Beberapa hari yang lalu, Saya dalam perjalanan pulang dengan kereta, seorang pria berkata sambil mengarahkan pandangan ke saya, ketika mengatur posisi duduknya di perjalanan dengan kereta kelas ekonomi sore itu.

Beberapa detik kemudian, bau keringat pria itu menyergap hidung saya, seolah menjadi penanda sebagian jati dirinya. Ia nampak kebingungan mengatur barang bawaannya. Kebingungan yang juga mengambarkan seseorang yang udik.

Advertisement

Saya pun membantu untuk menatanya. Sambil tersenyum dan bertanya pada orang itu.

” Mau pulang ke mana?”

Ambulu, Jember, Watu ulo, tahu?” jawab pria itu menyodorkan beberapa jawaban, sepertinya dengan harapan saya mengenal salah satu diantaranya.

Advertisement

“Ya, saya pernah ke Watu ulo beberapa kali,” jawab saya.

Percakapan awal itu ternyata adalah sebuah pintu menuju masa lalu, ternyata keramahan dan kepedulian sederhana bisa jadi kunci pembuka kehidupan seseorang.

“Dua tahun sudah saya kerja di Port Klang. Kini saya mau pulang. Sudah lama tak jumpa anak-anak. Kangen,”

ringkasan kata-kata yang memberikan deskripsi identitas secara jelas.

“Bapak akan kembali ke Malaysia untuk bekerja lagi?” Ia dengan tangkas menjawab,

”Iya, tentu. Kalau saya kerja di sana, setiap bulan saya bisa mengirim sekitar dua juta rupiah untuk anak-anak sekolah. Kalau saya kerja di Indonesia, tak mungkinlah saya bisa sekolahkan anak-anak. Apalagi anak-anak sekarang sudah mau SMP dan SMA.”

Ketika mendengarkan ceritanya, saya tiba-tiba tersadar, ada yang tak pernah ia sebutkan dalam jawaban-jawabannya. Ia bercerita tentang pekerjaannya, anak-anaknya, tapi mengapa tak pernah tentang istrinya? Tentang ibu dari dua anaknya?

“Anak-anak Bapak tinggal dengan ibunya di Ambulu?” Pria itu terdiam, tak langsung menjawab seperti sebelumnya.

Ia mengalihkan pandangan ke arah jendela kecil di kereta itu. Tak ada jawaban. Tiba tiba kereta terhenti disebuah stasiun dan kebisingan pun terjadi lalu lalang orang naik dan turun, setelah beberapa saat kereta kita mulai melaju, ia memberikan jawaban yang tertunda,

” Tiga belas tahun lalu, waktu anak kedua saya berumur 3 bulan, istri saya berangkat untuk bekerja di Malaysia. Saya tidak setuju, tapi kami sangat butuh uang banyak. Apa boleh buat, pekerjaan saya juga tak jelas. Selama tiga tahun, ia selalu kirim uang untuk saya dan anak-anak,” tuturnya sambil tersenyum.

“Oh, jadi sekarang bapak menyusul istri untuk bekerja di Malaysia demi masa depan anak-anak,” saya lontarkan dugaan saya.

“Ya, pak. Saya bekerja untuk masa depan anak-anak. Tapi, saya tak menyusul istri saya,” jawabnya dengan nada bergetar.

Saya merasa ada sesuatu di balik getaran suaranya.

“Setelah tiga tahun, istri saya tidak lagi mengirim uang untuk saya dan anak-anak. Saya menulis surat, tetapi tak pernah ada jawaban. Saya bahkan menelpon tempatnya bekerja, tetapi juga tak ada lagi istri saya di sana. Akhirnya, setelah lima tahun ada teman sekampung yang pulang dari Malaysia membawa kabar kalau istri saya menikah lagi dengan orang India,” Tuturnya dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Tak tega melihatnya meneteskan air mata, saya segera menyahut,

Maaf pak, saya merasa tidak enak hati karena telah menanyakan hal ini.”

“Tidak apa-apa. Toh, peristiwa itu sudah terjadi."

"Tak mudah menerimanya. Saya sempat mabuk-mabukan dan main perempuan karena sakit hati. Bertahun-tahun saya tidak bekerja, dan hidup hanya dari menjual barang-barang yang ada di rumah. Anak-anak tak saya urus lagi, karena tiap melihat mereka saya teringat ibunya. Hancur hidup saya”. Tuturnya dengan nada agak keras, sehingga mengundang beberapa penumpang kereta mengarahkan pandangan pada kami.

Saya menaruh telunjuk saya di bibir agar pria itu tak berbicara dengan volume yang keras. Seperti tersadar, ia nampak malu ketika menengok kiri dan kanan. Dengan suara yang lebih pelan, pria itu melanjutnya kisahnya,

” Saya tak pernah menyangka istri saya tega berkhianat dan meninggalkan saya. Sampai suatu saat saya dapat nomor handphonenya. Saya telpon beberapa kali tak pernah dijawab, akhirnya saya kirim sms untuk bertanya mengapa ia tega menikah lagi?" Hanya satu jawaban dari istri saya. Saya masih ingat jawabannya : ‘ saya ingin hidup yang lebih baik.’ ya hidup yang lebih baik."

Jawaban yang terdengar klise, namun tentu saja sangat menyakitkan bagi pria ini.

"Setelah bertahun-tahun hidup tak karuan, saya baru sadar. Istri saya pasti sudah punya hidup yang lebih baik. Lha kok, hidup saya malah jadi lebih buruk. Tak punya uang, anak-anak tak terurus. Akhirnya, saya mantapkan hati. Saya harus ikhlas. Saya ikhlaskan istri menikah lagi,” tuturnya tegar.

Saya terdiam mendengar rangkaian kata-katanya. Tak sepenuhnya bisa saya mengerti bagaimana ia bisa mencapai titik ikhlas itu.

“Saya pergi bekerja di Malaysia agar hidup saya lebih baik dan punya uang untuk sekolah anak-anak. Dua tahun ini, anak-anak gembira karena saya bekerja walau di negeri orang. Saya gembira karena punya uang untuk membayar sekolah anak-anak,” tuturnya mantap.

“Apakah selama di Malaysia, Bapak tidak ingin bertemu dengan istri?” tanya saya.

“Tidak, Pak. Saya tidak ingin menganggu rumah tangga orang lain. Saya ikhlas. Semoga istri saya dapat hidup yang lebih baik. Hidup saya dan anak-anak juga lebih baik sekarang,” jawabnya sambil tersenyum.

Kembali, ia mengarahkan padangannya ke jendela, sambil berbisik,” Kalau kita ikhlas, hidup lebih enteng, Pak. Kalau hidup lebih enteng, kerja pun jadi semangat. ”

Keikhlasan tak mengubah masa lalu, namun ia pasti meringankan langkah menuju masa depan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya