Penggunaan plastik bukan merupakan hal yang asing lagi untuk didengar. Selain dari kegunaannya yang banyak sekali, proses pembuatannya juga sangat mudah dan juga harganya yang murah. Plastik juga bersifat mudah dibentuk dan dapat bertahan lama.

Namun siapa sangka dibalik keunggulannya yang sangat banyak, plastik juga memiliki kekurangan seperti sangat sulit untuk terurai secara alami dan juga sulit untuk didaur ulang. Dibutuhkan waku sekitar 500-1000 tahun untuk bisa terurai secara alami. Sungguh waktu yang sangat lama bukan?

Advertisement

Ironinya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan penggunaan sedotan plastik tertinggi di dunia. Tidak main-main, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia. Tentunya, hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang bisa dibanggakan dari negara kita tercinta ini.

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) mencatat, terdapat setidaknya sebanyak 1,29 juta ton sampah dibuang ke sungai dan bermuara di lautan dan sebanyak 13.000 sampah plastik mengapung di setiap kilometer persegi setiap tahunnya.

Selain itu, Divers Clean Action memperkirakan penggunaan sedotan di Indonesia setiap harinya dapat mencapai 93.244.847 batang. Dengan semakin meningkatnya sampah plastik di lautan, hal tersebut menjadi ancaman yang sangat mengerikan karena dapat merusak ekosistem makhluk hidup di laut.

Advertisement

Akhir-akhir ini banyak bermunculan gerakan anti sedotan plastik yang bertujuan untuk menyelamatkan lingkungan yang sudah terkena dampak dari pencemaran sampah plastik.

Di Indonesia sendiri, gerakan anti sedotan plastik ini bahkan sedang menjadi tren di kalangan masyarakat. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik. Terdapat juga beberapa restaurant yang telah mengurangi penggunaan sedotan plastik seperti contohnya McDonald, KFC, dan Starbucks.

Untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik, kita masih dapat menggunakan beberapa inovasi alternatif pengganti sedotan plastik seperti contohnya yang sedang marak di kalangan masyarakat sekarang ini yaitu sedotan stainless steel. Penggunaan sedotan stainless steel awalnya hanya digunakan sebagai kampanye dari inovasi untuk mengurangi sampah plastik.

Namun, penggunaan sedotan stainless kini sedang menjadi tren terutama di kalangan masyarakat di Indonesia karena selain dapat digunakan berulang-ulang, sedotan ini juga terlihat keren. Untuk mendapatkan sedotan stainless steel ini, kita dapat menemukannya dengan mudah di mall dan di supermarket besar. Kita juga dapat dengan mudah menemukannya lewat online shopping.

Selain menggunakan alternatif pengganti sedotan, kita masih dapat berpartisipasi dalam gerakan anti sedotan plastik ini dengan cara tidak menggunakan sedotan sama sekali. Lagipula, mengapa kita perlu menggunakan sedotan jika kita bisa minum langsung dari wadah minum?

Penggunaan sedotan juga sebenarnya tidak lepas dari pengaruh yang kurang baik. Penggunaan sedotan yang terlalu sering dapat mengakitbatkan timbul keriput di sekitar mulut. Kebiasaan mengerutkan bibir saat minum dari sedotan juga secara perlahan dapat membuat lipatan di kulia area mulut. Dampak lainnya adalah permasalahan pada pencernaan seperti perut kembung.

Hal tersebut terjadi karena ketika kita minum dari sedotan, kita akan menelan lebih banyak udara dibanding jika minum langsung dari wadah minum atau gelas. Udara ini kemudian akan menumpuk dan berkumpul di usus yang pada akhirnya dapat membuat perut menjadi kembung dan terasa tidak nyaman. Sedotan juga cenderung mengirim minuman manis dan asam ke celah-celah gigi. Hal itu dapat meningkatkan risiko akan gigi berlubang.

Nah, sekarang kita sudah tau betapa buruknya dampak penggunaan sedotan plastik secara berlebihan?
Selain tidak ramah lingkungan, penggunaan sedotan plastik juga dapat berdampak buruk terhadap kesehatan kita. Maka dari itu, ayo kita kurangi penggunaan sedotan plastik mulai dari sekarang!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya