Hampir setiap tahun disini adalah tahun politik. Bagi sebagian orang inilah tahun yang paling menentukan. Ada juga yang beranggapan bahwa tahun ini adalah tahun pertaruhan antara hawa jahat dan hawa baik. Namun sebagian lainnya tidak menganggapnya spesial. Apalagi berniat untuk ikut andil dalam pertarungan ini. Walaupun begitu, orang yang demam politik tetap tidak sebanding dengan masih sehat.

“Itu kan kepentingan mereka, untuk apa kami masyarakat ambil pusing.”

Advertisement

Mungkin begitu suara terang yang banyak beredar di masyarakat. Karena melihat apa yang sudah terjadi. Hanya kampanye kosong. Tidak disarankan sama sekali untuk di percaya. Beberapa celotehan kampanye (bagi saya) seperti kita akan mendapat baju gratis setiap lebaran. Kita akan mendapat beras setiap bulan. Kita akan berwisata rohani gratis ke negeri arab. Buktinya tidak satu pun yang terealisasi. Atau dengan kata lain hanya fiktif belaka. Seperti di sinetron dan FTV lainnya. Mungkin saja para elit ini lagi bermain sinetron. Adalah hal yang wajib bagi pesinetron untuk mengikuti casting, sebelum membintangi sebuah sinetron. Dan casting itu bernama Pemilu.

Di negeri saya, Indonesia tanah air beta, katanya, prosesnya itu sangat nyentrik. Banyak terjadi tindakan kriminal sebelum Pemilu seperti pelecehan seks terhadap pepohonan. Saudara jangan menghakimi saya ini berfikiran cabul, karena otak saya memang cabul. Bagaimana tidak? Seorang wakil rakyat baik ibu maupun bapak, dengan teganya melecehkan pepohonan di pinggir jalan. Mereka dengan khilafnya menusukkan paku pada pohon untuk mengiklankan muka jeleknya. Saya sempat mewawancarai beberapa pohon seperti Bapak Akasia, Ibu Kelapa, dan juga Dek Pinang.

*****

Advertisement

“Tuan Akasia, apa kabar?” saya bertegur sapa.

“Kabarku kurang baik, tentunya kamu tahu. Ini kan mau Pemilu. Badanku pun banyak yang luka. Sudah hampir sepuluh tahun aku di aniaya. Mereka menusukkan paku tepat di perutku. Sudah berkali-kali aku diperlakukan semena-mena. Tanpa asuransi kesehatan. Obat merah pun tak kunjung ku dapatkan. Apalagi JKA. Opss, JKRA maksudku.”

Lalu secara spontan, Ibu Kelapa juga ikut curhat.

“Bapak itu gak malu ya, nempelin muka di badan saya. Udah perutnya bau uang korupsi, otaknya pun masih sangat perawan. Entah apa yang bisa diperbuat untuk kalian nantinya?” Ibu kelapa memaki calon wakil rakyat itu dengan setulus hati.

Saya hanya menjawab singkat, “Bersenda dibilik istana dengan para dayang.” Dek Pinang juga mengungkapkan kekesalannya dengan sebuah puisi, “Wahai bapak caleg, jangan kau sodomi aku dengan paku payungmu. Juga ibu caleg, jangan kau perkosa aku. Aku sakit, kamu dosa. Itu dosa. Itu dosa."

“Wahai ibu caleg, apa kau tak malu? Suamimu menantimu di bilik kamar. Namun engkau tega memperkosa aku di pinggir jalan. Wahai bapak caleg engkau terlalu kasar. Kau sodomi aku di depan layar.

“Kemana aku akan mengadu? Polisi pun tak ada. Hakim pun sedang merana. Kemana aku mengadu. Tak mungkinlah aku mencerca anak cucumu. Karena ini salahmu. Ini salahmu.”

Setelah banyak mendengar banyak kekecewaan pepohonan, saya menyimpulkan beberapa hal. Tentunya sudah terlalu sering kita melihat demonstrasi kekecewaan terhadap pemerintahan. Banyak mahasiswa yang turun ke jalan untuk protes. Namun para pemangku kekuasaan tidak pernah menggubris. Saya hanya berpesan, jangan pernah salahkan mereka yang duduk di keraton sana. Mereka bukannya tidak mendengar. Bukan juga tidak melihat. Perlu di ingat, ketika berkampanye, pepohonanlah media mereka. Juga tidak lupa beberapa tiang listrik dan tiang telepon. Dan ketika wakil rakyat itu menang, secara tanpa sadar, tabiat media partner yang bisu nan kaku itu juga ikut melekat di hati mereka.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya