Hai hati sempatkah kau merasa mentari tak lagi bersinar di tiap-tiap sudut langit? Lantas apa yang kau lakukan? Hanya terbata dan bersembunyi dibalik sepi, atau karena tak mungkin kau ciptakan mentari yang menyinari sudut langit lalu kau ciptakan mentari hanya untuk menyinari sudut hatimu sendiri? Mana yang kau pilih?

Arghh! terkadang atau mungkin seringkali banyak orang yang memiliki ekspektasi atau harapan tinggi terhadap kita. Mereka terkesan menuntut lebih, tanpa mereka tahu seberapa banyak kerikil-kerikil tajam yang masih menancap di telapak kaki kita. Tanpa mereka tahu seberapa sering kita berjalan tertatih tanpa ada yang memapah, dan tanpa mereka tahu ada banyak angan yang terabaikan karena ekspektasi mereka. Terkadang ‘lelah’ menjadi kata yang selalu mengiringi langkah demi langkah untuk terus berjalan maju dan lebih jauh, aku tak berteman akrab dengan kata itu, namun adakalanya kata itu menyapaku lalu entah bagaimana aku tergiur untuk sedikit bercengkrama dengannya. Entah mengapa sulit rasanya untuk berpaling dari kata itu ketika aku tengah asyik bercengkrama. Jadi teruntuk aku, dan hatiku . . . baca, rasakan dan mulailah memahami untuk tetap tegar.

Advertisement

Teruntuk aku yang merasa bukan siapa-siapa, percayalah aku adalah jawaban dari beberapa orang ketika ada pertanyaan “siapa orang yang sangat berarti untukmu?”

Terutuk aku yang merasa semua hal yang telah dilakukan adalah sia-sia, percayalah Tuhan begitu menyayangiku dan tak mungkin mengizinkanku melangkah sejauh ini hanya untuk hal yang sia-sia.

Teruntuk aku yang tak tahu harus berbuat apa lagi, ku mohon jangan pernah palingkan hatiku dari-Nya. Percayalah tanpa-Nya aku tak akan pernah melangkah sejauh ini dengan segala moment indah yang sempat tercipta dan mungkin tidak aku sadari.

Advertisement

Teruntuk aku yang tengah merasa di titik jenuh, ku mohon jangan terlalu nyaman di titik itu. Karena aku yakin masih ada harapan indah yang tengah menantiku untuk kembali melangkah di garis lain.

“Iyaa Garis yang lain. Aku hanya perlu kembali melangkah, bebaskan hati, dan tersenyum pada tiap langkah yang akan aku ambil”

Dan teruntuk aku yang tengah merasa di titik terendah, terakhir permohonanku jangan pernah padamkan harapan meski hanya sisa-sisanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya