Jika kamu jodohku, apa kau mau menemaniku saat susah dan senangku?

Jika kamu jodohku, apa kamu mau mencintaiku walau nanti aku tak secantik hari ini saat kita mulai bertemu?

Jika pun aku jodohmu apa kau masih inginkan aku untuk terus menjagamu walau dalam keadaan tangis dan rindu yang kadang sering mencuri waktu?


Aku tahu, jodoh itu sulit di tebak, tapi kita tidak saling tebak-tebakan, bukan? Kita tidak saling bergurau, bukan? Jika pun kau bergurau, bukan lelucon yang aku inginkan, tapi keseriusan yang aku sanggahkan untuk tetap ku kecup pada kening hatimu yang kosong dan biarkan aku isi dengan ketulusanku untuk memulainya.

Aku tak inginkan candamu, aku inginkan kau tetap menjadi apa yang aku harap dan kau datang dengan keluargamu hingga mengetuk pintu rumahku, mengetuk pintu hati orangtuaku lalu mengetuk pintu hatiku. Kemudian terakhir kau boleh mengetuk pintu kamarku, itu jika sudah dihalalkan ya.

Advertisement

Jangan kau bermain dengan kata serius, apalagi komitmen untuk tak lagi bermain-main akan sebuah pilihan, wanita itu mudah mengingat sedangkan pria mudah melupakan. Ups… maaf jika aku salah. Wanita selalu mengingat apa yang pria katakan. Wanita mudah mengingat apa yang pernah menyakitkan dan mudah melupakan apa yang pernah ia sakiti. Jika pernyataanku salah… maaf!

Aku bermaksud baik untuk membuka hati padamu, namun jangan permainkan pembukaan ini, ini baru ku buka satu pintu jangan berharap lebih. Jika aku membuka dua sampai tiga pintu hatiku hingga lebih dalam lagi, kau mungkin sudah mulai boleh masuk, kemudian kau boleh tahu isi hatiku. Masih ada masa lalu atau tidak? Jika masih ada, maklumi saja, mungkin hatiku butuh proses untuk melepaskan, jika sudah tidak ada masa lalu di hati dan ingatanku, berarti saatnya kau merdeka dengan berbagai cara untuk masuk lebih leluasa dan merayu lebih romantis akan suasana.

Cinta adalah pilihan, namun aku juga adalah pilihanmu. Jadikan aku pilihan terakhir untuk kau perkenalkan pada keluargamu, untuk kau ciptakan cinta pada keluargamu. Aku tak merayumu, aku hanya mengatakan, jika aku jodohmu apa yang akan kau lakukan?

Pantaskah aku diberi nafkah lahir bathin olehmu? Jika pantas lanjutkan, jika tak pantas hentikan. Terkadang bukannya aku sombong apalagi membanggakan diriku, aku hanya sebenih wanita yang pernah terluka walau hanya sedikit sakit namun pengingat yang terlalu dalam. Jangan remehkan ini akan menjadi dangkal pada esok. Ini bukan mainan, apalagi sentuhan sesaat, ini luka yang tak mudah mencair saat meminta maaf, yang tak akan mudah hilang saat waktu berbulan-bulan. Jangan remehkan hal itu, apalagi merendahkan, menyepelekan, apapun itu meski hanya di sudut bibir.

Cintai aku seutuhnya, seperti cinta yang bukan dalam hal bermain yoyo seakan kau menarik ulur hatiku dengan benang. Seakan kau mencintai aku dengan sungguh-sungguh sekarang dan esok kau ulur hingga menghilang. Memang tak mudah mendapatkan cinta sejati, bahkan harus berkali-kali patah, bahkan harus berkali-kali hancur kemudian bangkit lagi, menyambungkan patahan lagi, kemudian datang lagi, retak lagi hatiku, bahkan kau singgahi lagi untuk diobati. Sudah retak malah dirobohkan, bahkan beberapa kali untuk terlalu sakit dan terluka sampai sulit lagi untuk sembuh dan pulih kembali, jangan seperti itu sayang, ku mohon jangan.

Datangi aku dengan senyuman yang tak pernah kau berikan pada wanita lain selain aku saja, selain cinta untukku saja, dan selain romantisnya untukku saja. Aku percaya kamu, jika bukti pun sudah kau tunjukkan, bahkan rindu pun sudah kau inginkan, nyamankah kau denganku? Jika iya biarkan kita lanjutkan pada setitik sajak untuk tetap bersatu.

Jika pun kau adalah pilihan, mungkin bukan aku yang memilih, namun doa-doa kita yang dipersatukan Tuhan. Jika pun aku bukan pilihanmu mungkin bukan aku yang terlanjur ingin dipilih, namun kau yang menemukan pilihanmu padaku.