Dear Kalian,

Kabur memang bukan cara terbaik mengihindarimu, pergi dan mencari yang lain juga tak sepenuhnya memberi solusi. Lantas apakah aku harus diam saja, terpenjara di lingkungan yang tak membuatku nyaman sedetikpun? Sampai kapan aku diam dan membiarkan semua berlalu, membiarkan semua melukai batin. Tapi adakah pilihan itu? Semua alasan untuk ku tetap bertahan sudah termentahkan oleh satu per satu sikap nyata itu. Sampai kapan aku cuma jadi penonton dan pendengar setia, dan sampai kapan suara hati ini terpasung oleh keinginan dan nafsu murahan. Sumpah, jeritan hati ini siap bernyanyi keras di hadapan mereka semua.

Advertisement

Aku tahu kamu, dia dan mereka mungkin akan tertawa dengan begitu kerasnya hingga telinga ini pun mendadak tuli. Jujur aku benci kalian, benci setiap kemunafikan yang pernah tercipta. Tapi aku harus gimana? Lapor ke polisi? Atau komnas ham? Enggak juga kan. Tapi kalo terus diam, telinga inipun akan semakin tuli, mata ini akan semakin buta, dan hati ini akan semakin keras.

Aku bukan cemburu, aku bukan iri, aku hanya tak suka dengan beberapa cara kalian yang ku anggap tak biasa. Bantu aku kembali percaya bahwa semua kebusukan itu hanya sebuah isu, hanya sebuah mitos yang tak pernah menjadi fakta. Tapi kapan dan bagaimana agar bisa terus percaya??

Kalau dibilang lelah memang lelah, capek sungguh capek, tapi aku tidak punya pilihan selain bertahan, tapi sampai kapan? Seperti berada di lingkaran setan yang tak pernah berujung. Tawa mu, tawanya dan tawa mereka hanya membuatku makin tuli. Melihatmu, melihatnya dan mereka membuatku semakin buta.

Advertisement

Antusiasku saat pertama kali menginjak kaki berbanding terbalik, seperti bola dunia yang tiba-tiba diputar. Memusingkan memang. Kalian terlalu egois, kalian terlalu apatis, dan kalian mengajariku pesimis.

Aku masih tidak punya pilihan selain bertahan. Walau hati terus tercabik, walau tubuh sudah lelah. Sabar ya, hmm sampai kapan? Sampai sapi bertelur? Atau sampai ayam bernapas pakai insang?

Kalian tak pernah tahu, tak pernah mau tahu. Kalian benar dan itu saja yang kalian tahu. Cobalah buka mata sedikit lebar, buka telinga, dan buka hati kalian lebih luas dari sekarang. Atau memang sudah tak punya mata, tak punya telinga dan tak punya hati? Entahlah.

Kalian terlalu egois untuk sekedar memahami dan mengerti. Tapi ahh sudahlah, apa yang bisa ku tuntut dan sesalkan. Semua harus dinikmati walau menyesak di dada. Sampai dunia berakhir pun kalian tetap selalu benar, dan aku selalu salah.

Regards,

Hati yang lelah bertahan

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya