Rian dan Mira adalah sepasang suami istri yang sudah menikah selama 22 tahun dan sebelumnya pernah berpacaran selama 8 tahun, mereka telah mengisi keseharian mereka bersama-sama selama 30 tahun. Dari pernikahan tersebut, lahir dua orang putri, Tasya dan Luna. Meskipun begitu, sejarah cinta mereka tidak selalu bahagia.

Rian dan Mira pertama kali bertemu ketika mereka duduk di bangku kuliah. Sejak mereka pertama bertemu, mereka berdua sudah tahu bahwa mereka akan menikahi satu sama lain. Mira yang saat itu sedang menuntut ilmu arsitektur di UPN diminta oleh Rian untuk berpindah ke ilmu pertanian. Biaya perkuliahan Mira pun saat itu ditanggung oleh Rian. Saat itu, Rian juga menyicil sebuah sepeda motor yang setiap harinya dikendarai oleh Mira untuk berkuliah.

Advertisement

Rian yang lebih tua dari Mira tiga tahun harus meninggalkan Mira di Yogyakarta dan mencari kerja di Ibu Kota, Jakarta. Setiap awal bulan, Mira harus menahan tangis mengantar kepergian Rian mencari pekerjaan. “Yaa, tapi selalu balik setiap akhir bulan,” jelas Rian. Dengan itu, Rian meminta Mira untuk cepat-cepat menyelesaikan kuliahnya agar mereka bisa menikah dan Mira bisa ikut dengan Rian ke Jakarta.

Mira menepati janjinya dan ia mampu menyelesaikan kuliahnya dalam kurung waktu tiga tahun, termasuk cepat dibandingkan dengan teman satu angkatannya. Dalam waktu tiga tahun tersebut, mereka tetap setia pada satu sama lain dan terus saling memberi kabar.

1 April 1995 adalah tanggal mereka menikah. Ketika mereka menyebarkan undangan, banyak yang mengira undangan tersebut hanyalah April Fools, meskipun kenyataannya mereka benar-benar serius akan menikah, “Saat itu, nikahnya kecil-kecilan dan di rumah tantenya Rian, biar irit dan bisa nabung buat bulan madu,” jelas Mira saat ia ditanya soal pernikahannya.

Advertisement

Selama Rian bekerja di Jakarta, gaji yang Rian dapat digunakan untuk biaya perkuliahan Mira dan menabung untuk membeli rumah. “Rian maunya kalau nikah sudah mapan dan sudah punya rumah sendiri, biar nggak nyusahin orang lain katanya,” ujar Mira. Setelah mereka menikah dan berbulan madu di Bali, mereka kembali ke Jakarta, di mana rumah pertama mereka berada.

Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang putri bernama Tasya. Mira yang merupakan anak tunggal tidak mau anaknya merasa kesepian karena tidak memiliki saudara kandung. Mereka akhirnya berusaha untuk memiliki sebuah anak lagi dan kembali dikaruniai oleh seorang putri, Luna, empat tahun kemudian.

Pernikahan mereka sering mengalami naik-turun. Setelah pernikahan mereka, Rian seringkali main tangan dengan Mira dan Rian berubah menjadi orang yang sangat emosional. Tidak jarang Mira mendapatkan luka dan lebam karena pukulan Rian yang kuat. Saat Mira sedang hamil Luna pun ia pernah didorong keluar dari mobil ke sawah. Namun begitu, Mira tetap mempertahankan hubungan mereka. “Dulu aja bisa baik banget, pasti deep down dia masih orang yang baik, saya tahu itu,” Mira menjawab sambil tersenyum ketika ditanya mengapa ia masih mempertahankan hubungan mereka.

Mira yang penyabar kembali harus dihadapi dengan masalah. Mira didiagnosa oleh sebuah penyakit yang orang bilang “tidak ada obatnya”. Sejak itu, Rian kembali berubah menjadi sosok yang peduli dan pengertian. Setelah Luna dilahirkan, Mira didiagnosa oleh kanker payudara. Keadaan ekonomi yang tidak memadai mengharuskan Rian untuk meminjam uang sana-sini.

Mira yang saat itu berada di stadium 2B, diminta dokter untuk dioperasi dan menjalani radiasi serta kemoterapi. Saat itu, Mira sudah merasa hanya ingin menyerah saja. “Rasanya udah mau nyerah aja tapi Rian selalu ngingetin, ‘anak-anak butuh Ibunya, inget anak-anak di rumah,’ dan selalu jadi tambah kuat,” Mira menjelaskan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Tahun 2001, Mira dinyatakan sebagai salah satu dari cancer survivor. Ia berhasil sembuh dari penyakit yang banyak orang bilang tidak bisa disembuhkan. Rian yang selama Mira sakit selalu menemani dan peduli, kembali berubah menjadi orang yang emosional dan kasar. Meskipun Rian sudah jarang main tangan dengan Mira, Rian sering meneriaki, mencacimaki dan menjatuhkan harga diri Mira.

Anak-anak mereka lah yang menjadi sasaran baru untuk Rian. Tasya yang duduk di bangku SMP dan Luna yang masih duduk di bangku SD seringkali menjadi korban kekasaran Rian. Tidak jarang Tasya dipukul oleh Rian karena melakukan kesalahan kecil. Luna juga pernah mengalami hal yang sama. Bahkan Luna sempat meminta Mira untuk berpisah saja dari Rian. Meskipun begitu, Mira menolak dan menenangkan anaknya.

“Rian tetap setia sama saya walaupun saya sedang dalam masa yang sangat terpuruk, saya sebagai istrinya juga tetap harus setia di masa buruknya,” Mira menjelaskan.

Rian dan Mira yang saat itu kondisi ekonominya pas-pasan, memutuskan untuk membangun sebuah usaha sendiri. Tidak hanya satu-dua usaha yang dicoba oleh mereka. Mereka pernah mencoba beberapa usaha mulai dari berjualan lilin sampai menjadi distributor fish cake. Sampai suatu hari, Rian menemukan sebuah formula untuk membuat rompi anti-peluru.

Awalnya, Rian dan Mira hanya belajar dari internet. Namun pada tahun 2006, mereka berdua pergi ke London untuk belajar ilmu tersebut lebih lanjut. Pada tahun 2009, mereka mampu membangun sebuah pabrik tactical. Pabrik tersebut mereka bangun sendiri dengan darah dan tetes air mata mereka.

Perusahaan mereka diberi sebuah penghargaan oleh presiden SBY pada tahun 2012 karena mereka adalah pabrik tactical pertama di Indonesia. Dengan perusahaan tersebut, keadaan ekonomi keluarga mereka berhasil terangkat. Meskipun kisah cinta mereka tidak selalu berwarna, mereka tetap setia terhadap satu sama lain dan belum pernah sekalipun mengucapkan kata perceraian.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya