Ada kisah yang tidak perlu diingat, namun hanya butuh dikenang. Bruk! Tanpa disadari aku telah menabrak seseorang yang tidak ku kenali. Saat menuju parkiran kampus. "Ma – maaf, aku tidak sengeaja" sambil tersenyum kikuk. Pemuda itu hanya diam, menatapku dingin lalu pergi begitu saja. Melihat kejadian itu membuat aku mendengkus kesal, tentu saja aku tidak suka dengan sikapnya yang dingin.

"Hah, aku tidak sengaja menabrak mu. Dan kau berlalu begitu saja. Kenal saja tidak, bagaimana bisa kau menatap ku sebegitunya. Arrgh" batinku. Ku laju sepeda motorku yang ku sebut "Jeki". Ia merupakan motor metic, berwarna hijau dengan paduan warna putih. Selalu menemaniku kemanapun yang aku mau. Sesampainya di rumah aku disambut hangat oleh mama. Namun, mama tetap saja mampu menangkap sisa rasa kesalku walaupun sudah ku paksakan untuk tersenyum manis.

Advertisement

Tentu saja ia adalah mama yang selalu tahu keadaanku. "Kamu kenapa sayang?" Tanya mama lembut padaku. "Emang ada apa ma?" Aku malah balik bertanya dengan polosnya. "Loh, kan mama yang tanya. Kenapa malah balik tanya sih?" Dengan raut wajah yang ditahan untuk tidak tertawa melihat putrinya yang polos ini. "Ma, kakak kekamar dulu ya. Lelah seharian dikampus." Aku tidak ingin menjawab pertanyaan mama, aku jawab seadanya dan meminta izin ke kamar.

"Iya sudah, kamu istirahat saja." Tersenyum melihat putrinya yang langsung berbalik menuju kamar. Sudah pukul 18.45, aku belum melakukan hal apapun sedari tadi. Hanya tiduran, mendengarkan alunan musik, bersenandung ria menghilangkan kekesalanku. Suara merdu mama menyadarkanku, menanyakan apakah aku sudah melaksanakan sholat atau belum. Aku langsung bergegas mandi lalu menunaikan kewajibanku. Setelahnya aku menuju dapur untuk membantu mama memasak.

Mama menyuruhku memanggil papa yang duduk di teras rumah. "Pa, makan yuk" ajak ku pada papa. "Iya sayang" menuju dapur bergabung dengan mama dan adikku. Selesai makan, aku langsung ke kamar. Tugasku sudah menumpuk dan sebelum aku mengerjakannya ponselku berbunyi menandakan ada pesan WA yang masuk.

Advertisement

"Assalamualaikum, sudah selesai tugasnya ?" Isi pesan tersebut. "Waalaikumsalam, belum ka" jawabku. "Kalau sudah selesai kabarin ya nad? " Balasnya. "Hayolah Raka, kerjakan terlebih dahulu" Protes ku padanya. "Haha, kan masih ada kamu". Balas nya lagi. "Dasar pemalas" batinku. Setengah jam kemudian, aku telah selesai mengerjakan semua tugasku. Sehabis sholat isya aku langsung tidur, seharian di kampus sangat melelahkan.

Keesokan paginya, seperti biasa aku membantu mama memasak, lalu bergegas ke toilet. Lima belas menit setelahnya, aku menuju dapur dan bergabung dengan mama, papa dan adikku. Suasana sarapan ini yang selalu membuatku rindu jika sedang camp ataupun di luar kota. Tiga puluh menit yang aku butuhkan untuk sampai di kampus. Bukan Raka namanya kalau tidak langsung meminta tugasku, bahkan di saat baru bertemu.

Setidaknya dia bisa basa-basi dulu, tapi itulah Raka walaupun begitu dia tetap teman terhebat yang aku punya. "Assalamualaikum, mana tugas nya nad?" Tanyanya langsung to the point. "Waalaikumsalam, ih dasar raka. Datang datang langsung tanya tugas". Sambil menyodorkan tugas yang dipinta. Ia hanya tersenyum lalu mengambil tugasku. "Pinjam dulu ya Nadaku" sambil memberikan coklat padaku lalu berlalu pergi. "Nadaku? Iih apaan sih" ketus ku. Sambil memakan coklat pemberiannya.

Hanya ada 2 sks hari ini, jadi aku bisa bersemedi ria di perpustakaan . Dosen mengakhiri perkuliahan. Aku berjalan menuju perpustakaan. Bruk!! Aku terjatuh, kali ini ada seseorang yang menabrak ku. Bukannya menolong dia hanya menatapku dingin. Kemudian berlalu meninggalkan aku yang masih berusaha bangkit. "Keterlaluan!!" Batinku. Perpustakaan masih sepi membuat aku leluasa mencari buku yang ingin ku baca. Di sudut sebelah kanan rak buku, aku melihat lelaki yang baru saja menabrakku.

Tanpa aku sadari, aku berjalan tepat di hadapannya. Seperti biasa dia masih menatapku dingin. "Assalamualaikum" sapaku padanya. "Waalaikumsalam" jawabnya tanpa memandangku lagi. "Kenapa kau menatapku sedingin itu? Apa kita saling kenal?" Tanyaku to the point, sudah tidak tahan ditatap seperti itu. "Perasaanmu saja, aku rasa tidak" jawabnya ketus.

"Bukan, kau memang menatapku dingin" protes ku padanya. "Lalu?" Dia balik bertanya. "Apa?!" Batinku. "Tidak ada yang ingin kau ucapkan padaku?" Ku harap kau mengerti, dan meminta maaf padaku. " " hening, hanya tatapan dingin yang dia tunjukkan, kemudian berlalu. "TEGA!!" Batinku. Raka menemuiku di perpustakaan. Dia terkejut melihat ekspresiku yang menutupi sebagian kepalaku dengan buku.

"Nad, kau baik baik saja?" Tanyanya khawatir. "Menurutmu?" Ketus ku. "Idih, galak amat mak" sambil menarik buku di atas puncak kepalaku. "Apaan sih ka, sana !" Mencoba mengusir raka. "Wajah udah kayak baju kusut" duduk di hadapan nada. "Nih gosok nih " kataku. Sambil mendekatkan wajahku padanya. Raka langsung menggosok wajah ku dengan tangannya. "Rakaaaaa" teriakku tidak terlalu kuat mengingat kami sedang berada di perpustakaan, ini anak polos apa gimana ya pikirku.

"Kamu kenapa nada?" Tanyanya lembut. "Tadi aku ditabrak cowok, bukannya dia minta maaf malah menatapku dingin dan berlalu gitu aja ka nyebelin banget". Kataku panjang lebar. "Hahaha" tertawa terbahak-bahak, seolah nada sedang melawak. "Eh, semprul. Apanya yang lucu?" Kataku mendengkus kesal. "Sepertinya aku kenal cowok yang kau maksud" katanya enteng. "Dari mana kau yakin ?" Tanyaku mulai serius. "Wajahnya, aduh tolong dikondisikan" tawanya pecah melihat

Nada yang tiba-tiba raut wajahnya berubah serius. "Kan…" kataku memelas. "Dia itu mahasiswa semester akhir di jurusan kita. Hanya dia satu satunya cowok seperti yang kau maksud" kata Raka menahan tawanya. "Siapa namanya?" Tanyaku penasaran. "Namanya Dava, Dava Adya Natama. Setahuku dia dulu tidak seperti itu Nad". Jelas raka. "Kamu kenal di mana ka?" Tanyaku semakin penasaran. "Dia itu tetanggaku sebelum aku pindah ke rumah" jawabnya. "Ooh begitu" aku hanya ber oh ia. "Balik yuk" ajakku pada raka. "Iyauda, tapi sebentar ya. Aku mau jumpain Andin dulu." Kata raka.

"Iyaudah aku balik duluan ya ka" kataku. "Bentar aja kok" jawabnya. "Bentar? Males ah nungguin kamu bakal lama" kataku. "Iyaudah, hati-hati di jalan ya Nadaku" jawabnya lembut. "Iyaa Rakaku" kataku sok imut. "Idih kok agak jijik gitu ya dengernya" jawabnya meledek. "Semprul" ketus ku. Meninggalkan Raka yang masih tertawa. Aku langsung menuju parkiran. Disana sudah terlihat sosok lelaki yang sukses membuat aku sangat penasaran. Abaikan Nada pikirku. Tapi dia seperti memperhatikan ku. Ah, aku mulai ngawur nih. Sesampainya di rumah seperti biasa. Membantu mama memasak dan makan malam bersama. Malam ini aku bisa langsung tidur nyenyak tanpa ada tugas yang mengganggu malam ku. Tapi pikiranku masih melayang pada sosok yang selalu menatapku dingin. "Bisakah kita berteman ?" Batinku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya