Kamu akan merasakan hal-hal seperti di bawah ini jika kamu mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia.

1. Ketika berbicara dengan dosen yah kamu harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

Mau berbicara dengan dosen saja kamu harus berpikir puluhan kali. Merangkai kata yang apik agar tidak terlihat serba salah depan dosen. Dosen bahasa tentu sangat memerhatikan setiap kata demi kata yang kamu lontarkan padanya, sedikit ada kata yang keliru pasti dibalas, "Coba ulangi yang kamu bilang?" Alhasil kamu akan kebingungan dibuatnya.

2. Sensitif dengan perkataan orang lain

Anak bahasa pasti pernah mengikuti mata kuliah Analisis Kesalahan Berbahasa dan Pragmatik. Ngaku? Iya kan? Setelah menelaah dengan baik mata kuliah ini, biasanya mereka akan mulai menampakkan sisi sensitifnya. Eh maksudnya mereka akan menjelma seperti dosen di poin pertama hehehe. Selain itu, mereka menjadi lebih cermat mengartikan maksud lawan bicaranya. Apakah modus ataukah tulus.

Advertisement

3. Mendadak mahir merangkai kata-kata di saat urgent

Lain halnya dengan mahasiswa yang bergelut dengan kalkulator dan angka-angka. Saat ujian tiba, anak bahasa mendadak mahir merangkai kata-kata. Bagaimana tidak? Perkuliahan hanya kebanyakan teori. Jadi, mengarang pun menjadi solusi terbaik saat kami tidak belajar hehe

4. Teman sejati S-P-O-K

Siapa yang tidak mengenal S-P-O-K? Anak bahasa harus, wajib, kudu, mesti (yang ini pleonasme) tahu semacam apa itu S-P-O-K. Saat SMA, kamu hanya mengenal dasarnya saja. Nah, saat memasuki zona mata kuliah Sintaksis maka kamu akan tahu bahwa S-P-O-K ini ternyata beranak pinak. Hanya anak bahasa yang tahu.

5. Bukan kenapa tapi mengapa

Masih semester awal sempat di skakmat oleh seorang dosen ketika bertanya dengan menggunakan kata "kenapa". Raut wajah yang tadinya merekah indah berubah pucat pasi (yang ini hiperbola) setelah agak sedikit ditegur memakai kata "kenapa". Hanya satu kata tapi sangat berpengaruh. Kalau dalam bahasa Indonesia, yang baku itu "mengapa" bukan "kenapa". Untuk orang awam seperti saya saat itu masih agak geli menggunakan kata "mengapa". Yang tadinya biasa bilang "kenapa bisa begitu?" tiba-tiba "mengapa bisa begitu?" Kedengaran agak aneh ya? Itu dulu, intinya adalah bisa karena biasa.

6. Terkadang merasa terasingkan dengan pertanyaan orang perihal jurusan

"Kamu jurusan apa?"

"Bahasa? Kok ambil bahasa sih? Kan mudah!"

Secara subjektif, orang-orang selalu melihat dari sampulnya saja. Padahal, ia belum merasakan sendiri masuk jurusan bahasa Indonesia. Awalnya saya pun menganggap bahwa bahasa Indonesia itu mudah, tetapi setelah menyelami dengan baik tak seperti yang dipikirkan oleh banyak orang.