Salah satu kutipan Alm. Gus Dur yang melekat dalam diri saya adalah tentang pentingnya berbuat baik. "Tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu".

Berbuat baik adalah salah satu kunci kebahagiaan, hal ini dikarenakan dengan kita berbuat baik secara ikhlas dapat memberikan rasa nyaman sehingga stress akan berkurang, kok bisa?

Advertisement

Dalam 50 fokus studi ilmiah yang didanai oleh The Institute for Research on Unlimited Love, pimpinan Stephen G. Post, Phd, seorang professor bioetika di Case Western Reserve University School of Medicine menjelaskan bahwa terdapat banyak penelitian yang membuktikan bahwa menerima kemurahan hati dan belas kasih, berefek positif pada kesehatan dan kesejahteraan si penerima. Dan manfaat dari kebaikan itu akan dikembalikan lagi kepada si penerima.

Selain itu, menurut psikiater dari Harvard, Professor Gregory L. Fricchione, MD menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk mamalia, dan seperti mamalia lain, kita adalah makhluk sosial. Ikatan sosial membantu memastikan kelangsungan hidup. (artikel dari meetdoctor.com).

Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa berbuat baik itu memang penting dan bermanfaat tidak hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi diri kita sendiri. Seperti dijelaskan dalam Alquran surat Al-Isra ayat 7, yang artinya:

Advertisement

"Jika kalian berbuat baik sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri".

Lantas perbuatan baik apa yang sudah saya lakukan? Atau saya cuma berteori tanpa praktik? Perbuatan baik kepada sesama memang seharusnya tidak untuk dipamerkan, tetapi saya ingin menunjukkan bahwa kutipan Alm. Gus Dur dan teori di atas sudah mulai saya coba terapkan dalam hidup saya. Komunitas sahabat anak cijantung, di tempat itulah saya mengabdi, melakukan pelayanan dengan berbagi kepada anak-anak yang membutuhkan.

Bulan Februari tahun 2016, adalah awal perkenalan saya dengan Sahabat Anak. Sahabat Anak adalah yayasan nirlaba yang memberikan pendidikan serta memperjuangkan hak-hak anak-anak marginal di Jakarta. Visi yayasan ini adalah menyadarkan anak marginal tersebut bahwa mereka sebagai manusia ciptaan Allah yang berharga dan mulia. Awal perkenalan saya dari website Indorelawan, dan kemudian mendaftar langsung via website Sahabat Anak. Perkenalan saya dimulai dengan orientasi, dan kemudian penempatan relawan, akhirnya saya memilih Sahabat Anak Cijantung.

Ada perbedaan suku, dan agama di komunitas baru tersebut, tapi kami dapat bersinergi, berkerja sama, dan saling toleransi untuk satu tujuan bersama menjadi sahabat bagi anak-anak marginal dengan mengajar dan berbagi ilmu. Tak ada lagi yang mempermasalahkan apa agamaku, apa sukuku, karena saat kita bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agama dan suku kita.

Manusia tidak akan pernah tahu, perbuatan baik manakah yang akan memudahkan jalan kita menuju surga Nya. Oleh karena itu, mari kita berbuat kebaikan meskipun kecil. Semoga kebaikan-kebaikan kecil tersebut dapat menjadi sedekah bagi kita sebagai hamba Allah yang berserah diri. Aamiin.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya