Jangan jadi orang lain, berat. Biar jadi diri sendiri saja.

Nama Dilan kembali mencuat diawal tahun 2018 karena novelnya yang difilmkan. Novel yang dirilis tahun 2014-an ini diangkat kelayar lebar karena banyaknya permintaan para pembaca juga atas persetujuan sang penulis Pidi Baiq dengan sang sutradara Fajar Bustomi. Sejak trailer-nya dirilis, Dilan menjadi salah satu film yang banyak dinanti oleh kalangan anak muda.

Advertisement

Akhir-akhir ini, quote-quote Dilan mulai bermunculan disana-sini, bukan hanya quote asli saja, bahkan muncul juga quote-quote plesetan yang membuat kita terpingkal-pingkal. “Jangan rindu, berat. Biar aku saja” itu menjadi salah satu quote yang banyak diplesetkan. Mari mulai membicarakan sosok Dilan itu sendiri.


Dilan adalah sosok pelajar SMA tahun 90-an yang penuh kejutan, slengean, jenaka, menyebalkan dan juga pemberani. Dilan kala itu banyak memberikan kejuatan pada Milea, mulai dari kado TTS, sampai tingkah laku yang membuat Milea tak bisa jauh darinya.


Kini, Dilan menjadi sosok yang banyak dikagumi oleh kaum muda mudi di Indonesia. Semua wanita ingin menjadi Milea yang banyak diberi kejutan oleh Dilan, dan para lelaki ingin menjadi Dilan yang bisa selalu terlihat romatis pada Milea. Kenapa cerita cinta mereka begitu mengagumkan?

Advertisement

Takkan ada Dilan, bila tak ada Milea. Itu kalimat pertama yang harus kita maknai. Saya berpendapat, Dilan adalah sosok yang anti kemewahan, ia mendekati Milea dengan apa yang dipunya, tak perlu menunjukan apa-apa yang menjadi milik orangtua juga sifat sederhana yang membuat Milea tergila-gila. Dan Milea adalah sosok yang bisa menerima, menghargai, dan tak banyak meminta. Itulah yang membuat cerita cinta mereka begitu mengagumkan.

Dilan selalu menjemput dan mengajak Milea jalan menggunakan sepeda motor, Milea tak pernah menuntut Dilan untuk menjemputnya dengan mobil sambil berkata “Lan, jemput pakai mobil dong biar nggak panas, rambut aku biar nggak lepek, kan udah catokan, makeup aku luntur juga nanti”.

Malah, Milea lebih senang naik motor dan juga hujan-hujanan bersama Dilan. Dilan pernah mengajaknya ngopi di warung pinggir jalan, Milea tidak pernah menuntut Dilan untuk hangout di coffeeshop yang instragamable sambil berkata “Lan, masa kita ngopi disini sih? Kopi nya sachetan, nggak ada spot buat foto lagi”. Sudahkah kita seperti mereka?

Jadi, jika kita ingin mendapatkan sosok seperti Dilan, Milea-kanlah dirimu. Begitupun sebaliknya.

Biarlah cerita Dilan dan Milea menjadi cita-cita anak muda jaman sekarang. Lalu bagaimana dengan Fahri? Dia tak kalah hebat lho dengan Dilan.

Sosok Fahri lebih dulu dikagumi ketimbang Dilan, jelas karena film Ayat-Ayat Cinta lebih dulu tayang dibanding Dilan. Jadi, jika sosok Dilan adalah pacar impian, justru sosok Fahri adalah suami idaman. Bagaimana tidak? Sekelas Chelsea Islan saja minta dinikahi “Nikahi aku Fahri, aku mohon!”. Fahri menjadi sosok yang begitu dikagumi oleh kaum hawa karena kewibawaannya, kharismatiknya, dan kebaikannya. Dia selalu berbuat baik kepada setiap orang bahkan yang berbuat jahat padanya, berbeda dengan Dilan yang justru balik menyerangnya.

Tak akan ada Fahri, bila tak ada Aisyah. Jika Dilan dan Milea adalah sosok yang sederhana, cerita cinta Fahri dan Aisyah ini adalah sosok yang setia. Bayangkan saja jika kita menjadi lelaki yang ditinggal istri dengan lama, masihkah setia? Dan bayangkan jika kalian menjadi Aisyah yang tahu-tahu Fahri telah berpoligami? Masihkah menerima?

Jadi, jika kalian ingin mendapatkan suami seperti Fahri, Aisyah-kanlah dirimu. Begitupun sebaliknya.

Tak bisa dipungkiri, sosok Dilan dan Fahri adalah sosok yang banyak menginspirasi. Jadi kaum wanita mau pilih siapa? Dilan atau Fahri?

Jika kalian memilih Dilan, bersiaplah untuk terus digombali tapi tak dinikahi. Jika kalian memilih Fahri, bersiaplah untuk jadi istri yang dipoligami. Sekali lagi, jangan jadi orang lain, berat. Jadi diri sendiri saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya