Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Proses yang panjang itu ternyata tak terjadi, pertama kali mengenalmu, aku tahu suatu saat nanti kita bisa berada di status yang lebih spesial. Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat.

Aku sudah berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Sayangnya, semua hal itu seakan tak kau gubris. Kamu lebih senang memendam, dan enggan bertindak banyak. Kamu lebih senang menunggu. Benarkah kamu memang menunggu? Apalagi yang kautunggu jika kausudah tahu bahwa aku mencintaimu?

Kamu tak mungkin kautak memahami perjuangan yang kulakukan untukmu. Kamu ingin tahu rasanya seperti aku? Dari awal, ketika kita pertama kali berkenalan, aku berharap bisa menjadi salah satu sebab kau tersenyum setiap hari, tapi ternyata harapku terlalu tinggi.

Ini semua terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidakjelasan, tiba-tiba semua berubah. Aku yang terbiasa dengan sapaanmu di pesan singkat harus (terpaksa) ikhlas tapi sekarang tidak lagi. Aku berusaha memahami itu. Setiap hari. Setiap waktu. Jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi.

Semua ini akan menjadi pelajaran buat aku,, Terima kasih untuk semuanya…