Indonesia dihuni oleh berbagai orang-orang yang berbeda suku dan ras. Sebagai minoritas yang tinggal di Indonesia, kehidupan dan pengalaman hidup saya tentu berbeda dengan kebanyakan orang di Indonesia. Selama 18 tahun saya telah menjalani kehidupan di indonesia seabagai minortias dari kalangan etnis Tionghoa, dan apakah perbedaan kehidupan yang saya alami adalah hal yang buruk? Belum tentu juga.

Eksklusivitas yang akan saya bahas disini bukanlah semata – mata keuntungan bagi para minoritas, tetapi segala perbedaan kehidupan yang dialami saya sebagai minoritas dalam masyarakat dan budaya Indonesia.

Advertisement

Menjalani masa kecil saya sebagai minoritas di Indonesia dapat dibilang hampir tidak ada bedanya dengan anak – anak lainnya. Teman – teman rumah saya kebanyakan merupakan mayoritas yang beragama Islam. Hal itu bahkan membuat masa kecil saya lebih menarik dengan terbentuknya pengalaman – pengalaman seperti menamani teman saya ke masjid, atau menunggu teman – teman saya salat jumat di depan masjid.

Sebagai anak kecil saya tidak terlalu memikirkan identitas saya sebagai minoritas dan sebagai orang Indonesia, karena perlakuan yang saya dapat dari teman – teman saya tidak berbeda dengan perlakuan mereka ke satu sama lain. Selama SD, SMP, dan SMA lingkungan hidup saya kebanyakan bersama dengan minoritas – minortias lainnya dikarenakan saya menimba ilmu di sekolah swasta katolik. Interaksi saya dengan mayoritas dapat dinilang kurang dan sangat terbatas.

Namun pada SMA, saya bertekad untuk melanjutkan pendidikan saya ke perguruan tinggi negeri. Setelah setahun perjuangan saya, saya akhirnya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Malang. Banyak teman – teman saya yang merupakan minoritas tidak diperbolehkan orangtuanya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.

Advertisement

Berbagai alasan muncul ketika mereka mempunyai cita – cita untuk mengejar berbagai universitas – universitas ternama itu, dan kebanyakan alasan utamanya adalah "Kamu kan china, ga takut di bully apa?". Sebagai anak tunggal dan minoritas, tentu orang tua saya khawatir jika saya memutuskan untuk merantau ratusan kilometer dari Jakarta ke Malang.

Apalagi dengan banyaknya isu – isu radikalisme dan teman – teman orangtua saya yang menakut-nakuti akan adanya rasisme yang terjadi di kalangan masyarakat. Namun setelah pembujukan berhari-hari, orangtua saya akhirnya merelakan perantauan saya ke Malang.

Culture shock yang saya alami selama menjalin perkuliahan di Malang sebenarnya tidak terlalu besar. Saya pergi merantau dengan ekspektasi akan adanya pemisahan pergaulan antara mayoritas dan minoritas, namun yang saya alami adalah sebaliknya. Saya diterima dengan sangat baik dalam pergaulan yang saya alami di Malang.

Bahkan, teman – teman saya sekarang kebanyakan adalah orang – orang yang berbeda dengan saya dalam ras dan agama. Saya tidak pernah merasa dijauhi atau dibatas kebebasannya dalam melakukan apapun, dan saya sangat senang mengetahui itu. Segala ketakutan kebanyakan orangtua – orangtua minoritas yang pernah saya dengat selama ini tidak pernah terjadi sama sekali.

Walaupun pergaulan yang saya alami lebih luas, dan banyak hal baru yang saya temui seperti teman – teman saya yang memeluk agama Islam dengan sangat kuat, mereka tetap menghargai saya sebagai teman mereka dan orang Indonesia asli.

Lalu jika kembali ke pertanyaan awal, apakah menjadi minoritas di tanah air kita ini merupakan hal yang buruk? Menurut saya tidak sama sekali. Bahkan menurut saya menjadi minoritas adalah hal yang sangat baik. Saya mendapat berbagai pengalaman dan perjuangan yang tidak bisa didapatkan oleh kebanyakan orang.

Memang, jika kita mencari kasus rasisme dalam tanah air kita ini masih dapat ditemukan. Masih ada orang – orang yang menganggap bahwa minoritas seperti saya tidak berhak untuk mendapatkan hak yang sama dengan mereka, walaupun kebanyakan dari kami lahir dan tinggal di Indonesia selama hidup kami.

Namun, di era globalisasi ini, dimana setiap orang dapat terkoneksi satu sama lain dan pendidikan berkembang dengan sangat pesat, moralitas bangsa kita juga dapat dibilang berkembang pesat. Toleransi dan kebersamaan yang tercipta sangat kokoh, tidak ada lagi "perbedaan" dalam masyarakat modern yang baru – baru ini terbentuk, dan itu adalah hal yang sangat baik.

Saya yakin dengan berkembangnya zaman dan dengan mudahnya akses pendidiikan ke seluruh orang di dunia, sikap rasisme dan anti toleransi yang masih dapat ditemukan di Indonesia suatu saat akan hilang dengan sepenuhnya

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya