, aku langsung memutuskan hubungan itu, nggak peduli nanti apa yang terjadi yang penting aku nggak tergantung pada orang lain termasuk pada dirimu sendiri. Sebulan setelah itu, kita kembali mencoba memperbincangkan hubungan yang dulu sempat putus, kau kembali tapi kau membalas luka yang kuberi. Padahal aku sendiri merasa tidak bersalah dengan keputusan itu tapi maksudmu apa? Kau kembali lalu meninggalkan luka. Kau kembali padaku dan sebelum kau kembali, kau telah menjalin hubungan dengan pria lain lalu kembali padaku hanya ingin menancapkan duri tajam pada hatiku ini.

Akhirnya apa, dengan hati yang terluka aku memutuskan kembali untuk meninggalkanmu lagi. Dua tahun setelah itu, kini hari-hariku selalu bahagia tanpa mendengar kabarmu dan lain-lain sebagainya. Karena kini kau telah mendewasakanku, aku hidup diluar kota yang jauh darimu, aku bahagia disini dengan orang-orang didalamnya. Karena sekarang aku lebih mementingkan waktu untuk bahagia sendiri daripada dulu waktuku segalanya untukmu, bahagianya hanya pada saat itu saja bukan selamanya.

Advertisement

Dan untuk kalian kaula muda, jika kalian ingin bahagia. Gunakan waktumu dengan orang-orang terdekat kita seperti orang tua dan sahabat terbaik kita.

"Orang tua dan sahabat tidaklah jauh beda. Mereka akan selalu ada dengan kita, karena merka dapat melupakan luka di masa lalu. Maka perbanyaklah kita berbicara dengan mereka berdua"

Nikmat mana lagi yang kau dustakan?