Senja di sore itu, ya senja sore itu di pantai goa cina menjadi saksi bisu kisah antara aku, dia dan cerita kita. Di pantai itu aku sedang camping bersama sahabat-sahabatku. Aku punya temen deket cewek. Biasanya aku manggil dia Mumut. Itu panggilan spesialku sama dia.

Saat mentari mulai tenggelam di tengah samudera, aku merhatiin dan mikir tentang hal yang harus aku lakukan. saat malam mulai menghampiri pantai itu, aku ambil HP. Dengan santai aku coba chat Mumut, mungkin pada saat itu Mumut juga lagi nikmatin senja itu, mungkin juga enggak. Namun aku hanya feeling aja kalo dia sedang dalam keadaan enggak sibuk.

Advertisement

Aneh ketika tanganku mulai melangkah berpindah dari satu huruf ke huruf yang lain, aku hanya bisa nulis beberapa kata, yang aku tulis hanya “Mumut… Kamu lagi dimana? Kangen nih pengen ketemu…”, hanya itu yang aku tulis. Dan beberapa saat kemudian dia ngebales chatku. Dia bilang "Kalo pengen ketemu, pas waktu makan malam sama sahabat-sahabat kita. Hmmmm mulai deh….".

Malam mulai menghampiri pantai itu, angin di pantai itu bak nyanyian burung yang sedang mengantar sang senja. Nada-nada ombak yang bergantian ikut nemenin aku dalam kesepian malam itu. Sahabat-sahabatku yang lain bercanda gurau di halaman tenda yang kami miliki. Tapi aku enggak, hanya aku yang sedang dalam keadaan tak menentu, gelisah dan gak ngerasain bahagia seperti mereka rasain malam itu. Aku fikir waktu itu adalah malam pertama kali aku ngerasain hal yang belum pernah aku rasain sebelumnya. Entahlah, mungkin aku nggak nyadar kalo di malam yang lain aku juga ngerasain hal yang sama.

Bintang malam itu hampir tak ada, tapi satu bintang yang masih terlihat. Aku rasa bintang malam itu adalah bintang yang nampak paling besar dan cerah diantara bintang-bintang yang lain. Setelah beberapa saat aku nungguin dia, lalu dia datang menghampiriku tepat jam 21.00 wib. Dia menyapaku, lalu aku juga ngejawab sapaannya. Malam itu adalah malam sangat spesial dalam hidupku. Sebab di malam itu aku bisa secepat hujan yang jatuh untuk ngerubah suasana hatiku karena seseorang yg sangat berarti bagiku. Obrolan santaiku bersama Mumut berlanjut hingga larut malam dan kami tak menyadari bahwa telah lama kita duduk di tepi pantai dengan berbagi cerita, canda dan tawa. Sesekali aku lihat ke arah langit yang gelap dan aku hanya bisa melihat satu bintang yang paling bersinar di atas sana.

Advertisement

Malam yang terbatas sudah mulai beranjak. Aku nggak ngerasa kalau fajar mulai terlihat dari ufuk timur dan mulai menghampiri pantai itu. Mungkin yang aku rasain terlalu senang bisa bersama orang special dalam hidupku walaupun aku gak special dalam hidupnya. Yang aku rasain dari awal hanya akan menjadi memori yang akan aku simpan. Hanya aku dan Tuhanlah yg tahu apa yang sedang aku pendam dalam-dalam ini. Cerita malam itu akan menjadi ceritaku bersama kenanganku.

Pantai, angin, ombak dan bintanglah yang menjadi saksi bisu bahwa malam itu aku bersamanya dan menulis memori dalam hidupku. Entahlah sampai kapan aku bertahan memendam semuanya. Rasa itu mungkin nyata, tapi realisasi dari rasa yang aku miliki adalah mimpi terbesarku sampe saat ini. Aku hanya mampu hidup seperti senja yang terpendam ketika malam datang dan menampakkan diri ketika siang akan segera berganti.

Kisah ini berawal ketika senja dan juga berakhir setelah senja. Biarlah aku mencoba menjadi senja, walaupun aku enggak akan pernah bisa seperti dia. "Rasa yang kita miliki adalah anugerah Tuhan yang paling indah. Namun anugerah terindah itu akan menjadi sebuah penyesalan ketika kita tak berani untuk memberitahukan kepada mereka bahwa Tuhan telah memberikan anugerah itu kepada kita".

Aku cuma bisa melantunkan doa kepada Tuhan, agar suatu saat mimpiku tercapai.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya