Saya termasuk orang yang hobi menonton. Mulai dari film-film Hollywood dengan efek komputernya, drama korea yang penuh dengan kebaperannya, maupun anime yang begitu banyak jenisnya. Selain sebagai sebuah pelepas penat di kala menjalani rutinas keseharian, menonton bagi saya merupakan tempat pembelajaran. Ada banyak makna yang tersirat dalam setiap jalan ceritanya. Mau tahu tentang arti kesetiaan, tenang saja ada film Hachiko, ya meski dia anjing namun sifatnya yang patut ditiru. Mau tahu tentang beratnya perjuangan hidup, bisa saja nonton Pursuit of Happiness. Mau yang asyik asyik rame, silahkan saja nonton film-film superhero yang lagi booming sekarang. Banyak pokoknya jenis genre yang bisa dipilih dan sesuai dengan apa yang ingin kita gali maknanya.

Makin kesini saya semakin mulai mempertanyakan tentang apa yang didapat dari menonton berbagai film. Bukan penyesalan, ini adalah sebuah tanda tanya yang mungkin sedang menggerogoti otak saya. Ada kesadaran yang kian lama akhirnya muncul. Dalam urusan memilih suatu film, biasanya saya akan mengutamakan suatu rating dari film tersebut. Sebagai patokan bagus atau tidaknya film itu. Meski memang tak semua dapat ditentukan dengan angka rating, namun salah satu meraba permukaan jalan cerita suatu film adalah dengan melihat rating, khususnya dalam kasus yang saya alami.

Advertisement

Lalu beranjak dari itu, maka sinopsis selanjutnya akan saya baca kemudiannya. Hingga akhirnya menemukan apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan oleh sang film. Barulah saya tonton film tersebut. Bagusnya, terkadang ada beberapa pesan moral yang didapatkan dari setiap film. Kadang pula hanya menjadi bahan hiburan semata bagi penontonnya.

Seperti yang saya jelaskan, ada berbagai pelajaran yang dapat diambil. Namun kadang ironisnya, film hanyalah sebuah film. Benar kadang pesan itu tersampaikan dengan manisnya kepada penonton, penonton pun paham apa yang dimaksudnya. Harapan menjadi pembelajaran bagi penonton untuk jalani hidupnya, kadang pesan tersebut hanya berlaku tak lama sesudah film usai. Makna dapat, mungkin ada yang menerapkan mungkin adapula yang melupakan. Saya pun juga termasuk orang yang sering lupa dengan pesan pada film yang pernah saya tonton. Awalnya mungkin kena dihati, lambat laun hilang terlupakan.

Tontonan selayaknya memang menjadi tuntunan. Namun film dan sejenisnya kadang hanya menjadi hiburan semata. Menjadi cheerleader untuk penonton yang lagi patah semangatnya ataupun teman di kala waktu kosong menganga. Mungkin saya ataupun kalian pernah memilih suatu film dengan pertimbangan yaitu sesuai dengan keadaanya yang dialami saat itu. Ada yang sedang jatuh cinta mungkin memilih menonton drama atau film yang menceritakan romantisme. Ada yang lagi sedih mungkin memilih film yang dapat memotivasi atau bahkan film yang bertemakan patah hati. Jadinya film dipilih sesuai dengan mood penonton.

Advertisement

Entah apa yang terkandung didalamnya, tapi yang penting sesuai dan klop dengan apa yang dirasakan, bukan masalah. Pernah nggak kalau lagi nonton bilang "gue banget nih karakternya" atau bilang " pas banget dengan apa yang gue alamin". Ya nyatanya ada momen di mana film menjadi adaptasi kasar dari hidup yang sedang kita jalani. Mungkin ada yang sama dengan nasibnya seperti bawang putih yang sering disiksa, ada yang merasa sedang kehilangan seorang yang dicintai seperti Otonashi dalam anime Angel Beats, dan berbagai macam cerita lainnya.

Kenapa bisa demikian? kadang film dapat menjadi 'teman' yang mengerti apa yang kita rasakan di saat benak kita menganggap semua orang di dunia tak ada yang mengerti kita, kadang film menjadi 'teman seperjuangan' yang seolah mengatakan ''hei kawan, elo gak sendiri, gue juga merasakan apa yang elo alami''' dan akhirnya kita menjadi sedikit terobati dengan adanya film tersebut.

Saya pun demikian, kadang memilih film sesuai dengan kondisi hati. Jarang-jarang ada orang yang lagi patah hati berani mencoba menonton film tentang indahnya cinta, jangankan nonton, dengar kata 'cinta' saja sudah bikin mual. Begitulah adanya, entah saya saja atau kalian juga merasakannya. Apa yang ditonton, terlepas dari ikut-ikutan tren pasaran, memilih film yang ditonton khususnya di kala sendiri kadang mencerminkan kondisi hati sang penonton atau keadaan yang sedang dialami.

Entah pesan dalam film dapat dipahami atau tidak, nyatanya ada sesuatu dalam diri para penonton "film addicted" yang mungkin ingin juga dipahami. Ya, paling tidak kita tak sendirian yang mengalami.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya