Mulai dari Sabang sampai Merauke, dari anak-anak sampai orang dewasa, hampir semua memiliki social media. Namun, essensi dari majunya teknologi ini, belum sampai ke sasaran dengan baik. Banyak masyarakat yang belum paham essensi dari adanya internet. Banyaknya berita hoax menjadi salah satu dampak belum siapnya masyarakat menerima teknologi ini.

Sampai saat ini, sebagian besar masyarakat Indonesia baru mencapai taraf dapat mengakses informasi dengan mudah dan cepat. Tetapi belum dapat membedakan mana informasi yang valid dan mana informasi hoax. Mudah dan cepatnya pesan yang didapat seakan menjadi boomerang. Banyak informasi yang simpang siur justru tersebar luas dan menimbulkan persepsi yang salah. Banyak pesan berantai yang entah dari siapa pengirimnya, lantas masyarakat langsung mempercayainya tanpa melihat fakta yang ada, serta menyebarkannya pesan tersebut ke khalayak ramai. Akibat dari persepsi yang salah, banyak masyarakat yang terprovokasi oleh berita hoax tersebut, sehingga memicu pergesekan, baik dalam lingkup kecil maupun besar.

Advertisement

Untuk itu, masyarakat diharapkan dapat memilah-milah mana informasi yang valid, mana yang hoax. Jika setelah dikroscek sudah sesuai dengan fakta, barulah pesan tersebut dapat disampaikan ke khalayak ramai sebagai suatu informasi yang baru, yang dapat menambah wawasan masyarakat terhadap sesuatu, atau agar masyarakat peka terhadap situasi yang ada di sekitar mereka dan dapat membantu pemerintah dalam menyelesaikan persoalan yang ada. Yang kedua, mudahnya akses internet juga membuat ruang privasi seseorang menjadi berkurang.

Banyaknya fitur location, dan unggahan mengenai recent activity seseorang, semua orang dapat melihat apa yang mereka unggah, membuat seseorang seperti tidak memiliki ruang privasi untuk dirinya, semua kegiatannya dibagikan ke khalayak ramai sehingga orang-orang tahu apa yang dilakukan seseorang selama 24 jam. Kemudahan fitur social media ini juga menjadikan budaya membaca masyarakat menjadi menurun. Masyarakat bebas bertanya tentang hal apapun secara frontal kepada orang lain dalam suatu social media tanpa berusaha mencari tahu informasinya terlebih dahulu.

Rasa ingin tahu masyarakat jadi berpindah, bukan pada hal-hal baru, tetapi pada kehidupan pribadi seseorang. Masyarakat menjadi mudah men-judge seseorang, padahal mereka tidak sepenuhnya mengenal orang tersebut. Semua akan menjadi masalah bagi kita jika kita tidak bisa menghandle teknologi ini. Yang paling pelik, jika internet sampai ke tangan anak-anak.

Advertisement

Mereka tumbuh dengan gadget yang penuh internet dan social media, sehingga lupa caranya berinteraksi langsung dengan orang lain, lupa bagaimana asiknya main di alam, mereka lebih suka mematung didepan layar rata-rata 5 inchi demi menonton, main game, atau sekedar menscroll layar dalam waktu berjam-jam. Itu juga akan berdampak negatif pada kesehatan mata mereka dalam jangka panjang.

Tapi tenang, selain hal-hal diatas, internet juga memiliki sisi positif untuk kita loh. Terutama untuk kaum-kaum yang menjalani LDR alias Long Distance Relationship hehehe. Internet sangat membantu mereka untuk dapat saling bertatap muka meski terpaut jarak yang jauh, ciyaaaa. Selain itu, internet dan social media juga dapat menghasilkan benefits, seperti usaha online shop yang menggunakan social media sebagai bentuk media promosi produk mereka. Selain itu, social media juga dapat digunakan untuk mempublish karya-karya yang dihasilkan oleh anak muda di Indonesia.

Dari beberapa sisi positif dan negatif adanya internet di Indonesia, kita harus cerdas dan arif dalam menggunakannya, sehingga dapat menambah wawasan dan menginspirasi diri kita dan banyak orang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya