Aku, anak perempuan yang seharusnya tak lagi dianggap anak- anak. Aku anak ibu, yang hanya ingin menceritakan beberapa hal kecil, yang terkadang suka keluhkan, "udah ah bu, aku bukan anak- anak lagi". Ibu, orang terakhir yang mematikan lampu saat malam, juga orang pertama yang menyalakan lampu saat pagi, juga membuka kunci pagar rumah.

Bu, aku ingin berbagi kepada teman- temannku soal percakapan kita setiap malam. Maafkan anakmu nanti jika nyatanya ada bagian yang terlewat, sungguh bukan karena aku lupa. Aku hanya tak ingin terlalu berlarut-larut dalam rindu ini. "Teh, pokoknya besok kalau kesiangan lagi, Ibu nggak mau ikut-ikutan ribet. Terserah teteh, teteh udah gede" "Ibu besok pagi gak mau teriak- teriak bangunin ya, terserah kalian mau berangkat jam berapa" Mungkin itu bisa salah satu penutup pembicaraan kami tiap malam, Ibu yang tak pernah bosan mengulang- ulangnya setiap malam, juga selalu saja tak pernah konsisten dengan "ancamannya".

Advertisement

Tetap saja, besok Ibu akan tetap sabar, atau setengah sabar atau tanpa ada kesabaran lagi, Ibu akan tetap memastikan anak- anaknya berangkat tak terlambat. Iya, itu Ibuku. Menjadi anak Ibu, berarti akan selalu menjadi seorang "anak kecil". Atau lebih tepatnya, Ibu seolah tak pernah mengijinkan anaknya menjadi seorang yang dewasa ketika di rumah. Ah, masih ada yang ingin aku ceritakan, cerita keesokan paginya, mungkin saja kalian juga mengalami hal yang sama. Selamat!

Ibu: "teh, udah makan belum"

Anak perempuan Ibu: "nggak papa bu, nggak usah makan, nggak akan sempet"

Advertisement

Ibu: "oh"

tapi "Oh" milik ibu bukan artinya menerima, ibu mengiyakan sambil membawa sepiring nasi yang hukumnya wajib untuk dihabiskan.

Dan tanpa butuh waktu lama, Ibu sudah duduk di samping aku, dan mulai menyuapi dengan paksa. Aku, dan juga semua anak- anak Ibu sudah tahu bahwa sarapan dan bekal sudah menjelma seperti wajibnya shalat fardu, bahkan lebih wajib dari uang saku di dompet. Bu, aku selalu saja suka jika menceritakan moment ini kepada siapapun. Aku juga tak pernah bosan bila harus selalu memutar kenangan ini di sini, di tempat yang kadang aku masih saja mau disuapi dan disiapkan makan tiap pagi.

Bu, jangan tanyakan mengapa aku menulis ini, tapi tolong tanyakan bagaimana dan kapan aku menulis ini. Bu, aku menulis ini saat aku rindu, sangat rindu. Bu, rindu itu memang selalu berhasil tumbuh dengan subur ketika pupuknya adalah jarak. Bu, aku tak pernah menulis ini di atas kertas, karena dulu aku pernah mencobanya, dan semuanya rusak, rusak basah oleh air mata. Bu, sekarang ini setiap malam aku harus berpikir tentang apa yang bisa aku makan sebelum berangkat esok pagi.

Tetapi, seringnya aku bahkan tak bisa melakukan dua hal itu, sarapan dan berangkat tepat waktu. Bu, ternyata seberat ini rasanya jika pergi tak ada yang mengantar. Tak ada tangan yang bisa aku salami, tak ada siapapun yang bisa kuucap salam. Juga ternyata berat dan seperti kosong rasanya jika tak ada yang memaksa untuk makan, dan memasukan bekal kedalam tas.

Bu, dan ternyata masalah makanan bisa membuat hasrat ingin pulang lebih besar 1000 kali Bu, mungkin beberapa orang akan berpikiran bahwa aku sudah tak layak ingin diperlakukan seperti ini di usia yang sudah tak bisa di bilang muda. Tapi aku bangga menjadi anak ibu, walaupun dengan label "lupa umur". Dari anak perempuanmu yang selalu saja menuntut untuk bertemu,

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya