Bumi saat ini sedang menuju pada bencana alam yang sangat luar biasa, yaitu pemanasan global dan perubahan iklim. Berdasarkan laporan Climate Analytic, yaitu sebuah institusi non-profit yang bergerak di bidang penelitian iklim, saat ini pemanasan bumi sudah mencapai 1 derajat Celsius di atas suhu bumi pada masa pre-industri.

Dan saat ini suhu bumi sedang bergerak naik menuju angka 2 derajat Celsius. United Nations of Environmental Programme (UNEP) menyatakan bahwa tanpa aksi nyata bersama saat ini untuk menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca, temperatur bumi dapat meningkat hingga 3 derajat celsius pada akhir abad ini.

Advertisement

Kenaikan suhu bumi 3 derajat adalah malapetaka bagi makhluk hidup di muka bumi karena berdasarkan catatan hasil pantauan para peneliti disimpulkan bahwa saat ini pada tingkat kenaikan suhu bumi di antara 1.5 – 2 derajat dari suhu pada masa pre-industri telah peningkatan kejadian-kejadian alam ekstrem. Kejadian-kejadian ektrim ini pada skala global diproyeksikan akan semakin sering terjadi apabila pada tingkat kenaikan suhu bumi tetap di antara 1.5-2 derajat Celsius.

Kenaikan suhu bumi sampai dengan 2 derajat celsius adalah ambang batas maksimum planet bumi masih layak untuk ditinggali oleh makhluk hidup. Kenaikan suhu bumi di atas 2 derajat menyebabkan bumi menjadi tempat yang tidak layak lagi untuk dihuni. Panas bumi akan membuat udara menjadi sangat panas dan berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup.

Suhu yang sanga panas akan menyebabkan banyak ternak dan tanaman yang mati serta kebakaran hutan. Suhu bumi yang sangat panas juga menyebabkan kerusakan iklim. Sektor yang paling terdampak pada kerusakan iklim adalah sektor pangan dunia karena kerusakan iklim meyebabkan gangguan pada musim yang berdampak pada sistem tanam dan tuai. Musim kemarau akan sangat panjang akan menyebabkan gagal panen sehingga mempengaruhi produksi pangan bagi manusia.

Advertisement

Terkait sektor pangan juga pemanasan global berdampak pada produksi hasil laut karena laut adalah salah satu ekosistem yang sangat rentan terhadap pemanasan global dan emisi gas rumah kaca yang dihasillkan oleh kegiatan manusia (anthropogenic greenhouse gasses emissions). Emisi gas rumah kaca menyebabkan kenaikan tingkat keasaaman air laut.

Akibatnya adalah kerusakan karang yang secara otomatis merusak ekosistem sekitar karang. Pada kenaikan suhu bumi 2 derajat Celsius keasaman air laut akan menyebabkan pemutihan (bleaching) pada karang. Hal ini berdampak pada kerusakan ekosistem laut yang mengakibatkan penurunan jumlah ikan dan kepunahan spesies laut.

Terkait dengan habitat manusia, peningkatan suhu bumi mengakibatkan es di kutub-kutub bumi meleleh sehingga menaikan permukaan air laut dan menyebabkan banjir. Pada negara-negara pesisir kenaikan permukaan laut adalah mimpi buruk sebab kenaikan permukaan laut akan menyebabkan air masuk ke daratan dan menenggelamkan rumah penduduk. Kondisi ini akan memaksa penduduk di wilayah pesisir untuk mencari tempat yang lebih baik untuk ditinggali.

Pada tingkat yang ekstrem bencana alam diprediksi akan menyebabkan pengungsian besar-besaran. Masalah ini akan menjadi masalah besar apabila pengungsian ini terjadi di lintas wilayah negara yang berbeda karena sampai saat ini belum ada hukum internasional yang mengatur tentang perpindahan penududuk.

Presiden Maladewa, Mohammed Nasheed pada saat menyampaikan testimoni pada Environemntal Justice Foundation (EJF), suatu lembaga yang bekerja untuk perbaikan lingkungan, mengatakan bahwa kondisi bumi saat ini sudah sangat mendesak negara-negara untuk menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celsius. Mohammed Nasheed mengatakan bahwa Maladewa berada 1,5 meter di atas permukaan laut sehingga berapa pun kenaikan permukaan laut akan menyapu bersih wilayah negara Maladewa. Sebagai konsekuensinya, masyarat Maladewa terpaksa harus meninggalkan rumahnya akibat erosi.

Kenaikan suhu bumi di atas 2 derajat akan mempercepat kejadian-kejadian ekstrem tersebut. Sehingga, laju kenaikan suhu bumi ini menjadi perhatian negara-negara di dunia khususnya negara-negara yang rentan terhadap perubahan iklim seperti negara-negara pesisir. Perhatian ini menjadi pembahasan dalam Konferensi Para Pihak (COP) UNFCCC ke 21 di Paris. Kemudian pembahasan ini menghasilkan suatu kesepakatan, yaitu Paris Agreement. Perhatian utama dari kesepakatan ini adalah melakukan upaya mitigasi perubahan iklim untuk menahan laju kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat dan melakukan upaya-upaya untuk menurunkan suhu bumi di bawah 1.5 derajat Celsius.

Pembahasan ini sejalan dengan tujuan dan maksud Paris Agreement, yaitu menekan kenaikan suhu bumi di bawah 1.5 derajat pada tahun 2020. Negara-negara pihak UNFCCC sepakat bahwa hal utama dan yang paling mendesak untuk dilakukan adalah menurunkan emisi gas rumah kaca secara ekstrem. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah perbaikan sektor industri karena sektor industri adalah salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar.

Sektor industri harus beralih dari teknologi berbahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan ke teknologi ramah lingkungan, yaitu teknologi yang menggunakan energi terbarukan dan teknologi yang efisien energi. Teknologi ini dapat menurunkan tingkat ketergantungan industri terhadap bahan bakar fosil. Indonesia sebagai salah satu negara yang berkomitmen untuk menurunkan produksi gas rumah kaca dalam negeri juga sedang mengupayakan peralihan teknologi ini.

Seiring dengan upaya peralihan teknologi di sektor industri, Pemerintah Indonesia juga sedang berupaya untuk memperbaiki tata kelola hutan dengan menerapkan kebijakan moratorium hutan, yaitu kebijakan penundaan sementara penerbitan izin baru untuk mengelola hutan. Pemerintah Indonesia juga sedang berupaya untuk merestorasi gambut. Upaya ini sangat penting karena gambut adalah tempat penyimpanan karbon dunia.

Dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca Pemerintah perlu dukungan penuh dari masyarakat karena kerja Pemerintah akan tidak akan efektif dan tent memperlama pencapaian target penurunan emisi jika tidak dibantu oleh masyarakat. Karena pada prinsipnya lingkungan adalah tanggung jawab seluruh manusia di muka bumi. Manusia adalah satu-satunya makhluk berakal bumi yang bertanggung jawab untuk mengelola dan menjaga bumi.

Selagi Pemerintah mengerjakan upaya menurunkan emisi gas rumah kaca, ada banyak hal-hal sederhana yang dapat dilakukan oleh masyarakat seperti menggunakan listrik seperlunya untuk menghemat energi; beralih dari teknolgi berbahan bakar fosil ke teknologi dengan energi terbarukan seperti solar panel; beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum untuk menghemat energi sekaligus menurunkan jumlah produksi gas rumah kaca dari kendaraan bermotor; kurangi penggunaan plastik dengan menggunakan tas belanja yang dapat dipxakai berkali-kali; dan sebagainya.

Jika masing-masing orang secara pribadi ataupun secara bersama melakukan upaya-upaya sederhana ini dapat dipastikan akan ada penurunan jumlah emisi gas rumah kaca yang signifikan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya