Empati (dari Bahasa Yunani εμπάθεια yang berarti "ketertarikan fisik") didefinisikan sebagai respons afektif dan kognitif yang kompleks pada distres emosional orang lain (source: Wikipedia).

Beberapa minggu yang lalu, ada seorang selebriti yang curhat via Instagram Stories. Doi merasa dilecehkan oleh seseorang yang sengaja mengirim Direct Message ke doi. To be honest with you, I didn't exactly know when or how it happened. I also don't want to talk about that. Tapi coba deh, browsing berita itu dan liat kolom komentarnya. Banyak netizen yang mengeluarkan opini mereka tanpa memikirkan konsekuensinya. Sekarang coba bayangkan kita ada di posisi doi, apa yang akan kita lakukan? I don't know about you, but I'd be crying my eyes out, for sure.

Advertisement

Kembali ke topik utama, empati. Maksud tulisan ini simple, karena gue pengen sharing yang ada di pikiran gue bahkan sebelum kejadian itu terjadi.

Growing up in a rural area and conservative society has taught me one thing; budaya victim blaming masih kental banget di Indonesia. Yang terjadi sama selebriti di atas itu cuma satu dari sekian banyak contoh kasus yang terjadi di Indonesia. Ketika ada orang yang mengalami pelecehan seksual, kebanyakan netizen nyinyir dan nyalahin korbannya. Yang dinyinyirin, apa lagi kalau bukan penampilan.

Pasti udah pernah denger dong yang namanya empati. Seperti definisinya yang ada di awal tulisan ini, rasa empati itu merupakan suatu respon yang kompleks pada distres emosional orang lain. Ketika seseorang mendapat musibah atau kemalangan, rasa empati ini berperan besar. Empati, bukan simpati. Dengan banyaknya kasus pelecehan seksual yang terjadi di jaman sekarang, orang-orang lebih suka ikut menghujat si korban dari pada menghukum pelaku. That's a terrible fact that happens among our own society.

Advertisement

Dari pada julid dan ninggalin komentar yang gak sedap dipandang, kenapa gak nyoba untuk berempati aja? Instead of leaving mean comments, it'd be better to tell the victims to stay strong. Kalo gak bisa, lebih baik gak ninggalin komentar sekalian aja. Emang enak ya jadi penjahat di balik layar komputer/HP/tablet kalian?

Yuk ah, install bareng yang namanya empati ini. Biar kalo ada kasus sexual harassment lagi, kita bisa lebih bijak dalam menanggapi kasus itu. Bukan cuma dari cowok ke cewek tapi antar sesama cewek juga, karena dari komentar beberapa media online dan sosial media, cewek justru lebih jahat dan perkatannya lebih nyakitin hati. Like, come on, it's 2018 already, there is no need to judge things based on people's looks.

I really hope this post will help you see things from a different perspektif.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya