Sebagai penikmat media sosial, belakangan ini saya merasa miris dengan eksistensi orang-orang dewasa yang mungkin baru diusia matangnya mengenal Facebook, Instagram, dll. Beberapa dari penikmat media sosial tersebut bahkan lupa dengan siapa dirinya sendiri. yang mereka fikirkan hanyalah ingin menampilkan hal-hal yang bersifat meningkatkan eksistensinya di media sosial sehingga banyak mendapat like dan komentar berupa pujian bahkan perhatian.

Yang sangat membuat hati saya tergerak untuk mengutarkan opini dalam bentuk tulisan ini karena beberapa dari mereka adalah guru.

Advertisement

Definisi guru itu apa? Apa sih peran dari seorang guru sebenarnya?

Apa mereka lupa untuk apa mereka menjadi seorang guru dan tujuan mereka menjadi seorang guru? Bukankanh menjadi seorang guru untuk mendidik seorang anak murid menjadi cerdas. Tidak hanya cerdas dalam akademik dengan nilai-nilai yang bagus yang kemudian bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi tapi juga dalam berperilaku. Perilaku yang seperti apa? Tentu perilaku yang beretika dan berakhalak. Siapa yang memberi contoh? Guru.


Di Facebook saya melihat seorang guru sekolah dasar yang mengunggah foto-foto di sekolah dengan pakaian dan pose-pose tidak pantas. Guru tersebut rambut pirang, baju ketat, dada dibusungkan dan bokong ditonjolkan.


Advertisement

Sudah seharusnya guru sekolah dasar menjadi sosok yang dapat memberikan contoh pertama kepada anak-anak penerus bangsa di lingkungan sekolah. Pondasi pertama anak-anak dalam pembentukan karakter selain keluarga (orangtua) yaitu guru. Sehingga yang zaman sekarang anak-anak yang disebut kids jaman now itu berkurang. Bukannya menciptakan komunitas baru yang menurut saya layak untuk disebut guru jaman now.

Okelah jika berfoto-foto adalah setiap hak individu. Akan Tetapi tidak perlu atau bahkan tidak seharusnya foto-foto yang merusak citra guru tersebut di pamerkan di media sosial, cukup menjadi koleksi pribadi saja. Jujur, jika saya menjadi orang tua salah satu murid, saya tentu akan protes ke pihak sekolah.

Karena menurut diri saya pribadi, bagaimana anak saya bisa dididik dengan baik jika contohnya atau pengajarnya saja tidak mengerti soal etika dalam berpakaian dan berperilaku. Dan nanti jika saya menjadi seorang ibu, saya akan berfikir dua kali untuk memasukan anak saya ke sekolah dengan beberapa guru yang seperti itu.

Untuk apa standar/aturan-aturan di bentuk di sekolah jika hanya murid yang melaksanakan. Dilarang menggunakan baju ketat, rok ketat, pendek dan sepinggul, rambut warna warni, kaos kaki harus tinggi, sepatu hitam, makeup minimalis. Kenapa tidak diberlakukan kepada guru-guru juga? Apa lagi jika guru tersebut pegawai negeri sipil yang seharusnya mentaati standar dalam berpakaian dan berpenampilan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Ya tidak semua guru, masih banyak guru yang baik dalam berpenampilan dan bersikap. Itu hanya segelintir guru yang saya lihat di media sosial. Saya yakin masih banyak guru-guru hebat yang dapat menjadi panutan yang tentu akan membimbing anak-anak muridnya menjadi orang hebat yang berguna dalam membangun bangsa ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya