Damai…

Damai itu bukan berarti hidup kita tanpa aral melintang, tanpa batu kerikil yang menyakitkan, bukan juga hidup dengan banyaknya pujian dari orang lain, tak ada yang membenci.

Damai itu adalah ketika hidup kita mempunyai banyak masalah, namun masih bisa tersenyum menghadapinya.

Damai itu adalah ketika kita tahu ada yang membenci kita, namun kita memilih untuk memaafkannya dan tidak balik membencinya, bahkan memilih berbuat baik kepadanya.

Damai itu adalah ketika kita tahu ada orang yang menjelek-jelekan nama kita di hadapan dunia, namun alih-alih menjelaskan kepada dunia apa yang sebenarnya, kita lebih memilih membiarkan dunia lambat laun mengetahuinya sendiri melalui perbuatan baik kita.

Advertisement

Damai itu adalah ketika kita bisa saja mencampuri urusan hidup orang lain, namun tak melakukan itu dan memilih sibuk dengan urusan hidup kita sendiri, menolong apabila dibutuhkan.

Damai itu adalah ketika kita berhenti mengharapkan sesuatu yang tak pasti dari kefanaan dan memulai menyerahkan semua harapan yang ada ke Sang Maha Kekal.

Damai itu adalah ketika kita berhenti ingin mengetahui banyak hal yang sebenarnya tak penting untuk kita ketahui atau bahkan tidak seharusnya kita tahu.

Damai itu adalah ketika kita berhenti ingin membuktikan ke orang lain, apapun itu yang ingin kita buktikan. Untuk apa?

Damai itu adalah ketika kita menjadi diri kita sendiri tanpa peduli dengan perkataan orang lain yang hanya ingin menjatuhkan dan lebih peduli pada orang yang tulus menyayangi.

Masih banyak lagi sebenarnya, percayalah, kedamaian itu begitu dekat apabila kita mau bertanya kepada diri kita sendiri, sering-sering bermusahabah diri, tingkatkan kebaikan, minimalisir keburukan.

Ada beberapa tips dari saya untuk bisa lebih berdamai dengan keadaan, dengan diri sendiri, beberapa memang telah saya lakukan dan beberapa masih ada yang saya coba terapkan di kehidupan saya sendiri:

Jika kesedihan melanda, daripada kita sibuk mengeluh di sosial media, kenapa kita tak mengambil sajadah dan menceritakan semuanya pada yang Maha Mendengar saja? Jika merasa kita perlu masukan, kenapa tak coba kita tanyakan pada orang tua atau orang terdekat kita saja?

Ketika ada momen indah yang kita alami, daripada sibuk mengabadikan untuk kemudian dibagikan ke sosial media, kenapa kita tak coba menikmati saja semua momen indah itu dan mengabadikan secukupnya untuk dokumen pribadi?

Ketika kita ingin mengetahui tentang seseorang, daripada sibuk mencari-cari, mengotak-atik, kepo-mengepo tentang orang itu, kenapa kita tidak melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat saja? Menulis atau membaca misalnya?

Ketika kita ingin mencampuri urusan orang lain, kenapa kita tidak melist urusan kita sendiri yang harus kita selesaikan? Ketika kita ingin mengomentari orang lain, kenapa kita tidak melist kekurangan pribadi kita yang harus kita perbaiki?

Ketika kita tahu ada yang tidak menyukai kita atau bahkan membenci kita, alih-alih kita membenci balik orang tersebut, kenapa kita tak coba memaafkannya saja? Dan mendoakan yang terbaik untuknya?

Sering-sering musahabah, cari tahu potensi apa yang kita miliki dan bagaimana cara mengembangkannya, cari tahu kekurangan yang kita punya dan bagaimana cara meminimalisirnya.

Dan masih banyak lagi yang bisa disimpulkan sendiri dari definisi damai yang saya tuliskan tadi.

Sekarang tinggal kita sendiri yang bisa memilih, apakah kita ingin damai atau tidak? Jika ingin damai, mulailah hal-hal yang bisa membuat damai, jika diantara saran saya tak ada yang cocok, cobalah membuat list anda sendiri, arti damai menurut anda sendiri.